The post Strategi Personal Branding, Mulai dari Mana? appeared first on yogasdesign.
]]>
Personal branding inilah yang digadang-gadang akan membentuk persepsi seorang individu di mata publik. Ini juga tentang bagaimana membangun reputasi, menciptakan citra diri untuk dunia luar dan memasarkan diri sebagai individu.
Menukil dari situs personalbrand.com, personal branding didefinisikan sebagai upaya sadar dan disengaja untuk menciptakan dan mempengaruhi persepsi publik tentang individu dengan memposisikan mereka sebagai otoritas dalam industri mereka, meningkatkan kredibilitas mereka, dan membedakan diri dari kompetisi, untuk akhirnya memajukan karir mereka, meningkatkan lingkaran pengaruh mereka, dan memiliki dampak yang lebih besar.
Memperlakukan diri Anda sebagai merek (brand) bisa mengenai apa saja. Dari urusan nama, nada suara, reputasi, manifesto, simbol yang digunakan, dan banyak lagi. Hal-hal tersebut akan menjadi pembeda diri Anda di tengah publik.
Mulai dari Mana?
Menjadi diri sendiri: Salah satu elemen terpenting dari personal branding, adalah “Menjadi diri sendiri”. Anda tidak harus mengikuti keramaian. Apa yang pasti dapat dilakukan, itulah diri Anda. Jangan berfantasi menjadi seorang ahli suatu bidang baru, hanya karena merasa punya sedikit pengetahuan dasar bidang itu.
Fokus pada kekuatan dan nilai: Persis seperti saat memasarkan bisnis, pemasaran diri Anda sendiri dimulai dengan pemahaman tentang potensi pribadi sendiri. Pikirkan tentang apa yang membuat Anda berbeda dengan jutaan orang lain di dunia yang luas ini.
Menjadi pemilik otoritas: Setelah mengetahui kekuatan dan nilai diri, maka sempurnakanlah kekuatan itu. Terus belajar mengenai perkembangan-perkembangan yang terjadi, tumbuh, dan serap sehingga Anda dapat berbagi pengetahuan dengan orang lain. Tunjukkan kapabilitas Anda dalam satu bidang yang memang dikuasai melalui video, posting blog, atau media sosial.
Menetapkan prioritas: Pahami betul bahwa tujuan branding adalah untuk menggerakkan Anda menuju tujuan yang ditetapkan. Anda harus memikirkan tujuan dan ambisi yang ingin dicapai. Menetapkan prioritas akan menjadi panduan segala tindakan dan keputusan saat membangun merek.
Membangun platform: Anda tidak dapat mempromosikan merek pribadi tanpa platform. Keberadaan media sosial sebenarnya sudah sangat mendukung, tapi Anda mungkin memerlukan situs web yang mencakup nama , akun media sosial, dan solusi lain yang digunakan untuk memasarkan diri.

Photo by Anete Lūsiņa on Unsplash
Menentukan strategi konten: Saat Anda mensosialisasikan diri dengan platform yang tersedia, seperti blog, media sosial, maupun yang lainnya, apa tujuan Anda memproduksi konten? Apakah memonetisasi platform itu secara langsung, atau pltaform itu menjadi media untuk mengarahkan persepsi publik tentang Anda? Segera tentukan agar strategi konten yang dijalankan searah dengan tujuan itu.
Membangun reputasi: Reputasi adalah pandangan orang lain tentang diri kita. pandangan ini dibentuk dari proses berkesinambungan, tercemin dari tindakan nyata yang konsisten. Tentukan bidang yang akan Anda bangun reputasinya dalam diri sendiri. Mulailah menunjukkan potensi atau bahkan prestasi dalam bidang itu kepada publik.
Kesalahan membangun personal brand
Tak jarang, mereka yang membangun personal brand terjebak dalam kesalahan-kesalahan tak perlu. Hal ini justru membuat dirinya stagnant atau terlihat maju namun semu dan akhirnya terbenam.

Photo by Cookie the Pom on Unsplash
Apa saja kesalahan-kesalahan yang banyak dilakukan para profesional dalam menjalankan strategi personal branding? Berikut beberapa poin penting yang diringkas dari berbagai sumber dan literatur.
Dari poin-poin yang telah diuraikan, mungkin ada satu-dua hal yang pernah Anda lakukan. Jangan tunda untuk memperbaikinya. Ingatlah, brand adalah apa yang membuat Anda sebagai pribadi menjadi unik, dan memastikan bahwa diri Anda akan selalu berharga, tidak peduli berapa banyak perusahaan atau individu lain yang mencoba mencontoh ide Anda.**
The post Strategi Personal Branding, Mulai dari Mana? appeared first on yogasdesign.
]]>The post Produksi Konten Digital Jangan Jalan di Tempat appeared first on yogasdesign.
]]>
Tentu bagi yang berpikiran progresif, hal ini adalah kabar menggembirakan. Dan sebaliknya bagi mereka yang tejebak dalam patron konservatif, hal ini menjadi kabar yang membuat gamang. Bahkan tak sedikit yang mengalami post power syndrome. Di mana kejayaan masa lalu dalam industri kreatif perlahan sudah tak digubris publik.
Cara berbisnis juga tak lepas dari dinamika ini. Bukan sekadar itu, tapi perkembangan teknologi mendorong bermunculannya disiplin ilmu baru yang berdampak pada kehadiran profesi-profesi baru dan redefenisi beberapa profesi. Kebutuhan tenaga kerja makin variatif. Seperti content creator, social media strategist, digital marketing specialist, hingga UI-UX designer.
Bisa jadi ini berkaitan dengan apa yang terungkap dalam Future of Jobs Report 2018 dari World Economic Forum 2018. Dalam Laporan ini diungkapkan bahwa masyarakat digital akan membawa inovasi, dan teknologi baru, termasuk otomatisasi dan algoritma, menciptakan pekerjaan baru berkualitas tinggi dan sangat meningkatkan kualitas pekerjaan dan produktivitas pekerjaan manusia yang ada.
Business Model Mix
Melakukan produksi konten digital yang hasilnya diminati publik pada dasarnya juga bukan hal yang mudah. Hukum ini berlaku untuk semua proses penghasilan konten dari masa ke masa, tidak mudah. Ya, membaca selera dan keinginan audiens yang menjadi pasar memang selalu jadi pekerjaan rumah yang takkan pernah selesai.
Setiap zaman punya cara sendiri untuk berkembang, setiap era memiliki kecenderungan selera yang tak sama dengan era-era sebelumnya. Tapi kejelian insan penghasil konten dalam membaca keinginan audiens punya prinsip dasar kerja yang relatif seragam, berpikir kreatif di alam kreatif.

Photo by Yogas Design from Pexels
Yang juga menjadi perhatian krusial adalah bagaimana produk-produk konten digital dapat menelurkan business model yang adaptif terhadap laju perubahan dalam industri kreatif itu sendiri. Bahkan, tantangan terbukanya adalah bagaimana menciptakan business model mix yang menyokong terbentuknya ekosistem dari konten-konten yang dibuahkan.
Prof. Josep Valor, profesor teknologi informasi di IESE Business School yang berpusat di Spanyol mengingatkan, “Beberapa cara berbisnis dapat dicampurkan. Faktor teknologi yang berkembang tetap harus disatukan dengan faktor-faktor kunci dari karakter bisnis yang dijalankan. Seberapapun canggihnya teknologi digital yang dijalankan, jika pengetahuan dasar tentang bisnis yang dijalankan tidak dipahami, justru akan membuahkan kegagalan.”(*)
Digital Content Ecosystem
Istilah Digital Content Ecosystem mungkin belum akrab di telinga publik. Tapi ide ini menjadi menggeliat bersamaan dengan melebarnya peluang yang dihasilkan pada produksi konten digital. Untuk menguraikannya, bisa dimulai dengan memilih cara berbisnis yang tepat agar menjadi pondasi bagaimana produk utama yang dijalankan menjadi penghasil benefit.
Misalnya satu perusahaan mempunyai potensi konten digital berupa video production, maka tentukan bagaimana audiens dapat menikmati hasilnya dan dari mana perusahaan meraih keuntungan darinya. Apakah melalui sistem premium subscribe berbayar, digital download, atau sesederhana mengandalkan programatic ads di saluran media sharing seperti Youtube.
Setelah menentukan metode dalam menjalankan bisnis dari produk utama, lalu pikirkan bagaimana konten-konten yang diproduksi dapat di-generate untuk menjadi beberapa sub-konten. Proyeksikan apakah ada peluang setiap sub-konten punya saluran bisnisnya sendiri? atau justru sama dengan konten utama? Mungkinkah memberlakukan bauran cara berbisnis yang kemudian menghasilkan satu business model baru?

Photo by yogasdesign
Contohnya, saat melakukan produksi web series, coba perkirakan apakah dari jalannya produksi dapat menghasilakan konten lain, seperti: behind the scenes, vlog, testimoni, podcast, funny moment, dan lain sebagainya. Lantas dari situ bisa ditentukan pula mana yang bisa dinikmati lewat saluran masing-masing.
Misalnya untuk untuk produk konten utama dapat dikmati dengan cara digital download. Kemudian behind the scenes akan dimuat pada kanal premium subscriber. Lalu podcast berupa interview atau obrolan bisa diunggah ke Spotify dan mengambil keuntungan dari Spotify Ads. Serta untuk vlog dimuat dalam Youtube dan menuai benefit dari adsense , dan seterusnya dengan kemungkinan-kemungkinan konten serta sub-konten yang lain.
Jadi untuk satu produksi konten saja, seorang produser dapat mulai memilah-milah segala potensi dan peluang untuk menghasilkan lebih banyak keuntungan. Selanjutnya semuanya menjadi sistem yang dipermanenkan, yang berhubungan dan terintegrasi saling memberi hasil dan akhirnya membentuk ekosistem.
Sesederhana itukah? Pastinya tidak. Akan banyak sektor-sektor yang terdampak. Seperti soal legalitas menyangkut talent, hingga permasalahan rentang waktu pra produksi hingga post produksi dan tentu saja human resources serta peralatan produksi. Tapi, jika tidak mulai dicoba dari bentuk sederhana atau bahkan dengan metode lain, maka akan banyak kapasitas dan kesempatan yang hanya menjadi fosil tak tersentuh.
Kevin Benedict, seorang Senior Analyst for Digital Transformation and Mobility, pernah mengutarakan, bahwa transformasi digital bukanlah platform teknologi. Ini juga bukan solusi baru. Ini adalah cara baru melakukan bisnis.
Jadi, mulailah menyelami bisnis di era digital dengan metode baru, paradigma baru dan cara berpikir baru.(*)
——
Featured photo: Background illustration by seekpng.com, Right hand illustration by pikpng.com, Left hand illustration by freeiconspng.com
The post Produksi Konten Digital Jangan Jalan di Tempat appeared first on yogasdesign.
]]>The post TRANS TV Website appeared first on yogasdesign.
]]>
The post TRANS TV Website appeared first on yogasdesign.
]]>The post Jenis Perilaku Konsumen yang Bertindak Sebagai Produsen appeared first on yogasdesign.
]]>
Photo by Anete Lusina from Pexels
Konsep prosumer ini tak sekadar berfokus pada consumer (pelanggan), tapi juga ikut melibatkan pelanggan ke dalam proses produksi. Strategi dan keputusan operasional yang biasanya di putuskan sendiri, saat ini ikut melibatkan pelanggan. Kemudian jenis perilaku konsumen dengan konsep ini terus berkembang mengikuti zaman. Don Tapscott di tahun 1995, melalui bukunya “The Digital Economy: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence” menyertakan istilah prosumer dalam salah satu ciri dari kondisi dunia yang berada di era ekonomi digital.
Dalam bukunya itu, Don Tapscott menguraikan bahwa di dalam ekonomi digital batasan antara konsumen dan produsen yang selama ini terlihat jelas menjadi kabur. Hampir semua konsumen teknologi informasi dapat dengan mudah menjadi produsen yang siap menawarkan produk dan jasanya kepada masyarakat dan komunitas bisnis.
Adalah fakta bahwa kemudahan-kemudahan yang disediakan teknologi informasi dan digital tak sekadar menjadikan berbagai aktivitas sehari-hari menjadi lebih mudah. Tapi juga sudah dalam tahap merubah perilaku yang lebih dalam. Kemampuan teknologi melayani keinginan manusia semakin hari semakin beragam. Termasuk tentunya dalam berkreativitas.
Contoh sederhana dari jenis perilaku konsumen dengan konsep prosumer bisa kita temukan misalnya pada bidang clothing. Di mana konsumen dengan hanya mengakses satu situs produsen t-shirt, ia bisa mengkustomasi keinginannya sendiri. Dari jenis dan warna kaos, gambar, hingga pengiriman dan pastinya pembayaran.
Atau contoh lain, saat seseorang belanja aplikasi instant graphic design di application store untuk kebutuhan promosi usaha kecilnya, lalu justru mempelajari cara kerja aplikasi dengan detail. Sehingga ia pun berani menawarkan jasa desain konten media sosial kepada publik dengan menggunakan aplikasi tersebut.
Lahirnya Content Creator
Seiring waktu berjalan, zaman terus berubah, paltform baru digital bertumbuhan. Dari video streaming, audio streaming, media sosial, hingga marketplace berkembang dengan agresif. Hiruk pikuknya menelurkan satu profesi yang jadi idola baru, content creator. Ya, profesi ini memang hanya salah satu yang mendapat keuntungan lebih dari kemudahan-kemudahan yang ditawarkan teknologi informasi dan digital.

Photo by YogasDesign
Ilustrasi ini juga bisa jadi sedikit gambaran kemudahan terjadinya jenis perilaku konsumen dengan konsep prosumer. Seorang desainer grafis membutuhkan personal website untuk sosialisasi jasanya. Ia menghubungi web developer, lalu dibangulah website tersebut. Berdasarkan penggalian info dari beberapa kalangan, ia akhirnya mengetahui bahwa saat ini sudah ada marketplace yang menyediakan banyak web template dengan harga bersahabat, bahkan berstatus free to use. Dan ia mulai mencoba melakukan improvisasi pengembangan pada website yang awalnya sudah dibangun oleh web developer.
Lebih lanjut ia makin agresif mengakses web template marketpalce sambil mencari tutorial yang melimpah di video streaming maupun konten website. Dikit demi sedikit mulai menguasai, hingga ia pelajari soal pembelian hosting dan domain. Personal website yang sudah dimilikinya menjadi kelinci percobaan. Dan selanjutnya hanya hitungan bulan, ia sudah piawai menjual jasa web development untuk pemula. Saat ia terus fokus, dalam hitungan tahun sudah menjadi web management consultant.
Begitu pula yang terjadi di zona content creator. Dari sekadar penikmat atau pengguna jasa, lalu tertarik dan merasa punya passion dan bakat kreatif. Dengan energi belajar yang tinggi, sebagai pengguna jasa ia tak lagi hanya menunggu hasil. Tapi mulai membenamkan diri dalam proses produksi. Kreasi-kreasi baru ikut dibenamkan berdasarkan pengetahuan yang sudah digalinya. Selanjutnya, dengan modal yang dia usahakan untuk sekadar mewujudkan pengadaan perangkat kelas pemula, jadilah ia seorang yang mulai berani berprofesi sebagai content creator.
Semudah itu? Tentu tidak. Agar konsisten menjalankan profesinya, akan butuh ilmu-ilmu lain yang berkaitan, walau hanya sekitar permukaan. Seperti manajemen usaha, manajemen produksi, pengetahuan software dan hardware yang terbarukan, digital and social media marketing, multimedia editing dan seabrek ilmu-ilmu generasi baru yang ada.
Penulis jadi teringat saat masa keemasan ikan Louhan di Indonesia pada 2004. Dari yang yang sekedar penikmat atau mereka yang percaya adanya keberuntungan memelihara ikan ini, akhirnya berduyun-duyun menjadi peternak. Pengembangbiakan yang mudah dipelajari merubah perilaku para pembeli ikan Louhan untuk kesenangan pribadi menjadi penjual bibit hingga ikan yang sudah siap pajang.
Lalu menemukan titik jenuh di 2005 dan harga jual ikan yang tergolong istimewa ini jatuh dalam titik terendah. Hanya mereka-mereka yang fokus menjual ikan hias ditambah beberapa mantan penikmat yang jadi penjual dengan bekal hasrat tingginya, yang tetap bertahan.
Pelajaran yang dapat diambil adalah, menjadi instan karena kemudahan pengetahuan tidak lantas membuat kita berhenti belajar dan merasa tak ada lagi perubahan yang berkelanjutan. Juga sebaliknya, bagi para produsen atau profesional yang merasa terancam dengan kedatangan prosumer, justru harusnya bisa lebih andal menghasilkan produk yang ideal dengan segala bekal pengetahuan dan pengalamannya. Bukan hanya bisa mengeluh dengan banyak hal baru yang disodorkan kemajuan teknologi.

Photo by Yogas Design from Pexels
Faktor Pendorong
Konsep prosumer ini memang sudah banyak menghasilkan perubahan perilaku pada konsumen. Adalah penting untuk memahami faktor apa saja yang mendorong perubahan ini? Situs medium.com secara garis besar memaparkan:
The post Jenis Perilaku Konsumen yang Bertindak Sebagai Produsen appeared first on yogasdesign.
]]>The post MBOK BEREK Website appeared first on yogasdesign.
]]>
The post MBOK BEREK Website appeared first on yogasdesign.
]]>
The post FOOD & BEVERAGES MENU appeared first on yogasdesign.
]]>The post Kaum Intelektual, Mencerdaskan atau Membodohi? appeared first on yogasdesign.
]]>
Photo by Alexandre Pellaes on Unsplash
Sebenarnya bukan saat ini saja para intelektualis dipercaya memberikan sumbang saran bagi kepentingan umum. Dari jaman kerajaan-pun hal ini sudah dilakukan. Contohnya, seorang raja yang sangat percaya kepada para cendikiawan. Mereka dipercaya kerena potensinya masing-masing yang mencoba untuk berpikir bedasarkan proses sebab-akibat. Kalau keadaan begini, maka akibatnya begitu. Kalau keadaan begitu, maka akibatnya begini.
Di zaman sekarang ini kita juga dapat melihat bahwa, tak diminta oleh siapapun, makin banyak saja yang dengan kesadaran penuh mempraktekkan dirinya sebagai bagian dari kaum intelek. Kaum dengan tingkat intelektual di atas rata-rata. “Dari indikasi yang ada, kita diharapkan dapat meng-implementasi-kan potensi kita ke dalam proses bergaining. Sehingga tidak terjadi setback yang tak diharapkan, menyusul adanya distorsi dalam sistem yang sudah dikonfirmasikan bersama”, begitu kata salah satu pengamat sosial politik.
Lalu biasanya orang yang kebetulan ada di sekelilingnya pun dengan semangat menimpali, “Benar apa yang dikatakan teman saya ini. Dalam mencapai tingkat pengkristalan sistem, setiap personal diharapkan dapat mempertahankan kekonsistennannya sebagai elemen sistem tersebut. Bahkan, dalam rangka memulai step-step selanjutya, kausa-kausa yang telah lalu cenderung dapat kita jadikan plafond dalam menghitung kadar kesatuan atribut-atribut sistem”. Lalu decak kagum diiringi hiasan tepuk tangan, menggema di ruangan sebuah seminar.
Dengan tema “Mari Memberantas Kebutaan Politik”, seminar itu dapat menjadi contoh betapa pintarnya kaum intelektual itu. Betapa pemikiran-pemikiran mereka selalu menggunakan prosedur keilmupengetahuan. Lontaran pendapat ataupun teori seakan merupakan solusi prima dalam menyelesaikan masalah. Atau merupakan masukan terbaik mengenai sebuah masalah.
Tapi rasa-rasanya kita sudah sangat sering mendengar atau menyaksikan sendiri banyaknya diskusi-diskusi maupun seminar-seminar yang intinya mencari jalan keluar masalah yang dialami masayarakat luas. Tentang kelaparan, tentang perbankan, atau mungkin tentang seks bebas. Dan nyata-nyata dalam pandangan kita, kemiskinan tak kunjung habis. Krisis tak kunjung hilang. Dan moral tak kunjung baik.
Padahal, kalau kita simak di kehidupan sehari-hari, di Indonesia kita ini, begitu banyak para ahli yang dipercaya sebagai kaum intelektual. Kaum yang dengan serta-merta selalu mengeluarkan ‘kata-kata kuncian’ agar mendukung prediksi ataupun opini tentang bagaimana membawa Indonesia ke dalam keadaan yang lebih cerah. Lalu apa yang salah, siapa yang salah?
Rasanya sulit melihat siapa yang salah. Karena yang kita ketahui, bahwa para pecinta intelektualitas diakui sebagai orang-orang yang akan mengabdi kepada masyarakat. Mengabdikan ilmu yang sudah terlalu menumpuk di kepala untuk kepentingan masyarakat. Bukan untuk kepentingan diakuinya mereka di mata masyarakat.
Maka ada baiknya mereka yang mengaku berintelektualitas tinggi tidak hanya fasih melontarkan kata dengan kadar intelektual, tapi juga fasih melontarkan kata berdasarkan hasil pemikiran mereka sebagai intelektual sejati. Sehingga masyarakat tak termakan indikasi-indikasi, implementasi, bergaining, step, konfirmasi, setback, atau apa saja yang justru membuat mereka merasa sebagai orang paling bodoh. Atau memang masyarakat kita memang sudah terbiasa dibodoh-bodohi dan saling membodohi? *
The post Kaum Intelektual, Mencerdaskan atau Membodohi? appeared first on yogasdesign.
]]>
The post CALENDAR appeared first on yogasdesign.
]]>
The post COMPANY PROFILE appeared first on yogasdesign.
]]>The post Konten Gratis untuk Kebutuhan Produk Kreatif appeared first on yogasdesign.
]]>
Photo by bruce mars on Unsplash
Berbagai macam konten gratis kreatif dibuat untuk mengakomodir makin variatifnya keinginan audiens menelan informasi yang tersebar di dunia maya. Publik tak lagi hanya berkubutuhan terhadap informasi standar yang disajikan oleh banyak situs. Tapi juga bentuk-bentuk baru kaya kreatifitas seperti, infografis, videografis, blog vlog, hingga web series dan banyak lagi.
Salah satu kebutuhan yang terus meningkat tentunya adalah foto, ilustrasi vector dan video sebagai unsur utama kaya visual. Tapi, tidak semua penyedia konten informasi siap memproduksinya. Pastinya unsur pembiayaan dan skill juga menjadi pertimbangan khusus. Bahkan untuk berlangganan situs penyedia stok vector, foto maupun video.
Tapi beruntunglah, justru saat ini makin banyak platform penyedia konten gratis berupa stok foto dan video (footage) yang memberlakukan aturan penggunaan cuma-cuma kepada siapapun yang memerlukannya. Bahkan beberapanya para penyedia konten ini tidak mewajibkan adanya credit title untuk pemuatannya. Anda hanya perlu melakukan registrasi, lalu sign in dan bebas memilih konten gratis untuk didownload, dan tidak sedikit pula yang tak perlu registrasi.
Nah, berikut beberapa situs penyedia konten gratis berupa foto. vector, illustrasi dan video yang bebas digunakan untuk keperluan apa saja termasuk beberapanya bisa untuk tujuan komersil, sejauh tidak diklaim sebagai karya sendiri dan diperjualbelikan atau didistribusikan ulang kepada pihak lain. Jangan lupa untuk membaca aturan pemakainnya dan ada baiknya penggunaan menyertakan credit title atau attribution sebagai rasa menghargai kepada karya para penyedia konten gratis ini.**



![]()
![]()












![]()
The post Konten Gratis untuk Kebutuhan Produk Kreatif appeared first on yogasdesign.
]]>