Warning: opendir(/DATA/k8016220/public_html/wp-content/mu-plugins): Failed to open directory: Permission denied in /DATA/k8016220/public_html/wp-includes/load.php on line 981

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /DATA/k8016220/public_html/wp-includes/load.php:981) in /DATA/k8016220/public_html/wp-includes/feed-rss2.php on line 8
blog desain Archives - yogasdesign https://yogasdesign.com/tag/blog-desain/ Gagasan & Kreativitas Wed, 20 Mar 2024 08:26:43 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0 https://yogasdesign.com/wp-content/uploads/2016/02/YogasDesign-icon3-150x150.jpg blog desain Archives - yogasdesign https://yogasdesign.com/tag/blog-desain/ 32 32 Produksi Konten Digital Jangan Jalan di Tempat https://yogasdesign.com/produksi-konten-digital-jangan-jalan-di-tempat/ Wed, 20 Oct 2021 11:57:38 +0000 http://yogasdesign.com/?p=738 Industri kreatif sedang berjalan pada dimensi baru, utamanya yang berkaitan erat dengan produksi konten digital. Ragam wadah yang mengakomodir arus deras terbarukan ini juga sudah menggurita. Dari urusan konten menghibur dan informasi di platform media Baca Selengkapnya...

The post Produksi Konten Digital Jangan Jalan di Tempat appeared first on yogasdesign.

]]>
Industri kreatif sedang berjalan pada dimensi baru, utamanya yang berkaitan erat dengan produksi konten digital. Ragam wadah yang mengakomodir arus deras terbarukan ini juga sudah menggurita. Dari urusan konten menghibur dan informasi di platform media sharing, hingga perkara jualan di marketplace.

content creator yogasdesign

Tentu bagi yang berpikiran progresif, hal ini adalah kabar menggembirakan. Dan sebaliknya bagi mereka yang tejebak dalam patron konservatif, hal ini menjadi kabar yang membuat gamang. Bahkan tak sedikit yang mengalami post power syndrome. Di mana kejayaan masa lalu dalam industri kreatif perlahan sudah tak digubris publik.

Cara berbisnis juga tak lepas dari dinamika ini. Bukan sekadar itu, tapi perkembangan teknologi mendorong bermunculannya disiplin ilmu baru yang berdampak pada kehadiran profesi-profesi baru dan redefenisi beberapa profesi. Kebutuhan tenaga kerja makin variatif. Seperti content creator, social media strategist, digital marketing specialist, hingga UI-UX designer.

Bisa jadi ini berkaitan dengan apa yang terungkap dalam Future of Jobs Report 2018 dari World Economic Forum 2018. Dalam Laporan ini diungkapkan bahwa masyarakat digital akan membawa inovasi, dan teknologi baru, termasuk otomatisasi dan algoritma, menciptakan pekerjaan baru berkualitas tinggi dan sangat meningkatkan kualitas pekerjaan dan produktivitas pekerjaan manusia yang ada.

Business Model Mix
Melakukan produksi konten digital yang hasilnya diminati publik pada dasarnya juga bukan hal yang mudah. Hukum ini berlaku untuk semua proses penghasilan konten dari masa ke masa, tidak mudah. Ya, membaca selera dan keinginan audiens yang menjadi pasar memang selalu jadi pekerjaan rumah yang takkan pernah selesai.

Setiap zaman punya cara sendiri untuk berkembang, setiap era memiliki kecenderungan selera yang tak sama dengan era-era sebelumnya. Tapi kejelian insan penghasil konten dalam membaca keinginan audiens punya prinsip dasar kerja yang relatif seragam, berpikir kreatif di alam kreatif.

bisnis digital yogasdesign

Photo by Yogas Design from Pexels

Yang juga menjadi perhatian krusial adalah bagaimana produk-produk konten digital dapat menelurkan business model yang adaptif terhadap laju perubahan dalam industri kreatif itu sendiri. Bahkan, tantangan terbukanya adalah bagaimana menciptakan business model mix yang menyokong terbentuknya ekosistem dari konten-konten yang dibuahkan.

Prof. Josep Valor, profesor teknologi informasi di IESE Business School yang berpusat di Spanyol mengingatkan, “Beberapa cara berbisnis dapat dicampurkan. Faktor teknologi yang berkembang tetap harus disatukan dengan faktor-faktor kunci dari karakter bisnis yang dijalankan. Seberapapun canggihnya teknologi digital yang dijalankan, jika pengetahuan dasar tentang bisnis yang dijalankan tidak dipahami, justru akan membuahkan kegagalan.”(*)

Digital Content Ecosystem
Istilah Digital Content Ecosystem mungkin belum akrab di telinga publik. Tapi ide ini menjadi menggeliat bersamaan dengan melebarnya peluang yang dihasilkan pada produksi konten digital. Untuk menguraikannya, bisa dimulai dengan memilih cara berbisnis yang tepat agar menjadi pondasi bagaimana produk utama yang dijalankan menjadi penghasil benefit.

Misalnya satu perusahaan mempunyai potensi konten digital berupa video production, maka tentukan bagaimana audiens dapat menikmati hasilnya dan dari mana perusahaan meraih keuntungan darinya. Apakah melalui sistem premium subscribe berbayar, digital download, atau sesederhana mengandalkan programatic ads di saluran media sharing seperti Youtube.

Setelah menentukan metode dalam menjalankan bisnis dari produk utama, lalu pikirkan bagaimana konten-konten yang diproduksi dapat di-generate untuk menjadi beberapa sub-konten. Proyeksikan apakah ada peluang setiap sub-konten punya saluran bisnisnya sendiri? atau justru sama dengan konten utama? Mungkinkah memberlakukan bauran cara berbisnis yang kemudian menghasilkan satu business model baru?

content creator yogasdesign

Photo by yogasdesign

Contohnya, saat melakukan produksi web series, coba perkirakan apakah dari jalannya produksi dapat menghasilakan konten lain, seperti: behind the scenes, vlog, testimoni, podcast, funny moment, dan lain sebagainya. Lantas dari situ bisa ditentukan pula mana yang bisa dinikmati lewat saluran masing-masing.

Misalnya untuk untuk produk konten utama dapat dikmati dengan cara digital download. Kemudian behind the scenes akan dimuat pada kanal premium subscriber. Lalu podcast berupa interview atau obrolan bisa diunggah ke Spotify dan mengambil keuntungan dari Spotify Ads. Serta untuk vlog dimuat dalam Youtube dan menuai benefit dari adsense , dan seterusnya dengan kemungkinan-kemungkinan konten serta sub-konten yang lain.

Jadi untuk satu produksi konten saja, seorang produser dapat mulai memilah-milah segala potensi dan peluang untuk menghasilkan lebih banyak keuntungan. Selanjutnya semuanya menjadi sistem yang dipermanenkan, yang berhubungan dan terintegrasi saling memberi hasil dan akhirnya membentuk ekosistem.

Sesederhana itukah? Pastinya tidak. Akan banyak sektor-sektor yang terdampak. Seperti soal legalitas menyangkut talent, hingga permasalahan rentang waktu pra produksi hingga post produksi dan tentu saja human resources serta peralatan produksi. Tapi, jika tidak mulai dicoba dari bentuk sederhana atau bahkan dengan metode lain, maka akan banyak kapasitas dan kesempatan yang hanya menjadi fosil tak tersentuh.

Kevin Benedict, seorang Senior Analyst for Digital Transformation and Mobility, pernah mengutarakan, bahwa transformasi digital bukanlah platform teknologi. Ini juga bukan solusi baru. Ini adalah cara baru melakukan bisnis.

Jadi, mulailah menyelami bisnis di era digital dengan metode baru, paradigma baru dan cara berpikir baru.(*)

——

Featured photo: Background illustration by seekpng.com, Right hand illustration by pikpng.com, Left hand illustration by freeiconspng.com

The post Produksi Konten Digital Jangan Jalan di Tempat appeared first on yogasdesign.

]]>
TRANS TV Website https://yogasdesign.com/trans-tv-website/ Sat, 14 Aug 2021 09:41:07 +0000 http://yogasdesign.com/?p=475 http://www.transtv.co.id/

The post TRANS TV Website appeared first on yogasdesign.

]]>
trans tv

http://www.transtv.co.id/

The post TRANS TV Website appeared first on yogasdesign.

]]>
Jenis Perilaku Konsumen yang Bertindak Sebagai Produsen https://yogasdesign.com/jenis-perilaku-konsumen-bertindak-sebagai-produsen/ Tue, 01 Jun 2021 06:24:38 +0000 http://yogasdesign.com/?p=720 Pada 1980, Alvin Toffler, seorang penulis dan pengusaha Amerika yang tersohor dengan karyanya yang membahas teknologi modern, memperkenalkan istilah ‘prosumer’ dalam bukunya “The Third Wave”. Istilah ini adalah gabungan dua kata yakni producer dan consumer Baca Selengkapnya...

The post Jenis Perilaku Konsumen yang Bertindak Sebagai Produsen appeared first on yogasdesign.

]]>
Pada 1980, Alvin Toffler, seorang penulis dan pengusaha Amerika yang tersohor dengan karyanya yang membahas teknologi modern, memperkenalkan istilah ‘prosumer’ dalam bukunya “The Third Wave”. Istilah ini adalah gabungan dua kata yakni producer dan consumer yang mendeskripsikan jenis perilaku konsumen generasi sekarang, yang tidak hanya pasif saja, melainkan juga terlibat dalam proses produksi.

Jenis Perilaku Konsumen photo by Anete Lusina

Photo by Anete Lusina from Pexels

Konsep prosumer ini tak sekadar berfokus pada consumer (pelanggan), tapi juga ikut melibatkan pelanggan ke dalam proses produksi. Strategi dan keputusan operasional yang biasanya di putuskan sendiri, saat ini ikut melibatkan pelanggan. Kemudian jenis perilaku konsumen dengan konsep ini terus berkembang mengikuti zaman. Don Tapscott di tahun 1995, melalui bukunya “The Digital Economy: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence” menyertakan istilah prosumer dalam salah satu ciri dari kondisi dunia yang berada di era ekonomi digital.

Dalam bukunya itu, Don Tapscott menguraikan bahwa di dalam ekonomi digital batasan antara konsumen dan produsen yang selama ini terlihat jelas menjadi kabur. Hampir semua konsumen teknologi informasi dapat dengan mudah menjadi produsen yang siap menawarkan produk dan jasanya kepada masyarakat dan komunitas bisnis.

Adalah fakta bahwa kemudahan-kemudahan yang disediakan teknologi informasi dan digital tak sekadar menjadikan berbagai aktivitas sehari-hari menjadi lebih mudah. Tapi juga sudah dalam tahap merubah perilaku yang lebih dalam. Kemampuan teknologi melayani keinginan manusia semakin hari semakin beragam. Termasuk tentunya dalam berkreativitas.

Contoh sederhana dari jenis perilaku konsumen dengan konsep prosumer bisa kita temukan misalnya pada bidang clothing. Di mana konsumen dengan hanya mengakses satu situs produsen t-shirt, ia bisa mengkustomasi keinginannya sendiri. Dari jenis dan warna kaos, gambar, hingga pengiriman dan pastinya pembayaran.

Atau contoh lain, saat seseorang belanja aplikasi instant graphic design di application store untuk kebutuhan promosi usaha kecilnya, lalu justru mempelajari cara kerja aplikasi dengan detail. Sehingga ia pun berani menawarkan jasa desain konten media sosial kepada publik dengan menggunakan aplikasi tersebut.

Lahirnya Content Creator
Seiring waktu berjalan, zaman terus berubah, paltform baru digital bertumbuhan. Dari video streaming, audio streaming, media sosial, hingga marketplace berkembang dengan agresif. Hiruk pikuknya menelurkan satu profesi yang jadi idola baru, content creator. Ya, profesi ini memang hanya salah satu yang mendapat keuntungan lebih dari kemudahan-kemudahan yang ditawarkan teknologi informasi dan digital.

content creator yogasdesign

Photo by YogasDesign

Ilustrasi ini juga bisa jadi sedikit gambaran kemudahan terjadinya jenis perilaku konsumen dengan konsep prosumer. Seorang desainer grafis membutuhkan personal website untuk sosialisasi jasanya. Ia menghubungi web developer, lalu dibangulah website tersebut. Berdasarkan penggalian info dari beberapa kalangan, ia akhirnya mengetahui bahwa saat ini sudah ada marketplace yang menyediakan banyak web template dengan harga bersahabat, bahkan berstatus free to use. Dan ia mulai mencoba melakukan improvisasi pengembangan pada website yang awalnya sudah dibangun oleh web developer.

Lebih lanjut ia makin agresif mengakses web template marketpalce sambil mencari tutorial yang melimpah di video streaming maupun konten website. Dikit demi sedikit mulai menguasai, hingga ia pelajari soal pembelian hosting dan domain. Personal website yang sudah dimilikinya menjadi kelinci percobaan. Dan selanjutnya hanya hitungan bulan, ia sudah piawai menjual jasa web development untuk pemula. Saat ia terus fokus, dalam hitungan tahun sudah menjadi web management consultant.

Begitu pula yang terjadi di zona content creator. Dari sekadar penikmat atau pengguna jasa, lalu tertarik dan merasa punya passion dan bakat kreatif. Dengan energi belajar yang tinggi, sebagai pengguna jasa ia tak lagi hanya menunggu hasil. Tapi mulai membenamkan diri dalam proses produksi. Kreasi-kreasi baru ikut dibenamkan berdasarkan pengetahuan yang sudah digalinya. Selanjutnya, dengan modal yang dia usahakan untuk sekadar mewujudkan pengadaan perangkat kelas pemula, jadilah ia seorang yang mulai berani berprofesi sebagai content creator.

Semudah itu? Tentu tidak. Agar konsisten menjalankan profesinya, akan butuh ilmu-ilmu lain yang berkaitan, walau hanya sekitar permukaan. Seperti manajemen usaha, manajemen produksi, pengetahuan software dan hardware yang terbarukan, digital and social media marketing, multimedia editing dan seabrek ilmu-ilmu generasi baru yang ada.

Penulis jadi teringat saat masa keemasan ikan Louhan di Indonesia pada 2004. Dari yang yang sekedar penikmat atau mereka yang percaya adanya keberuntungan memelihara ikan ini, akhirnya berduyun-duyun menjadi peternak. Pengembangbiakan yang mudah dipelajari merubah perilaku para pembeli ikan Louhan untuk kesenangan pribadi menjadi penjual bibit hingga ikan yang sudah siap pajang.

Lalu menemukan titik jenuh di 2005 dan harga jual ikan yang tergolong istimewa ini jatuh dalam titik terendah. Hanya mereka-mereka yang fokus menjual ikan hias ditambah beberapa mantan penikmat yang jadi penjual dengan bekal hasrat tingginya, yang tetap bertahan.

Pelajaran yang dapat diambil adalah, menjadi instan karena kemudahan pengetahuan tidak lantas membuat kita berhenti belajar dan merasa tak ada lagi perubahan yang berkelanjutan. Juga sebaliknya, bagi para produsen atau profesional yang merasa terancam dengan kedatangan prosumer, justru harusnya bisa lebih andal menghasilkan produk yang ideal dengan segala bekal pengetahuan dan pengalamannya. Bukan hanya bisa mengeluh dengan banyak hal baru yang disodorkan kemajuan teknologi.

jenis perolaku konsumen

Photo by Yogas Design from Pexels

Faktor Pendorong
Konsep prosumer ini memang sudah banyak menghasilkan perubahan perilaku pada konsumen. Adalah penting untuk memahami faktor apa saja yang mendorong perubahan ini? Situs medium.com secara garis besar memaparkan:

  • Ketersediaan Informasi: Saat ini konsumen dapat mudah mengakses dan menafsirkan data dan berita dalam jumlah besar yang hadir setiap hari di jagat online. Kondisi ini memungkinkan konsumen untuk melampaui apa yang biasa mereka lakukan terhadap hobi dan pengejaran mereka yang mengarah pada peningkatan permintaan akan produk yang berteknologi maju dan kompleks.
  • Ritel Online: Tumbuhnya kemampuan untuk mengidentifikasi long tail customer dan pengadopsi awal, dan untuk melayani mereka dalam skala besar sambil menciptakan bisnis yang menguntungkan telah memungkinkan wirausahawan yang bersemangat untuk menciptakan produk yang kompleks dan menemukan pelanggan untuk mereka dengan cukup cepat.
  • Sosial Media dan Kesadaran Konsumen: Prosumer dapat mempengaruhi konsumen dengan mudah karena fakta bahwa suara pelanggan dapat dengan cepat didengar lalu direspon. Perusahaan sekarang secara aktif melacak dan mengidentifikasi opinion leader di media sosial untuk membangun merek yang kuat dan menggerakkan audiens dengan baik.
  • Kustomisasi Dalam Skala Besar: Selain produk perangkat lunak, bahkan produk perangkat keras sekarang dapat disesuaikan sebagian besar tanpa memengaruhi biaya. Ini, ditambah dengan sistem teknologi informasi yang kuat, yang sudah memungkinkan perusahaan untuk melibatkan pelanggan dalam pengembangan produk dan benar-benar memiliki produk yang mereka beli. (*)

The post Jenis Perilaku Konsumen yang Bertindak Sebagai Produsen appeared first on yogasdesign.

]]>
MBOK BEREK Website https://yogasdesign.com/mbok-berek-website/ Thu, 13 Aug 2020 10:45:25 +0000 http://yogasdesign.com/?p=664 http://mbokberek.com/

The post MBOK BEREK Website appeared first on yogasdesign.

]]>
mbok berek website yogasdesign

http://mbokberek.com/

The post MBOK BEREK Website appeared first on yogasdesign.

]]>
FOOD & BEVERAGES MENU https://yogasdesign.com/food-beverages-menu/ Thu, 13 Aug 2020 13:18:27 +0000 http://yogasdesign.com/?p=660 The post FOOD & BEVERAGES MENU appeared first on yogasdesign.

]]>
desain menu yogasdesign

The post FOOD & BEVERAGES MENU appeared first on yogasdesign.

]]>
Kaum Intelektual, Mencerdaskan atau Membodohi? https://yogasdesign.com/kaum-intelektual-mencerdaskan-atau-membodohi/ Fri, 17 Jul 2020 01:39:33 +0000 http://yogasdesign.com/?p=631 Bicara soal kaum intelektual, bisalah kita melihat gejala-gejala yang timbul di masyarakat, terbesit pemikiran. Pemikiran tentang pentingnya kadar intelektualitas seseorang dalam menyampaikan apa saja yang ada di benaknya. Mengapa harus dikatakan penting, karena dari kenyataan Baca Selengkapnya...

The post Kaum Intelektual, Mencerdaskan atau Membodohi? appeared first on yogasdesign.

]]>
Bicara soal kaum intelektual, bisalah kita melihat gejala-gejala yang timbul di masyarakat, terbesit pemikiran. Pemikiran tentang pentingnya kadar intelektualitas seseorang dalam menyampaikan apa saja yang ada di benaknya. Mengapa harus dikatakan penting, karena dari kenyataan yang ada kita disuguhi ‘tontonan’, betapa kaum yang mengaku dari golongan intelek begitu percaya untuk menyampaikan ataupun memberikan masukan kepada bangsa ini untuk keluar dari permasalahan-permasalahan yang mendera.

Sebenarnya bukan saat ini saja para intelektualis dipercaya memberikan sumbang saran bagi kepentingan umum. Dari jaman kerajaan-pun hal ini sudah dilakukan. Contohnya, seorang raja yang sangat percaya kepada para cendikiawan. Mereka dipercaya kerena potensinya masing-masing yang mencoba untuk berpikir bedasarkan proses sebab-akibat. Kalau keadaan begini, maka akibatnya begitu. Kalau keadaan begitu, maka akibatnya begini.

Di zaman sekarang ini kita juga dapat melihat bahwa, tak diminta oleh siapapun, makin banyak saja yang dengan kesadaran penuh mempraktekkan dirinya sebagai bagian dari kaum intelek. Kaum dengan tingkat intelektual di atas rata-rata. “Dari indikasi yang ada, kita diharapkan dapat meng-implementasi-kan potensi kita ke dalam proses bergaining. Sehingga tidak terjadi setback yang tak diharapkan, menyusul adanya distorsi dalam sistem yang sudah dikonfirmasikan bersama”, begitu kata salah satu pengamat sosial politik.

Lalu biasanya orang yang kebetulan ada di sekelilingnya pun dengan semangat menimpali, “Benar apa yang dikatakan teman saya ini. Dalam mencapai tingkat pengkristalan sistem, setiap personal diharapkan dapat mempertahankan kekonsistennannya sebagai elemen sistem tersebut. Bahkan, dalam rangka memulai step-step selanjutya, kausa-kausa yang telah lalu cenderung dapat kita jadikan plafond dalam menghitung kadar kesatuan atribut-atribut sistem”. Lalu decak kagum diiringi hiasan tepuk tangan, menggema di ruangan sebuah seminar.

Dengan tema “Mari Memberantas Kebutaan Politik”, seminar itu dapat menjadi contoh betapa pintarnya kaum intelektual itu. Betapa pemikiran-pemikiran mereka selalu menggunakan prosedur keilmupengetahuan. Lontaran pendapat ataupun teori seakan merupakan solusi prima dalam menyelesaikan masalah. Atau merupakan masukan terbaik mengenai sebuah masalah.

Tapi rasa-rasanya kita sudah sangat sering mendengar atau menyaksikan sendiri banyaknya diskusi-diskusi maupun seminar-seminar yang intinya mencari jalan keluar masalah yang dialami masayarakat luas. Tentang kelaparan, tentang perbankan, atau mungkin tentang seks bebas. Dan nyata-nyata dalam pandangan kita, kemiskinan tak kunjung habis. Krisis tak kunjung hilang. Dan moral tak kunjung baik.

Padahal, kalau kita simak di kehidupan sehari-hari, di Indonesia kita ini, begitu banyak para ahli yang dipercaya sebagai kaum intelektual. Kaum yang dengan serta-merta selalu mengeluarkan ‘kata-kata kuncian’ agar mendukung prediksi ataupun opini tentang bagaimana membawa Indonesia ke dalam keadaan yang lebih cerah. Lalu apa yang salah, siapa yang salah?

Rasanya sulit melihat siapa yang salah. Karena yang kita ketahui, bahwa para pecinta intelektualitas diakui sebagai orang-orang yang akan mengabdi kepada masyarakat. Mengabdikan ilmu yang sudah terlalu menumpuk di kepala untuk kepentingan masyarakat. Bukan untuk kepentingan diakuinya mereka di mata masyarakat.

Maka ada baiknya mereka yang mengaku berintelektualitas tinggi tidak hanya fasih melontarkan kata dengan kadar intelektual, tapi juga fasih melontarkan kata berdasarkan hasil pemikiran mereka sebagai intelektual sejati. Sehingga masyarakat tak termakan indikasi-indikasi, implementasi, bergaining, step, konfirmasi, setback, atau apa saja yang justru membuat mereka merasa sebagai orang paling bodoh. Atau memang masyarakat kita memang sudah terbiasa dibodoh-bodohi dan saling membodohi? *

The post Kaum Intelektual, Mencerdaskan atau Membodohi? appeared first on yogasdesign.

]]>
COMPANY PROFILE https://yogasdesign.com/company-profile/ Sat, 11 Jul 2020 00:47:45 +0000 http://yogasdesign.com/?p=620 The post COMPANY PROFILE appeared first on yogasdesign.

]]>
company profile design

The post COMPANY PROFILE appeared first on yogasdesign.

]]>
Konten Digital, Cara Baru Menikmati dan Menyajikan Informasi https://yogasdesign.com/konten-digital-cara-baru-menikmati-dan-menyajikan/ Wed, 25 Sep 2019 10:30:45 +0000 http://yogasdesign.com/?p=569 Kedatangan platform digital tidak hanya memberi pengaruh besar kepada kebiasaan pengguna dalam menikmati atau mencari informasi maupun konten digital yang dikehendaki. Tapi juga pada industri penyediaan konten yang bersinggungan langsung dengan keberadaan platform ini. Baca Selengkapnya...

The post Konten Digital, Cara Baru Menikmati dan Menyajikan Informasi appeared first on yogasdesign.

]]>
Kedatangan platform digital tidak hanya memberi pengaruh besar kepada kebiasaan pengguna dalam menikmati atau mencari informasi maupun konten digital yang dikehendaki. Tapi juga pada industri penyediaan konten yang bersinggungan langsung dengan keberadaan platform ini.

konten digital - yogasdesign
Photo by Yogas Design on Unsplash

Perlu digaris bawahi, mengutip dari situs zazzlemedia, pengertian konten di sini adalah informasi yang segar, mudah dibaca atau disimak, relevan, dan bermanfaat bagi pembaca atau pemirsa. Dan seperti apa pun di dunia digital, konten harus terlihat bagus, dengan cara yang mudah dicerna.

Kemampuan perangkat digital tak sekedar memberi kemudahan bagi pengguna ataupun penikmatnya, tapi juga menciptakan ekosistem dan habitat baru. Termasuk banyak lahirnya cara-cara baru dalam menyajikan konten media kepada publik. Cara penyampaian, metode distribusi hingga jenis materi dari konten digital yang diproduksi. Pertimbangan kecepatan waktu dan mobilitas adalah hal yang paling banyak menjadi pertimbangan.

Cara-cara baru menyajikan konten otomatis lahir. Pemirsa atau penikmat konten atau biasa juga disebut user di platform digital mengalami pergeseran selera. Selain lebih menyukai konten yang interaktif, user juga lebih agresif menikmati konten bergerak dan bersuara, dan video adalah jawabannya. 

Tak hanya itu, user juga cenderung menyukai konten yang ditampilkan natural, spontan, nyeleneh, unik, dan mendobrak nilai-nilai yang selama ini ditampilkan pada media-media konservatif. User mempunyai keinginan yang sangat tinggi untuk mendapatkan hal baru yang tak ada di media-media konservatif. Baik itu soal batasan-batasan etika, maupun topik dan tema yang terkandung dalam konten digital.

Lalu bagaimana sebaiknya konten digital dibuat? Dalam situs CreativeBlog diuraikan secara garis besar sebagai berikut:

  • Jadikan pengguna smartphone sebagai target utama.
  • Siapkan konten untuk banyak platform digital yang dapat dinikmati saat kerja, berpergian, waktu santai atau waktu-waktu lainnya. Baik secara individu maupun kolektif.
  • Saat membuat konten, pikirkan juga bagaimana membuat orang lain melihatnya. Pastikan konten terdistribusi dengan luas.
  • Pahami audiens dengan sebaik-baiknya.
  • Tetapkan tujuan atau target konten dan ukur pencapaiannya.
  • Jangan takut untuk segera merubah strategi dan formula konten jika ada gejala target dan tujuan konten tidak tercapai.
  • Jadilah trend setter atau berani menciptakan tren baru.
  • Ciptakan hubungan emosional dengan audiens, tak hanya membaca pikiran mereka.
  • Jangan lupa jadikan media sosial sebagai senjata utama untuk menyebarkan konten Anda!.

Selamat berkreasi! **

The post Konten Digital, Cara Baru Menikmati dan Menyajikan Informasi appeared first on yogasdesign.

]]>
Konten Gratis untuk Kebutuhan Produk Kreatif https://yogasdesign.com/konten-gratis-untuk-kebutuhan-produk-kreatif/ Sun, 18 Aug 2019 14:49:36 +0000 http://yogasdesign.com/?p=539 Kebutuhan konten gratis baik berupa vector, illustrasi kartun, maupun foto dan video menjadi lebih agresif semenjak platform digital menjadi konsumsi utama publik dalam memperoleh informasi. Tentunya termauk keberadaan media sosial yang tak bisa lepas dari Baca Selengkapnya...

The post Konten Gratis untuk Kebutuhan Produk Kreatif appeared first on yogasdesign.

]]>
Kebutuhan konten gratis baik berupa vector, illustrasi kartun, maupun foto dan video menjadi lebih agresif semenjak platform digital menjadi konsumsi utama publik dalam memperoleh informasi. Tentunya termauk keberadaan media sosial yang tak bisa lepas dari keseharian manusia modern saat ini.

konten gratis-yogasdesign
Photo by bruce mars on Unsplash

Berbagai macam konten gratis kreatif dibuat untuk mengakomodir makin variatifnya keinginan audiens menelan informasi yang tersebar di dunia maya. Publik tak lagi hanya berkubutuhan terhadap informasi standar yang disajikan oleh banyak situs. Tapi juga bentuk-bentuk baru kaya kreatifitas seperti, infografis, videografis, blog vlog, hingga web series dan banyak lagi.

Salah satu kebutuhan yang terus meningkat tentunya adalah foto, ilustrasi vector dan video sebagai unsur utama kaya visual. Tapi, tidak semua penyedia konten informasi siap memproduksinya. Pastinya unsur pembiayaan dan skill juga menjadi pertimbangan khusus. Bahkan untuk berlangganan situs penyedia stok vector, foto maupun video.

Tapi beruntunglah, justru saat ini makin banyak platform penyedia konten gratis berupa stok foto dan video (footage) yang memberlakukan aturan penggunaan cuma-cuma kepada siapapun yang memerlukannya. Bahkan beberapanya para penyedia konten ini tidak mewajibkan adanya credit title untuk pemuatannya. Anda hanya perlu melakukan registrasi, lalu sign in dan bebas memilih konten gratis untuk didownload, dan tidak sedikit pula yang tak perlu registrasi.

Nah, berikut beberapa situs penyedia konten gratis berupa foto. vector, illustrasi dan video yang bebas digunakan untuk keperluan apa saja termasuk beberapanya bisa untuk tujuan komersil, sejauh tidak diklaim sebagai karya sendiri dan diperjualbelikan atau didistribusikan ulang kepada pihak lain. Jangan lupa untuk membaca aturan pemakainnya dan ada baiknya penggunaan menyertakan credit title atau attribution sebagai rasa menghargai kepada karya para penyedia konten gratis ini.**

Pixabay

yogasdesign Pixabay image

Pexels

yogasdesign-Pexels-image

Unsplash

yogasdesign-Unsplash-image

Maxpixel

yogasdesign-Maxpixel-image

Rawpixel

yogasdesign-Rawpixel-image

Publicdomainpictures

yogasdesign-Publicdomain-image

Stocksnap

yogasdesign-Stocksnap-image

Videvo

yogasdesign-Videvo-image

Stockfootageforfree

yogasdesign-Stockfootagefree-image

Videezy

yogasdesign-Veedizy-image

Coverr

yogasdesign-Coverr-image

Mazwai

yogasdesign-Mazwai-image

Publicdomainvectors

yogasdesign-Publicvector-image

Stockio

yogasdesign-Stockio-image

Vexels

yogasdesign-Vexels-image

123freevectors

yogasdesign-123vector-image

Freepik

yogasdesign-Freepik-image

Flaticon

yogasdesign-Flaticon-image

The post Konten Gratis untuk Kebutuhan Produk Kreatif appeared first on yogasdesign.

]]>
Saat Timor Leste Menggali Ilmu Media Relations di Indonesia https://yogasdesign.com/timor-leste-gali-ilmu-media-relations-di-indonesia/ Wed, 28 Nov 2018 03:11:14 +0000 http://yogasdesign.com/?p=524 Hubungan masyarakat disingkat Humas, juga dikenal dalam bahasa inggris sebagai Public Relations (PR). Secara definisi banyak sekali versinya. Salah satu yang banyak ditemukan dalam literatur adalah definisi yang dirilis International Public Relations Association (IPRA), berikut Baca Selengkapnya...

The post Saat Timor Leste Menggali Ilmu Media Relations di Indonesia appeared first on yogasdesign.

]]>
Hubungan masyarakat disingkat Humas, juga dikenal dalam bahasa inggris sebagai Public Relations (PR). Secara definisi banyak sekali versinya. Salah satu yang banyak ditemukan dalam literatur adalah definisi yang dirilis International Public Relations Association (IPRA), berikut ini:

Hubungan masyarakat atau Public Relations adalah sebuah fungsi manajemen yang terencana dan berkelanjutan, organisasi induk dan lembaga swasta atau publik yang bertujuan untuk mendapatkan pengertian, simpati, dan dukungan dari pihak – pihak terkait atau yang memiliki hubungan dengan penelitian opini publik di antara mereka

Photo by rawpixel on Unsplash

Hubungan masyarakat (Humas) atau Public Relations (PR) juga merupakan bentuk seni berkomunikasi dengan publik untuk membangun saling pengertian, menghindari kesalahpahaman dan mispersepsi, sekaligus membangun citra positif lembaga.

Sebagai sebuah profesi, seorang Humas banyak memikul tanggung jawab dalam memberikan informasi, mendidik, meyakinkan, meraih simpati, dan membangkitkan ketertarikan masyarakat akan sesuatu atau membuat masyarakat mengerti dan menerima sebuah situasi.

Adapun pekerjaan-pekerjaan yang biasa dikerjakan humas, antara lain:

  • Mengenalkan instasi/perusahaan
  • Mengorganisasi kegiatan untuk membentuk citra.
  • Menyebarkan informasi kepada publik.
  • Mengevaluasi opini publik
  • Membuat program-program yang melibatkan masyarakat
  • Membina hubungan dengan media (pers)
  • Melakukan persuasi dan negoisasi dengan berbagai pihak.
  • Membuat program-program yang bermanfaat bagi kesejahteraan sosial
  • Mengelola media sosial
  • Media monitoring

Sedangkan tanggung jawab fungsional Humas itu sendiri adalah:

  • Relasi Eksternal: Komunikasi dengan kelompok orang-orang di luar instansi/perusahaan.
  • Relasi Internal: Komunikasi untuk menjaga hubungan antara karyawan, manajer, serikat pekerja, pemegang saham, dan kelompok internal lainnya.
  • Relasi Media. Komunikasi yang dilakukan perusahaan dengan media massa.

Khusus untuk urusan relasi dengan media (media relations) banyak praktisi yang mengategorikannya sebagai bagian dari relasi eksternal. Tapi beberapa praktisi kehumasan ada juga yang menganggap hubungan dengan media merupakan bidang tersendiri di luar humas.

Hal ini bukanlah sesuatu yang perlu menjadi perdebatan. Toh, esensinya media relations adalah bagaimana seorang humas yang menjadi wakil sebuah lembaga untuk berhubungan dengan media ataupun wartawan, harus juga mengetahui bagaimana pola hubungan yang ideal.

Untuk itulah, dalam rangka pengembangan peran dan fungsi humas dalam lembaga pemerintahan di Timor Leste, khuusnya dalam lingkungan kementrian keuangan negera tersebut, penulis ditunjuk menjadi salah satu nara sumber untuk memaparkan seluk beluk “Media Relations”. Adapun acara tersebut bertajuk “Media Strategy for Communication” yang diselengarakan Ministry of Planning and Finance Democratic Republic of Timor-Leste, diadakan di Jakarta, 12-17 November 2018.

Negara yang pada 2018 berpopulasi sekitar 1,3 juta jiwa tersebut memandang perlu menggali lebih banyak soal ilmu kehumasan di Indonesia. Maklum saja usia kemerdekaannya yang masih seumur jagung memang menuntut mereka harus banyak belajar kepada negara-negara tetangga. Terutama dengan Indonesia yang secara historis punya kedekatan emosional.

Faktanya, seperti diungkapkan para staf  Ministry of Planning and Finance Democratic Republic of Timor-Leste, jumlah media di negara ini belum banyak. Terhitung yang bisa diperhitungkan eksistensinya ada lima media. Itupun termasuk semua kategori media. Televisi, cetak, online dan radio. Kegiatan kehumasan secara umum juga belum terstruktur. Walaupun beberapa bentuk kegiatannya sudah sering dilakukan. Pers juga masih sangat pasif terhadap pemuatan berita menyangkut kepemerintahan. Regulasi media online dan internet sementara ini belum direalisasi.

Lalu apa saja yang dipaparkan dalam event tersebut, Anda yang berminat membacanya dapat mengunduh modul berjudul “Media Relations: Harmonisasi Humas dan Media Massa”, di tautan ini: DOWNLOAD

The post Saat Timor Leste Menggali Ilmu Media Relations di Indonesia appeared first on yogasdesign.

]]>