Platform Digital Tak Sekadar untuk Berpindah Ruang

Bagi keberlangsungan media, perpindahan memanfaatkan platform digital bagaikan memasuki hutan baru. Meraba-raba jalan baru maupun celah yang bisa menuai manfaat untuk keberlangsungan perusahaan. Ironisnya, di satu sisi justru mereka yang sudah bermigrasi dari media tradisional ke media digital justru masih banyak yg hanya menggeser platform. Padahal, media digital jelas tak sekadar memindahkan cetak misalnya, ke platform digital. Banyak hal- hal baru yang harus dirubah.

memanfaatkan platform digital

Photo by Domenico Loia on Unsplash

Paradigma lama yang mengaitkan media dengan iklan sudah tak relevan. Dapat dipastikan, kue iklan sudah termakan oleh pemain-pemain lama yang sudah besar lebih awal di media per-digitalan. Ada perubahan-perubahan cara berbisnis yang besar. Maka tak heran, bagi mereka yang memanfaatkan platform digital tanpa merubah cara pandang menjalankan bisnis media akhirnya hanya jalan di tempat.

Apalagi dengan anggapan bahwa dengan memanfaatkan platform digital maka investasi semakin kecil. Asumsi ini justru akan menyesatkan saat media tersebut dijalankan. Bagaikan menjelajahi hutan baru dengan cara yang dilakukan di hutan lama yang telah ditinggalkan. Maka, berpikirlah dengan cara digital. Lebih luas, lebih cepat, dan tentunya inovatif.

Di samping itu, nampaknya digitalisasi juga berdampak pada urusan personal. Utamanya bagi para profesional yang sedang melakukan positioning. Kalau dahulu disibukkan dengan beredarnya kartu nama untuk menyosialisasikan eksistensi, plus tentengan portfolio yang sering membuat tulang lebih cepat terkena osteoporosis.

Saat ini, jangankan potfolio, bahkan untuk membawa-bawa laptop berisi kumpulan bukti kerja juga sudah mulai terlihat “so yesterday”. Nah, personal website dengan kemampuannya menjangkau publik tak terkendala jarak dan waktu, adalah “senapan” utama bagi mereka yang masih ingin bertempur di era tanpa dinding ini.

Juga perlu diingat dalam memanfaatkan platform digital, hadirnya pola pandang mobile first yang merupakan implementasi dari pengembangan life in hand. Bahwa hampir semua aktifitas keseharian bisa dikatakan terkendali hanya dengan menggerakkan jari-jari pada perangkat yg menempel di tangan. Di era booming-nya laptop, menyusul gelombang besar internet, publik menjadi dimanja oleh kemampuan perangkat serba bisa berbasis komputasi. Kemudian hadir pula penyempurnaan pada perangkat yg lebih compact. Handphone yg membelah batasan-batasan komunikasi menjelma menjadi mini assistant.

Kehadiran smart gadget tak terelakkan. Perangkat dengan multifungsi itupun terus berkembang melangkahi produk-produk teknologi digital lainnya. Kehadiran Blackberry bagaikan petir bagi handphone standar yang sudah lama akrab di publik. Lalu kedatangan komputer tablet iPad di 2010 juga banyak merubah kebiasaan-kebiasaan orang sehari-hari. Dari bekerja, berkomunikasi hingga menghibur diri.

Tapi apa daya, teknologi berkembang sangat cepat dan tak terduga. Dua perangkat yg mencengangkan dunia itu, Blackberry dan iPad, tak sampai berumur 10 tahun menjadi idola. Pengembangan software, bahasa web dan layar menjadikan smartphone yang berkategori big screen melibasnya tanpa ampun. Dengan fitur-fitur yg mendukung gaya hidup multitasking menjadikannya idola pengganti yang lebih dicintai, hingga mencapai titik dimana hal pertama yg dilihat saat bangun tidur adalah perangkat mobile. Dan tentunya untuk urusan mendapatkan informasi, sudah tentu memanfaatkan platform digital dengan perangkat yang ada di tanganlah menjadi andalan.**

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *