The post Jenis Perilaku Konsumen yang Bertindak Sebagai Produsen appeared first on yogasdesign.
]]>
Photo by Anete Lusina from Pexels
Konsep prosumer ini tak sekadar berfokus pada consumer (pelanggan), tapi juga ikut melibatkan pelanggan ke dalam proses produksi. Strategi dan keputusan operasional yang biasanya di putuskan sendiri, saat ini ikut melibatkan pelanggan. Kemudian jenis perilaku konsumen dengan konsep ini terus berkembang mengikuti zaman. Don Tapscott di tahun 1995, melalui bukunya “The Digital Economy: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence” menyertakan istilah prosumer dalam salah satu ciri dari kondisi dunia yang berada di era ekonomi digital.
Dalam bukunya itu, Don Tapscott menguraikan bahwa di dalam ekonomi digital batasan antara konsumen dan produsen yang selama ini terlihat jelas menjadi kabur. Hampir semua konsumen teknologi informasi dapat dengan mudah menjadi produsen yang siap menawarkan produk dan jasanya kepada masyarakat dan komunitas bisnis.
Adalah fakta bahwa kemudahan-kemudahan yang disediakan teknologi informasi dan digital tak sekadar menjadikan berbagai aktivitas sehari-hari menjadi lebih mudah. Tapi juga sudah dalam tahap merubah perilaku yang lebih dalam. Kemampuan teknologi melayani keinginan manusia semakin hari semakin beragam. Termasuk tentunya dalam berkreativitas.
Contoh sederhana dari jenis perilaku konsumen dengan konsep prosumer bisa kita temukan misalnya pada bidang clothing. Di mana konsumen dengan hanya mengakses satu situs produsen t-shirt, ia bisa mengkustomasi keinginannya sendiri. Dari jenis dan warna kaos, gambar, hingga pengiriman dan pastinya pembayaran.
Atau contoh lain, saat seseorang belanja aplikasi instant graphic design di application store untuk kebutuhan promosi usaha kecilnya, lalu justru mempelajari cara kerja aplikasi dengan detail. Sehingga ia pun berani menawarkan jasa desain konten media sosial kepada publik dengan menggunakan aplikasi tersebut.
Lahirnya Content Creator
Seiring waktu berjalan, zaman terus berubah, paltform baru digital bertumbuhan. Dari video streaming, audio streaming, media sosial, hingga marketplace berkembang dengan agresif. Hiruk pikuknya menelurkan satu profesi yang jadi idola baru, content creator. Ya, profesi ini memang hanya salah satu yang mendapat keuntungan lebih dari kemudahan-kemudahan yang ditawarkan teknologi informasi dan digital.

Photo by YogasDesign
Ilustrasi ini juga bisa jadi sedikit gambaran kemudahan terjadinya jenis perilaku konsumen dengan konsep prosumer. Seorang desainer grafis membutuhkan personal website untuk sosialisasi jasanya. Ia menghubungi web developer, lalu dibangulah website tersebut. Berdasarkan penggalian info dari beberapa kalangan, ia akhirnya mengetahui bahwa saat ini sudah ada marketplace yang menyediakan banyak web template dengan harga bersahabat, bahkan berstatus free to use. Dan ia mulai mencoba melakukan improvisasi pengembangan pada website yang awalnya sudah dibangun oleh web developer.
Lebih lanjut ia makin agresif mengakses web template marketpalce sambil mencari tutorial yang melimpah di video streaming maupun konten website. Dikit demi sedikit mulai menguasai, hingga ia pelajari soal pembelian hosting dan domain. Personal website yang sudah dimilikinya menjadi kelinci percobaan. Dan selanjutnya hanya hitungan bulan, ia sudah piawai menjual jasa web development untuk pemula. Saat ia terus fokus, dalam hitungan tahun sudah menjadi web management consultant.
Begitu pula yang terjadi di zona content creator. Dari sekadar penikmat atau pengguna jasa, lalu tertarik dan merasa punya passion dan bakat kreatif. Dengan energi belajar yang tinggi, sebagai pengguna jasa ia tak lagi hanya menunggu hasil. Tapi mulai membenamkan diri dalam proses produksi. Kreasi-kreasi baru ikut dibenamkan berdasarkan pengetahuan yang sudah digalinya. Selanjutnya, dengan modal yang dia usahakan untuk sekadar mewujudkan pengadaan perangkat kelas pemula, jadilah ia seorang yang mulai berani berprofesi sebagai content creator.
Semudah itu? Tentu tidak. Agar konsisten menjalankan profesinya, akan butuh ilmu-ilmu lain yang berkaitan, walau hanya sekitar permukaan. Seperti manajemen usaha, manajemen produksi, pengetahuan software dan hardware yang terbarukan, digital and social media marketing, multimedia editing dan seabrek ilmu-ilmu generasi baru yang ada.
Penulis jadi teringat saat masa keemasan ikan Louhan di Indonesia pada 2004. Dari yang yang sekedar penikmat atau mereka yang percaya adanya keberuntungan memelihara ikan ini, akhirnya berduyun-duyun menjadi peternak. Pengembangbiakan yang mudah dipelajari merubah perilaku para pembeli ikan Louhan untuk kesenangan pribadi menjadi penjual bibit hingga ikan yang sudah siap pajang.
Lalu menemukan titik jenuh di 2005 dan harga jual ikan yang tergolong istimewa ini jatuh dalam titik terendah. Hanya mereka-mereka yang fokus menjual ikan hias ditambah beberapa mantan penikmat yang jadi penjual dengan bekal hasrat tingginya, yang tetap bertahan.
Pelajaran yang dapat diambil adalah, menjadi instan karena kemudahan pengetahuan tidak lantas membuat kita berhenti belajar dan merasa tak ada lagi perubahan yang berkelanjutan. Juga sebaliknya, bagi para produsen atau profesional yang merasa terancam dengan kedatangan prosumer, justru harusnya bisa lebih andal menghasilkan produk yang ideal dengan segala bekal pengetahuan dan pengalamannya. Bukan hanya bisa mengeluh dengan banyak hal baru yang disodorkan kemajuan teknologi.

Photo by Yogas Design from Pexels
Faktor Pendorong
Konsep prosumer ini memang sudah banyak menghasilkan perubahan perilaku pada konsumen. Adalah penting untuk memahami faktor apa saja yang mendorong perubahan ini? Situs medium.com secara garis besar memaparkan:
The post Jenis Perilaku Konsumen yang Bertindak Sebagai Produsen appeared first on yogasdesign.
]]>The post MBOK BEREK Website appeared first on yogasdesign.
]]>
The post MBOK BEREK Website appeared first on yogasdesign.
]]>
The post FOOD & BEVERAGES MENU appeared first on yogasdesign.
]]>
The post CALENDAR appeared first on yogasdesign.
]]>
The post COMPANY PROFILE appeared first on yogasdesign.
]]>The post Konten Gratis untuk Kebutuhan Produk Kreatif appeared first on yogasdesign.
]]>
Photo by bruce mars on Unsplash
Berbagai macam konten gratis kreatif dibuat untuk mengakomodir makin variatifnya keinginan audiens menelan informasi yang tersebar di dunia maya. Publik tak lagi hanya berkubutuhan terhadap informasi standar yang disajikan oleh banyak situs. Tapi juga bentuk-bentuk baru kaya kreatifitas seperti, infografis, videografis, blog vlog, hingga web series dan banyak lagi.
Salah satu kebutuhan yang terus meningkat tentunya adalah foto, ilustrasi vector dan video sebagai unsur utama kaya visual. Tapi, tidak semua penyedia konten informasi siap memproduksinya. Pastinya unsur pembiayaan dan skill juga menjadi pertimbangan khusus. Bahkan untuk berlangganan situs penyedia stok vector, foto maupun video.
Tapi beruntunglah, justru saat ini makin banyak platform penyedia konten gratis berupa stok foto dan video (footage) yang memberlakukan aturan penggunaan cuma-cuma kepada siapapun yang memerlukannya. Bahkan beberapanya para penyedia konten ini tidak mewajibkan adanya credit title untuk pemuatannya. Anda hanya perlu melakukan registrasi, lalu sign in dan bebas memilih konten gratis untuk didownload, dan tidak sedikit pula yang tak perlu registrasi.
Nah, berikut beberapa situs penyedia konten gratis berupa foto. vector, illustrasi dan video yang bebas digunakan untuk keperluan apa saja termasuk beberapanya bisa untuk tujuan komersil, sejauh tidak diklaim sebagai karya sendiri dan diperjualbelikan atau didistribusikan ulang kepada pihak lain. Jangan lupa untuk membaca aturan pemakainnya dan ada baiknya penggunaan menyertakan credit title atau attribution sebagai rasa menghargai kepada karya para penyedia konten gratis ini.**



![]()
![]()












![]()
The post Konten Gratis untuk Kebutuhan Produk Kreatif appeared first on yogasdesign.
]]>The post Saat Timor Leste Menggali Ilmu Media Relations di Indonesia appeared first on yogasdesign.
]]>Hubungan masyarakat atau Public Relations adalah sebuah fungsi manajemen yang terencana dan berkelanjutan, organisasi induk dan lembaga swasta atau publik yang bertujuan untuk mendapatkan pengertian, simpati, dan dukungan dari pihak – pihak terkait atau yang memiliki hubungan dengan penelitian opini publik di antara mereka

Photo by rawpixel on Unsplash
Hubungan masyarakat (Humas) atau Public Relations (PR) juga merupakan bentuk seni berkomunikasi dengan publik untuk membangun saling pengertian, menghindari kesalahpahaman dan mispersepsi, sekaligus membangun citra positif lembaga.
Sebagai sebuah profesi, seorang Humas banyak memikul tanggung jawab dalam memberikan informasi, mendidik, meyakinkan, meraih simpati, dan membangkitkan ketertarikan masyarakat akan sesuatu atau membuat masyarakat mengerti dan menerima sebuah situasi.
Adapun pekerjaan-pekerjaan yang biasa dikerjakan humas, antara lain:
Sedangkan tanggung jawab fungsional Humas itu sendiri adalah:
Khusus untuk urusan relasi dengan media (media relations) banyak praktisi yang mengategorikannya sebagai bagian dari relasi eksternal. Tapi beberapa praktisi kehumasan ada juga yang menganggap hubungan dengan media merupakan bidang tersendiri di luar humas.
Hal ini bukanlah sesuatu yang perlu menjadi perdebatan. Toh, esensinya media relations adalah bagaimana seorang humas yang menjadi wakil sebuah lembaga untuk berhubungan dengan media ataupun wartawan, harus juga mengetahui bagaimana pola hubungan yang ideal.
Untuk itulah, dalam rangka pengembangan peran dan fungsi humas dalam lembaga pemerintahan di Timor Leste, khuusnya dalam lingkungan kementrian keuangan negera tersebut, penulis ditunjuk menjadi salah satu nara sumber untuk memaparkan seluk beluk “Media Relations”. Adapun acara tersebut bertajuk “Media Strategy for Communication” yang diselengarakan Ministry of Planning and Finance Democratic Republic of Timor-Leste, diadakan di Jakarta, 12-17 November 2018.
Negara yang pada 2018 berpopulasi sekitar 1,3 juta jiwa tersebut memandang perlu menggali lebih banyak soal ilmu kehumasan di Indonesia. Maklum saja usia kemerdekaannya yang masih seumur jagung memang menuntut mereka harus banyak belajar kepada negara-negara tetangga. Terutama dengan Indonesia yang secara historis punya kedekatan emosional.
Faktanya, seperti diungkapkan para staf Ministry of Planning and Finance Democratic Republic of Timor-Leste, jumlah media di negara ini belum banyak. Terhitung yang bisa diperhitungkan eksistensinya ada lima media. Itupun termasuk semua kategori media. Televisi, cetak, online dan radio. Kegiatan kehumasan secara umum juga belum terstruktur. Walaupun beberapa bentuk kegiatannya sudah sering dilakukan. Pers juga masih sangat pasif terhadap pemuatan berita menyangkut kepemerintahan. Regulasi media online dan internet sementara ini belum direalisasi.
Lalu apa saja yang dipaparkan dalam event tersebut, Anda yang berminat membacanya dapat mengunduh modul berjudul “Media Relations: Harmonisasi Humas dan Media Massa”, di tautan ini: DOWNLOAD
The post Saat Timor Leste Menggali Ilmu Media Relations di Indonesia appeared first on yogasdesign.
]]>
The post MAGAZINE COVERS appeared first on yogasdesign.
]]>The post Viral Marketing dan Content Spreading, Mana Lebih Menguntungkan? appeared first on yogasdesign.
]]>
https://pikwizard.com
Kemajemukan konten media yang tersebar di dunia maya mau tak mau membuat praktisi komunikasi maupun pemasaran harus menemukan formula baru lagi. Dengan mengambil inspirasi dari keberadaan viral marketing, metode penyebaran pesan juga bisa di proses turunan tujuan komunikasinya. Salah satu yang mengemuka adalah dengan “cukup” membenamkan tujuan tersebar luas tanpa terbebani misi untuk viral. Atau degan kata lain disapa dengan istilah content spreading.
Seperti apa persisnya? Intinya adalah membuat konten atau muatan materi yang dimiliki satu institusi ataupun brand seluas mungkin terlihat oleh publik yang sudah ditentukan segmennya. Content spreading tidak memfokuskan pada tujuan “link click” maupun dibagi-bagikan ulangnya konten oleh publik. Konten yang termuat memang tak sekadar tautan berita ataupun segala jenis media seperti foto dan video, tapi juga bermacam brand maupun corporate activity, seperti penyelenggaraan event, CSR activity, creative content, dll. Relatif tidak ada perbedaan dengan muatan konten pada aktifitas viral marketing.
Membuat publik sasaran aware dengan keberadaan brand adalah default objective yang menjadi dasar dilakukannya content spreading. Dari situ bisa disisipkan juga beberapa tujuan komunikasi yang ingin disampaikan. Seperti memperlihatkan eksistensi kepada rekanan bisnis seperti calon sponsor atau bahkan calon investor.
Nampaknya memang metode content spreading ini menjadi lebih tepat guna dibanding viral marketing dalam tujuan pemasaran yang berbeda. Viral marketing lebih menitikberatkan pada tujuan web visitor dan aktifitas membagikan ulang konten yang diproduksi, termasuk juga biasanya berujung pada percepatan angka-angka pada media analytic data, dan kemudian juga sedikit banyak berpengaruh pada pengakuan publik terhadap brand maupun produk.
Dalam content spreading aktifitas yang dilakukan seperti tidak mempedulikan tujuan “link click” ataupun menggantungkan harapan kepada publik untuk membagikan ulang . Yang dilakukan adalah mengusahakan agar publik yang berkepentingan ataupun punya korelasi dengan brand terjangkau dalam aktifitas penyebaran pesan. Apakah nantinya sekadar melihat dalam timeline media sosial sambil lewat, atau beraktifitas lebih dalam dengan melalukan investigasi terhadap eksistensi brand tersebut. Dari sini jelas bahwa formula ini lebih cocok untuk aktifitas branding, atau yang banyak didefiniskan sebagai proses membenamkan brand pada benak dan hati konsumen melalui berbagai cara yang memberikan dampak bagi kehidupan konsumen tersebut. Lalu biasanya dilanjutkan dengan menjalankan program positioning.
Memang, content spreading ini akan lebih banyak upaya melakukan sendiri aktifitas penyebarannya. Utamanya dengan menggunakan social media ads dengan memilah-milah audiens yang dituju secara spesifik. Selain itu saluran komunikasi dengan chat engine yang sudah menyediakan fitur group chat ataupun channel, bisa membantu perluasan sebaran konten. Dari jenis kelamin, usia, personal interest, geografi, dan tentunya pekerjaan. Dalam viral marketing, selain juga mengandalkan social media booster, upaya yang paling banyak meguras tenaga adalah kreatifitas dan perencanaan konten yang terbebani dengan misi viral. Keharusan untuk memenuhi standard konten berpotensi viral pun belum tentu punya hasil yang signifikan.
Dari paparan sederhana ini, secara umum dapat diasumsikan bahwa viral marketing lebih mengadopsi prinsip hard selling, sedangkan content spreading pada prinsip soft selling. Jadi, tak usah kecewa lagi bagi yang gagal dalam merancang viral content, karena masih banyak varian-varian ataupun formula baru dalam rangka membesarkan brand maupun nama korporasi tanpa harus “mengemis” dalam lingakaran dunia viral.
The post Viral Marketing dan Content Spreading, Mana Lebih Menguntungkan? appeared first on yogasdesign.
]]>The post MALE INDONESIA Web Portal appeared first on yogasdesign.
]]>Videographics by Ferry Ardianto
The post MALE INDONESIA Web Portal appeared first on yogasdesign.
]]>