Karakter Konsumen Indonesia dan Pengaruhnya

Dalam rangka memperluas wawasan, desainer grafis khususnya dan pekerja bidang kreatif lain pada umumnya, mempelajari ilmu marketing sudah menjadi kewajiban saat ini (baca juga: Desainer Grafis Wajib Belajar Marketing). Tak terkecuali di dalamnya adalah memplejari bagaimana karakter konsumen menjadi sangat berpengaruh dalam pemasaran hingga ke implementasi materi-materi marketing tools. Selera hingga perilaku sehari-hari dalam menyikapi tren, ataupun bagaimana konsumen lebih menyukai merk-merk tertentu hanyalah permukaan yang terlihat.

Karakter Konsumen

Di Indonesia sendiri perilaku konsumen punya keunikan. Cara mereka bercengkrama dengan kondisi pasar juga punya karakter berbeda dengan di negara-negara lain. Berikut beberapa hal yang bisa terungkap dari karakter konsumen Indonesia.

  • Berpikir Jangka Pendek dan Tak Terencana
    Dapat dilihat begitu maraknya kredit konsumsi yang biasanya didorong oleh pengaturan keuangan rumah tangga yang dianggap tidak memadai. Kecenderungan mendapatkan barang dengan cepat dan melihat kebutuhan jangka pendek adalah kebiasaan yang tak asing lagi. Biasanya hal ini juga sering dipicu oleh penurunan daya beli masyarakat akibat dari kondisi ekonomi makro. Dan uniknya lagi, konsumen di sini juga punya kecenderungan membeli sesuatu dalam bentuk kemasan-kemasan kecil walaupun punya kemampuan membeli yang lebih besar, bahkan ketika barang yang dibeli tersebut sudah terbukti tidak punya ketahanan yang baik. Kurang merencanakan suatu hal dari jauh hari juga jadi kebiasaan yang lekat pada karakter konsumen di Indonesia. Kecenderungan berprilaku langsung beli di tempat dan membeli saat mendekati batas waktu yang sudah disediakan, justru yang sering dipraktikkan. Antri bayar listrik, PAM, telepon dan lainnya jadi contoh. Untung saja dengan kemajuan teknologi, sebagiandari masyarakat sudah memilih membayarnya via online.
  • Melihat Tampilan Luar
    Dapat dengan mudah dilihat dalam keseharian, bahwa masayrakat kita lebih sering menilai atau memilih sesutu dengan hanya dari tampilan luarnya. Soal acara televisi misalnya. Pemirsa lebih suka menyimak acara-acara dengan kadar menghibur, ringan, mudah dicerna. Tengok saja, betapa membanjirnya penonton acara infotainmen, komedi, olah raga atau berita kriminal. Hal tersebut menjadikan konsumen sangat mudah dipengaruhi oleh informasi-informasi di media tanpa punya keinginan untuk mencari kebenerannya. Dan hal ini terlihat begitu dominan di ranah media sosial. Dimana banyak pihak yang menyampaikan berita-berita bohong yang justru menrik bagi publik untuk membagikan ulang kepada orang lain. Karakter konsumen masyarakat kita inilah juga menjadi salah satu pendorong pemilihan media sosial sebagai medium utama berpromosi.
  • Suka Berkumpul
    Masyarakat Indonesia sudah masyhur dengan kehidupan sosialnya yang kuat. Otomatis kebiasaan berkumpul sudah sangat melekat bahkan menjadi budaya dan menjadi karakter konsumen. Dari kebiasaan inilah maka kita bisa melongok betapa tumbuh suburnya lokasi-lokasi yang biasa dijadikan tempat arisan, dugem, nongkrong hingga sekadar tempat untuk berolahraga bersama seperti gymnastic dan sport hall. Masyarakat begitu mahir menreka momen-momen dimana mereka bisa berkumpul bersama. Baik untuk perayaan-perayaan ataupun sekadar kangen-kangenan, semua seakan berjalan seiring dengan tingginya tingkat konsumsi atau belanja.
  • Gagap Teknologi
    Bisa dikatakan bahwa masih sangat banyak konsumen di tanah air yang gagap teknologi, terutama bidang IT. Coba lihat, pengguna smartphone termahal pun ada di Indonesia. Tapi untuk menjalankannya secara maksimal semu keunggulan-keunggulan yang terkandung di dalamnya tak banyak yang paham. Belum lagi bicara internet, dimana sekarang sudah menjadi bagian utama dari kehidupa sehari-hari. Masih banyak penggunanya hanya dipakai untuk bermain media sosial. Inilah yang justru makin banyak dimanfaatkan oleh distributor maupun produsen untuk menggenjot promosi dengan unsur utama tampilan visual.
  • Memelihara Gengsi
    Budaya feodal tak dibisa dimungkiri kekentalannya di Indonesia. Adanya kelas-kelas sosial adalah salah satu bentuknya. Dari sinilah salah satu sikap gengsi itu timbul. Selain itu, kegemaran bersosialisasi dan kebiasaan mengukur tingkat sukses seseorang dari materi ataupu jabatan dan pekerjaan turut berandil dalam memupuk sikap gengsi di masyarakt kita. Kondisi ini juga mengakibatkan adanya sikap lebih suka membeli produk luar negeri daripada dalam negeri. Keberadaan produsen dalam negeri yang tidak sedikit dalam keunggulan kualitas produk, tidak begitu mempengaruhi sifat lebih percaya produk asal luar negeri. Presepsi bahwa produl luar negeri lebih baik, berkualias dan bergengsi sulit terlepas. Bahkan sikap ini menghasilkan perilaku pembelian barang yang belum benar-benar dibutuhkan hanya demi menaikkan gengsi ataupun modern.
  • Kuat Unsur Religi dan Etnis
    Seringgkali isu menyangkut agama mudah menggoyang perilakun konsumen kita. Soal haram contohnya, hal ini selalu menjadi pertimbangan pertama bagi konsumen muslim dalam belanja makanan dan minuman. Dan hal ini juga kerap dimanfaatkan produk-produk tertentu untuk mengarahkan opini publik terhadap kehalalan produk melalui pesan iklan yang menampilakn tokoh agama. Fanatisme etnis pun juga masih banyak berpengaruh. Tercermin dari persepsi publik tentang sesuatu yang berasal dari daerah tertentu dapat mengakibatkan sebuah produk tidak bisa menjankau pasar nasional. Hal ini biasanya lebih sering terlihat di bidang produk makanan yang terkotak-kotak oleh selera rasa.**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *