Transformasi Digital: Ikuti atau Tertinggal

Keberadaan internet menjadi tonggak kejayaan teknologi digital yang tak lagi menjadi pilihan tapi menjadi keharusan dalam kehidupan sehari-hari, baik untuk kepentingan individu maupun bisnis. Maka gelombang transformasi digital pun tak bisa dihindari.

Jika kita membicarakan perkembangan teknologi digital, berarti kita harus bicara keberadaan internet. Survey hasil kerja sama Survey Pusat Kajian Komunikasi (PUSKAKOM) UI dengan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) pada awal 2015 mencatat pengguna internet di Indonesia sudah mencapai angka 88,1 juta.

Hasil penelitian itu juga menunjukkan bahwa 85% dari jumlah pengguna internet di Indonesia menggunakan smartphone saat berselancar di dunia maya. Perangkat kedua yang paling sering digunakan adalah Laptop (32%), disusul PC/Komputer (14%), dan terakhir Tablet PC (13%). Kebanyakan orang mengakses internet dari rumah dan rata-rata waktu penggunaan 1 hingga 3 jam per harinya.

Cukup mengagetkan memang, tablet PC yang sempet digadang-gadang akan menjelma menjadi penganti desktop PC maupun laptop, ternyata justru mengalami penurunan dari tahun ke tahunnnya. Apa pasal? Karena tak bisa dihindari keberadaan smartphone dengan kelengkapan fiturnya menjadi gadget yang menggerus keberadaan tablet PC.

Patut disimak pula bahwa ternyata aktifitas berinternet di Indonesia masih didominasi penggunaan media sosial, menyusul searching atau browsing dan instant messaging seperti chatting yang masih berada di atas aktifitas pencarian berita dan emailing.

Pergerakan penggunaan internet ini disinyalir sebagai salah satu bentuk transformasi digital yang pada peinsipnya merupakan perubahan yang terkait dengan penerapan teknologi digital dalam semua aspek masyarakat. Tak pelak, dari kegiatan bersifat personal seperti komunikasi antar individu atau kelompok hingga bisnis seperti jual beli barang baru maupun bekas secara merata sudah “terkontaminasi” oleh keberadaan internet, dan sepertinya tidak mungkin harus kembali lagi ke era sebelumnya yang serba offline.

Howard Schultz, Chairman and CEO Starbucks pernah mengutarakan, “Media digital itu seperti kereta peluru. Dan kereta peluru takkan pernah pulang ke rumah.”

(Tulisan ini juga dimuat di maleindonesia.com)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *