Generasi Digital, Sambut Kehadirannya, Bukan Dihindari

Kata digital bagi sebagian orang merupakan langkah maju dalam peradaban, bahkan juga melahirkan generasi digital. Tapi bagi sebagian yang lain, termasuk dalam sektor bisnis, digital dianggap sebagai badai yang memporakporandakan bangunan, terutama bagi mereka yang terlena dengan kejayaan masa lalu gaya berbisnis konvesional.

generasi digital

pixabay.com

Datangnya generasi digital mau tak mau mengubah banyak cara dalam menjalani keseharian, termasuk berbisnis tentunya. Kebiasaan-kebiasaan di masyarakat pada masa lalu banyak yang ditinggalkan. Salah satu yang terlihat adalah kebiasaan maupun cara-cara menerima, mendapatkan, menyimak, membaca dan menikmati informasi.

Media-media informasi konservatif (begitu kata mereka yang sudah melek digital), seperti koran, majalah, buku bahkan hingga radio dan tivi sudah tergeser oleh gawai yang simpel digenggam dan multi fungsi ataupun berbentuk desktop PC atau laptop dengan segala kelebihannya. Tentu kesemuanya menjadi mutlak terhubung dengan internet sebagai produk dasar dari meroketnya platform digital media. Soal internet, bayangkan saja, menjelang akhir 2016 dalam skala dunia tercatat 3 milyar lebih pengguna internet, 1 milyar lebih website yang terbangun dan dalam skala Indonesia tercatat 53 ribu lebih pengguna internet (sumber: internetlivestats.com).

Ya, digital media yang begitu akrab dengan internet menjadi primadona baru bagi generasi digital. TIdak hanya mereka yang tergolong sebagai digital native (generasi yang menikmati keberadaan media digital tanpa mengalami kebutuhan terhadap media konvensional), tapi juga para digital immigrant (mereka yang pernah berkebutuhan terhadap media konvensional dan sekarang beralih ke media digital).

Keunggulan media-media digital, termasuk media sosial yang datang sebagai pemain baru di industri media, memang terasa dalam menjalankan hampir semua sisi keseharian. Dari kebutuhan berita, tutorial masak-memasak, pengkajian ilmu agama, live tv, radio streaming, komunikasi suara dan antar muka, hingga transportasi. Kesemuanya walaupun keberadaan desktop PC ataupun laptop masih banyak dipakai dalam bekerja, bisa dikatakan hanya butuh gawai yang akrab digenggam tangan, tersambung internet, lalu berselancar melalui browser maupun menanamkan aplikasi-aplikasi yang sudah sangat beragam melayani segala kebutuhan.

Perilaku masayakat modern saat ini sudah sangat berubah. Ketergantungan terhadap perangkat-perangkat digital begitu tinggi. Aktivitas yang luar biasa sibuk dan lebih banyak bergerak ketimbang berleha-leha di kantor ataupun rumah, membuat mereka sangat terbantu dengan keberadaan perangkat media digital. Dimana saja, kapan saja, dengan sambungan internet yang kini terus berkembang teknologinya, kebutuhan aktivitas sehari-hari dapat mudah dan cepat terpenuhi.

Seorang direktur marketing senior di sebuah perusahan media pernah komplain kepada staff-nya karena tugas membuat paket penjualan iklan dianggap terlalu melayani generasi digital. “Saya masih kok suka baca majalah cetak dan lihat tivi di rumah. Jadi harusnya kalian tidak usah sok-sokan lebih banyak merekomendasi media digital segala,” tegasnya. Lalu apa jawab staff-nya? “Loh, kita memang membuat program pemasaran ini dengan melihat kecenderungan kebiasaan-kebiasaan di khalayak umum yang sudah berubah. Kalau kita kembali lagi ke masa yang sedang dan sudah ditingalkan, lalu lama-lama kita pun akan ikut ditinggalkan, Kita tidak selayaknya memendang selera maupun kebiasaan pasar dari sisi diri kita sendiri.” jelas staff itu.

Tengoklah perilaku para remaja usia pendidikan yang sudah fasih menghasilkan uang hanya dengan menjadi “Youtuber” atau “Instagramer”. Berbagai bakat dan potensi dengan mudah terpublikasi massal. Atau lihat pula betapa raja media sosial Facebook mengeluarkan program “Facebook for business” yang berhasil mendorong pertumbuhan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dengan kemudahan dan fleksibelitas Ads Manager-nya.

Banyak perusahaan-perusahaan dengan gaya konvensional akhirnya tergopoh-gopoh menjangkau target omset yang diharapkan. Ketidaktepatan menyasar pasar yang sedang berkembang dan melesetnya cara-cara berbisnis yang sudah usang adalah bumerang yang akan menjadi badai bagi keberlangsungan hidup perusahaan. Generasi yang sekarang sedang datang dan yang akan datang adalah mereka yang hadir dalam kondisi semua sudah mulai didigitalisasi. Jalur-jalur dan metode untuk mendapatkan atau mencari informasi menjadi bersifat persoanal. Lalu mengapa justru masih banyak yang bertahan pada kejayaan gaya masa lalu?

Contoh yang dilakukan Instagram, yang tiba-tiba mengganti logonya yang lebih kaya warna, kontras, dan berani meninggalkan logo lama bergaya retro. Walaupun sempat banyak yang komplain tapi terbukti justru peminat yang membuka akun instagram malah semakin meningkat, bahkan mulai dari pelajar tingkat sekolah dasar. Ini karena Instagram sudah memikirkan generasi digital yang sedang datang dan akan datang, lalu menganggap pelayanan terhadap digital immigrant sudah selesai, karena masa depan bisnis digital ini ada di pundak para digital native.

Tentu masih ingat, raja handphone dunia, Nokia dan penguasa mesin chat massal, Blackberry, yang akhirnya tumbang ditelan arus deras perubahan tren digital. Sebab apa? Salah satu yang utama adalah karena ekspetasi generasi digital yang tak berhasil mereka penuhi.**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *