Era Media Sosial dan Perubahannya Bagi Desainer Grafis

Hadirnya era media sosial menjadi satu catatan sendiri bagi berkembangnya industri digital. Dengan kehadiran media sosial banyak cara-cara berbisnis dan berprilaku yang berubah. Tak terkecuali dalam bidang desain grafis yang juga menjadi bagian dari kegiatan marketing dan promosi.

era media sosial

pixabay.com

Hampir semua kegiatan publisitas dan promosi saat ini selalu dihubungkan ke media sosial. Di era media sosial ini, skala pencapaian audiens yang luas menjadi salah satu keistimewaannya. Belum lagi terbukanya dialog di antara produsen dan konsumen atau publik yang menjadi sasaran, sehingga produsen dapat menangkap dengan cepat apa yang diinginkan konsumen.

Lalu apa yang berubah dalam kaitannya dengan desain grafis? Jelas bahwa orientasi eksekusi desain sudah harus menyesuaikan dengan era media sosial  yang pastinya menuju pada perangkat-perangkat digital yang sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Dari smartphone, phablet hingga setidak-tidaknya laptop. Tidak lagi berorienrasi pada produk yang harus dicetak lalu disebarkan dengan cara konvensional.

Nah, berikut beberapa hal umum  yang sedikt banyak bisa dicermati dalam rangka melakukan eksekusi desain baik untuk kepentingan promosi maupun publisitas ataupun kepentingan hal-hal lain di era media sosial.

  • Pelajari dengan seksama ukuran beserta satuannya dari perangkat-perangkat digital yang banyak digunakan. Satuan pixel dan resolusi gambar yang tidak lagi harus memenuhi syarat dalam media cetak menjadi hal mendasar yang patut diketahui. Ukuran screen dari perangkat digital yang merupakan medium utama di era media sosial ini harus sudah dipahami, terutama perangkat-perangkat mobile.
  • Color mode dari hasil desain yang diperuntukkan media digital tidak sama dengan cetak. RGB adalah pilihan utama menggantikan CMYK.
  • Format-format file yang digunakan ke dalam media digital jelas berlaku juga untuk media sosial. JPEG dan PNG adalah format paling sering dipakai. Untuk gambar bergerak bisa menggunakan GIF atau Flash (format ini sudah berkembang dan digantikan bahasa baru web: HTML5)
  • Kalau sudah terbiasa melihat gambar high resolution dalam versi cetak, kini harus dibiasakan dalam versi digital yang jelas punya kepekatan pixel tidak seperti file cetak. Bisa jadi pada awalnya terlihat seperti file yang low res jika diperuntukkan ke cetak, tapi dalam format digital sudah sangat memenuhi syarat.
  • Biasakan mendesain untuk ukuran-ukuran layar perangkat mobile, yang artinya harus diperhitungkan keterbacaannya saat nanti hasil desain dilihat di perangkat-perangkat tersebut tanpa harus melakukan zooming.
  • Jika ada teks berhati-hatilah dengan faktor keterbacaan. Jangan sampai jenis huruf (fonts) yang digunakan hanya mementingkan unsur estetika tapi ternyata tidak mudah dibaca. Perlu diingat daya tahan mata terhadap cahaya yang dihasilkan perangakat elektronik tidak sebaik saat melihat hasil cetak.
  • Kebebasan memainkan warna di color mode RGB bukan berarti mengabaikan keharmonisan dan komposisi pewarnaan. Tetap sesuaikan warna dalam desain dengan estetika yang berlaku umum dan khususnya bagi sasaran komunikasi visual.
  • Pikirkanlah akan adanya potensi efek viral pada produk desain yang dihasilkan. Semakin berpotensi viral, maka peluang tercapainya tujuan dibuatnya sebuah desain di media sosial termasuk tujuan yang lebih luas dalam komunikasi visual menjadi lebih terbuka.
  • Mulailah belajar lebih dalam sekaligus menjajaki dunia digital dengan segala perniknya, termasuk faktor-faktor teknis yang ada di dalamnya.
  • Jangan pernah berhenti mempelajari hal-hal baru dalam kreatifitas dan skill yang banyak digunakan dalam era digital ini. Bentuk-bentuk sederhana dari web design, animasi, video editing, slideshow hingga interactive media sudah selayaknya menjadi “pelajaran” baru yang mengasyikkan dan tentunya sangat dibutuhkan dalam membuat produk-produk desain kreatif di era media sosial.

Selamat berkarya! **

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *