Tantangan Industri Cetak Menghadapi Agresifitas Digitalisasi

Kehadiran teknologi digital menjadi tantangan industri cetak. Dengan berbagai keunggulannya tak bisa dimungkiri telah banyak mempengaruhi makin lambatnya laju industri cetak. Penurunan omset tak bisa dihindari. Lahirnya produk-produk baru berplatform digital membuat keberadaan produk cetak harus merancang ulang cara-cara menjalankan bisnis jika tak mau tenggelam. Seperti diketahui industri cetak yang dipimpin oleh perusahaan-perusahaan cetak besar memang sempat menjadi raja sejak makin diperlonggarnya ijin penerbitan media.

tantangan industri cetak

freeimages.com/ilker

Tapi kini, perubahan sedang terjadi sangat massive. Transformasi digital tak kenal kompromi sangat lugas mengambil celah-celah bisnis untuk mengakuisisi cara-car konvensional yang sudah lama berjalan. Apakah kondisi ini merupakan proses dari “The Death of Printing Industry”? Bisa ya, bisa tidak. Melihat yang terjadi di Indonesia saja, di beberapa sisi keberadaan produk berbasis cetak masih banyak ditemui. Dari media massa seperti koran, majalah, buletin, newsletter hingga buku. Memang tak ada yang bisa menutupi, bahwa kuantitas produksinya sudah banyak berkurang. Terutama untuk produk-produk yang menyasar pasar generasi melek digital, yang sering disebut “Generasi Y” dan ini juga menjadi tantangan industri cetak.

Betapa tidak, “Generasi Y” ini lebih mengakrabi gadget yang selalu dalam genggaman. Hampir semua kebutuhan komunikasi sudah diakomodir oleh benda digital itu. Baca berita, berkirim email, bergaul di media sosial, chatting, hingga menonton video streaming dan menyimak siaran televisi termasuk belanja. Sedangkan media cetak bisa dikatakan hanya dapat melepaskan dahaga publik dari segi informasi yang terkandung dalam bentuk cetak yang ada di tangan, dan itupun dipukul rata untuk bisa melayani berbagai kalangan dan harus menunggu waktu-waktu tertentu di masa terbit. Beda dengan media berplatform digital yang sangat tangkas melayani kebutuhan yang bebeda-beda pada setiap individu.

Kondisi ini juga bisa kita longok dari sisi biaya untuk mendapatkan informasi. Bayangkan, untuk berlangganan satu koran nasional terbesar di tanah air, pembaca harus mengeluarkan kurang lebih hampir RP.100.000,- per bulan. Sedangkan dengan berlangganan internet bernilai rupiah sama, seseorang sudah dapat keleluasaan mencari berita di berrbagai media online, menyaksikan live steraming berita maupun hiburan, membagi-bagi tautan, berkomunikasi antar individu maupun kolektif, dan dalam keceptan yang jauh lebih mumpuni atau bahkan real time selama sebulan penuh!

Lalu apa yang bisa diperbuat pelakunya dalam menghadapi tantangan industri cetak? Di luar urusan produksi media massa, masih banyak yang mempunyai ketergantungan tinggi terhadap proses cetak mencetak. Kemasan contohnya, hampir semua produk retail yang dijual di warung hingga hyper market semua membutuhkan kemasan. Kemudian offline promo, dimana kebutuhan terhadap spanduk, banner, hingga poster masih terbilang tinggi seiring makin banyaknya penyelenggaraan acara off air. Walaupun sedikit banyak beberapa kegiatan promosi ataupun sosialisai mulai tergiring ke arah penggunaan sosial media yang lebih cepat, lebih massive, dan lebih murah tentunya. Kemudian dekorasi yang banyak berhubungan dengan interior pun masih sangat banyak yang menggunakan keunggulan teknologi printing.

press print

freeimages.com/Lucas-G

Tapi ada beberapa tantangan bagi para pelaku industri cetak agar setidak-tidaknya dapat mengimbangi laju agresif teknologi digital. Bagaimana? jelas jawaban pertama adalah ikut membenamkan diri dalam kemajuan teknologi yang sedang berlangsung. Ikut men-digital kan proses-proses yang dijalani produksi cetak adalah keharusan yang tak dapat lagi ditawar. Begitu pula dengan prinsip-prinsip yang terkandung di dalamnya, seperti: kecepatan, ketepatan, dan dapat memutus mata rantai yang terlalu panjang dalam proses produksi cetak.

Pelayanan cetak digital yang sudah marak sejak lebih dari 10 tahun lalu nampaknya masih harus disempurnakan. Ketersediaan jaringan intenet sudah bukan pilihan, tapi keutaman. Kecekatan melayani customer tanpa harus tatap muka mejadi tantangan yang perlu dihadapi. One stop service baik untuk jasa print on demand maupun high quantity production tak ada lagi perbedaan. Standar pelayanan produksi wajib mengacu pada digitalisasi. Termasuk yang sudah lama berkembang, adanya sistem FTP (File to Plate) untuk produksi cetak massal kini harus diarahkan kepada FTP 2.0 (File to Print) ynag sudah lumrah dilakukan dalam produksi print on demand atau pada digital printing services yang pastinya sedikit banyak akan memangkas production cost.

Supervisi yang minim dari pemilik produk yang dicetak (customer/publisher) harus terus ditekan menjadi makin minim. Tantangan industri cetak yang juga harus dihadapi adalah dari pengiriman big file hingga koreksi dan masuk pra produksi tak layak lagi menjadi proses yang bertele-tele. Saat customer hadir di area percetakan, full service bagi kebutuhan kerja yang berhubungan dengan produksi berjalan maupun pekerjaan di luar yang harus diselesaikan, sudah selayaknya tak menjadi masalah. Keberadaan teknologi informasi yang bisa dikatakan sudah sangat maju harus dimanfaatkan. Perusahaan-perusahaan cetak harus sudah bertransforamsi menjalankan internet customer services and relations. Semua proses didorong untuk diselesaikan dahulu melaui cara online lalu jika ada yang diharuskan bertemu offline seperti acc proof print, barulah dilakukan dengan catatan seefesien dan seefektif mungkin.

Nah, secara garis besar agar industri cetak masih punya kesempatan untuk bertahan diantara perkembangan teknologi digital yang super cepat adalah diawali dari pencapaian efektifitas dan efesiensi proses produksi. Mengapa? Karena dari sini masih banyak mata rantai yang harus dijalani. Dari pengepakan, distribusi, pengiriman, pengambilan barang sisa, penggudangan, hinga penjualan kembali dengan memangkas nilai ekonominya. Bandingkan dengan produk digital di smartphone misalnya. Tengok saja media-media yang downloadable, semua terdistribusi dengan cepat, dan bagi penikmatnya jika sudah tak membutuhkan hanya tinggal dihapus dari storage. Atau yang berbasis website dan media sosial misalnya, dengan terhubung internet semua hanya dibuka dan baca sesuai dengan kebutuhan pribadi yang diinginkan tanpa harus mencari-cari ke toko retail, loper, agen ataupun toko buku, Semua hanya tinggal “klik”. Ya, perilaku publik sudah berubah, itulah tantangan industri cetak yang ada di depan mata!**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *