The post WISATA LIBURAN Website appeared first on yogasdesign.
]]>
The post WISATA LIBURAN Website appeared first on yogasdesign.
]]>The post IBRAF 2017 Event Website appeared first on yogasdesign.
]]>
The post IBRAF 2017 Event Website appeared first on yogasdesign.
]]>The post TRANS TV Website appeared first on yogasdesign.
]]>
The post TRANS TV Website appeared first on yogasdesign.
]]>The post Jenis Perilaku Konsumen yang Bertindak Sebagai Produsen appeared first on yogasdesign.
]]>
Photo by Anete Lusina from Pexels
Konsep prosumer ini tak sekadar berfokus pada consumer (pelanggan), tapi juga ikut melibatkan pelanggan ke dalam proses produksi. Strategi dan keputusan operasional yang biasanya di putuskan sendiri, saat ini ikut melibatkan pelanggan. Kemudian jenis perilaku konsumen dengan konsep ini terus berkembang mengikuti zaman. Don Tapscott di tahun 1995, melalui bukunya “The Digital Economy: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence” menyertakan istilah prosumer dalam salah satu ciri dari kondisi dunia yang berada di era ekonomi digital.
Dalam bukunya itu, Don Tapscott menguraikan bahwa di dalam ekonomi digital batasan antara konsumen dan produsen yang selama ini terlihat jelas menjadi kabur. Hampir semua konsumen teknologi informasi dapat dengan mudah menjadi produsen yang siap menawarkan produk dan jasanya kepada masyarakat dan komunitas bisnis.
Adalah fakta bahwa kemudahan-kemudahan yang disediakan teknologi informasi dan digital tak sekadar menjadikan berbagai aktivitas sehari-hari menjadi lebih mudah. Tapi juga sudah dalam tahap merubah perilaku yang lebih dalam. Kemampuan teknologi melayani keinginan manusia semakin hari semakin beragam. Termasuk tentunya dalam berkreativitas.
Contoh sederhana dari jenis perilaku konsumen dengan konsep prosumer bisa kita temukan misalnya pada bidang clothing. Di mana konsumen dengan hanya mengakses satu situs produsen t-shirt, ia bisa mengkustomasi keinginannya sendiri. Dari jenis dan warna kaos, gambar, hingga pengiriman dan pastinya pembayaran.
Atau contoh lain, saat seseorang belanja aplikasi instant graphic design di application store untuk kebutuhan promosi usaha kecilnya, lalu justru mempelajari cara kerja aplikasi dengan detail. Sehingga ia pun berani menawarkan jasa desain konten media sosial kepada publik dengan menggunakan aplikasi tersebut.
Lahirnya Content Creator
Seiring waktu berjalan, zaman terus berubah, paltform baru digital bertumbuhan. Dari video streaming, audio streaming, media sosial, hingga marketplace berkembang dengan agresif. Hiruk pikuknya menelurkan satu profesi yang jadi idola baru, content creator. Ya, profesi ini memang hanya salah satu yang mendapat keuntungan lebih dari kemudahan-kemudahan yang ditawarkan teknologi informasi dan digital.

Photo by YogasDesign
Ilustrasi ini juga bisa jadi sedikit gambaran kemudahan terjadinya jenis perilaku konsumen dengan konsep prosumer. Seorang desainer grafis membutuhkan personal website untuk sosialisasi jasanya. Ia menghubungi web developer, lalu dibangulah website tersebut. Berdasarkan penggalian info dari beberapa kalangan, ia akhirnya mengetahui bahwa saat ini sudah ada marketplace yang menyediakan banyak web template dengan harga bersahabat, bahkan berstatus free to use. Dan ia mulai mencoba melakukan improvisasi pengembangan pada website yang awalnya sudah dibangun oleh web developer.
Lebih lanjut ia makin agresif mengakses web template marketpalce sambil mencari tutorial yang melimpah di video streaming maupun konten website. Dikit demi sedikit mulai menguasai, hingga ia pelajari soal pembelian hosting dan domain. Personal website yang sudah dimilikinya menjadi kelinci percobaan. Dan selanjutnya hanya hitungan bulan, ia sudah piawai menjual jasa web development untuk pemula. Saat ia terus fokus, dalam hitungan tahun sudah menjadi web management consultant.
Begitu pula yang terjadi di zona content creator. Dari sekadar penikmat atau pengguna jasa, lalu tertarik dan merasa punya passion dan bakat kreatif. Dengan energi belajar yang tinggi, sebagai pengguna jasa ia tak lagi hanya menunggu hasil. Tapi mulai membenamkan diri dalam proses produksi. Kreasi-kreasi baru ikut dibenamkan berdasarkan pengetahuan yang sudah digalinya. Selanjutnya, dengan modal yang dia usahakan untuk sekadar mewujudkan pengadaan perangkat kelas pemula, jadilah ia seorang yang mulai berani berprofesi sebagai content creator.
Semudah itu? Tentu tidak. Agar konsisten menjalankan profesinya, akan butuh ilmu-ilmu lain yang berkaitan, walau hanya sekitar permukaan. Seperti manajemen usaha, manajemen produksi, pengetahuan software dan hardware yang terbarukan, digital and social media marketing, multimedia editing dan seabrek ilmu-ilmu generasi baru yang ada.
Penulis jadi teringat saat masa keemasan ikan Louhan di Indonesia pada 2004. Dari yang yang sekedar penikmat atau mereka yang percaya adanya keberuntungan memelihara ikan ini, akhirnya berduyun-duyun menjadi peternak. Pengembangbiakan yang mudah dipelajari merubah perilaku para pembeli ikan Louhan untuk kesenangan pribadi menjadi penjual bibit hingga ikan yang sudah siap pajang.
Lalu menemukan titik jenuh di 2005 dan harga jual ikan yang tergolong istimewa ini jatuh dalam titik terendah. Hanya mereka-mereka yang fokus menjual ikan hias ditambah beberapa mantan penikmat yang jadi penjual dengan bekal hasrat tingginya, yang tetap bertahan.
Pelajaran yang dapat diambil adalah, menjadi instan karena kemudahan pengetahuan tidak lantas membuat kita berhenti belajar dan merasa tak ada lagi perubahan yang berkelanjutan. Juga sebaliknya, bagi para produsen atau profesional yang merasa terancam dengan kedatangan prosumer, justru harusnya bisa lebih andal menghasilkan produk yang ideal dengan segala bekal pengetahuan dan pengalamannya. Bukan hanya bisa mengeluh dengan banyak hal baru yang disodorkan kemajuan teknologi.

Photo by Yogas Design from Pexels
Faktor Pendorong
Konsep prosumer ini memang sudah banyak menghasilkan perubahan perilaku pada konsumen. Adalah penting untuk memahami faktor apa saja yang mendorong perubahan ini? Situs medium.com secara garis besar memaparkan:
The post Jenis Perilaku Konsumen yang Bertindak Sebagai Produsen appeared first on yogasdesign.
]]>The post Bekerja dari Rumah, Bukan Hanya Cara Baru appeared first on yogasdesign.
]]>
Photo by Ravi Kant from Pexels
Tapi, bukan soal sejarah yang hendak dibicarakan. Pokok pembahasan ada pada tren “Bekerja dari Rumah’ yang pelakunya melonjak sejak wabah virus Corona (COVID-19) merebak. Lalu menjadi rekomendasi terdepan bagi para profesional yang terbiasa pergi bekerja ke kantor..
Bahkan metode bekerja ini juga merubah perilaku para pekerja lepas atau freelancer yang sempat memproklamirkan diri dengan istilah baru, mobile worker. Di mana mereka bisa bekerja ke mana saja. Kantor teman, coworking space, restoran dan kafe, atau bahkan di taman bermain sekalipun.
Nampaknya COVID-19 telah memaksa hampir semua bidang pekerjaan untuk merancang ulang kebiasaan beraktivitas. Mengedepankan pemberdayaan bekerja dari rumah adalah yang jadi dasar. Dari soal lobbying, koordinasi antar rekan kerja hingga meeting besar, bisa dikatakan harus dilakukan dari rumah.
Seiring keberadaan teknologi digital yang sudah menjadi pilihan primer hampir seluruh lapisan masyarakat, tak kurang para raksasa digital menyambut kultur kerja baru ini. Catat saja misalnya di ranah aplikasi virtual meeting. Zoom besutan Eric Yuan hingga Google yang mengembangkan G-Meet, Cisco dengan WebX nya, atau Skype yang berkolaborasi dengan Microsoft membenamkan “Meet Now” pada Windows 10.
Tak bisa dimungkiri, masih banyak yang tergagap-gagap mempraktikkan kultur kerja baru ini. Dari soal penguasaan teknologi, kendala jaringan internet, webcam yang di bawah standar, hingga belum bisa membangun chemistry atau kedekatan emosi saat virtual meeting.
Sering kali persoalan tidak lantas tuntas setelah melakukan pertemuan online. Tapi hal ini dipercaya hanya sebagai proses adaptasi yang merupakan bagian dari perubahan cara kerja dan peradaban secara umum.
Lalu selain soal penguasaan teknologi, apa saja yang harus disiapkan dan disikapi dalam membiasakan diri dengan kultur “Bekerja dari Rumah”?
Area Khusus
Area khusus yang di maksud adalah space yang sudah ditentukan untuk bekerja. Di mana akan diletakkan komputer/laptop, printer dan perangkat-perangkat kerja lainnya. Termasuk juga wajib diperhatikan hubungannya dengan sumber daya listrik, dan meminimalisir gangguan.

Photo by Mikey Harris on Unsplash
Area kerja tidak harus besar, prinsipnya adalah bisa duduk dan berhadapan dengan perangkat kerja utama. Gunakankanlah perabot interior portable yang bisa dengan mudah dikemas dan dipindah-pindahkan. Dan pilihlah yang tidak banyak memakan tempat, karena tidak semua rumah tersedia space yang luas.
Soal adanya distorsi ataupun gangguan dari faktor-faktor lain, seperti anak yang masih kecil dan sering ingin nimbrung, suara-suara tak terduga di lingkungan sekitar atau urusan rumah tangga lain, percayalah, waktu yang akan menjawab. Pasti Anda akan dapat mengatur polanya.
Perangkat Utama
Perangkat kerja yang jadi senjata utama seperti komputer, baik itu dalam bentuk laptop, tablet ataupun PC adalah fasilitas yang wajib ada. Apakah itu inventaris pribadi maupun yang sudah disediakan kantor. Lalu keberadaan smartphone pastinya menjadi persyaratan mutlak. Pastikan beberapa software dan aplikasi penting yang berhubungan dengan pekerjaan sudah ter-install.
Jaringan Internet
Ketersediaan jaringan internet adalah infrastruktur mendasar. Tanpa adanya internet, Anda takkan berdaya menyelesaikan pekerjaan di rumah. Coba ditimbang-timbang, apakah akan terus tergantung dengan metode tathering lewat perangkat selular, menggunakan mobile modem atau lebih ideal berlangganan internet untuk kapasitas rumah dan keluarga. Ingat, jika kebutuhan terhadap internet tergolong massive, dengan menggunakan metode tathering justru akan membuat smartphone cepat rusak. Perhitungkan pula efesiensi anggarannya.
Pakaian yang Nyaman
Gunakanlah pakaian yang membuat nyaman bekerja dan tetap merasa sedang dalam pekerjaan. Bukan lantas terlalu santai hanya menggunakan pakaian seadanya seperti kaos singlet dan celana pendek untuk tidur. Bangunlah spirit bekerja walau hanya di rumah dengan membedakan pakaian saat Anda bekerja dengan saat tidak bekerja atau bersantai. Tidak perlu terlalu formal, tetap selalu rileks, tapi pantaskanlah diri untuk siap berhadapan dengan pekerjaan dan dengan orang-orang yang akan berinteraksi secara virtual.
Mengatur Waktu
Salah satu previlage yang dirasakan saat “Bekerja dari Rumah” adalah fleksibilitas. Anda bisa kapan saja menentukan waktu mulai bekerja dan kapan istirahat. Tapi ingat, untuk mendukung produkstivitas yang stabil, perlakukanlah saat di rumah layaknya di kantor. Bekerja dalam waktu yang kurang lebih sama. Tidak kemudian justru mengulur-ulur waktu atau juga berlebihan hanya karena merasa tidak kemana-mana. Setiap individu harus mengatur dan membatasi diri dalam bekerja. Ada saatnya memulai, ada saatnya beristirahat.

Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
Fasilitas Tambahan
Pikirkanlah beberapa fasilitas pendukung agar pekerjaan dengan segala lalu lintasnnya dapat dilakukan online. Penggunaan email tak bisa ditawar. Pertimbangkan juga penggunaan fasilitas cloud computing yang berkapasitas memadai untuk mengumpulkan pekerjaan, sehingga dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Penggunaan jasa cloud paket personal yang tak terlalu mahal bisa jadi alternatif jika versi gratis dari yang sudah ada tak cukup. Jangan lupa sediakan external harddisk untuk backup data-data yang penting, agar tidak hanya ada di dalam komputer maupun cloud.
Tak hanya itu, webcam yang mendadak sering digunakan bisa pula disediakan di luar built in camera yang ada. Karena biasanya kualitas kamera yang sudah ada di laptop hanya sekadarnya. Pilihlah webcam yang sudah support HD (720p) atau setidak-tidaknya dengan kepekatan piksel minimal 480p. Tidak usah yang terlalu mahal, yang terpenting gambar yang dihasilkan lebih jelas dari built in camera berkualitas VGA, dan tentu saja mudah digunakan.
Aplikasi Produktivitas
Beberapa perusahaan sudah giat membangun aplikasi pendukung yang akan menyokong produktivitas dan kemudahan bekerja di rumah. Dari aplikasi chat room, remote work management, virtual meeting, video call, web & social media analytic, cloud computing, hingga yang bernuansa hiburan.
Aplikasi-aplikasi ini sebaiknya sudah dibenamkan pada perangkat-perangkat kerja, baik smartphone ataupun komputer. Tak lupa aplikasi-aplikasi untuk keseharian juga ada baiknya dibenamkan seperti, transportasi dan pemesanan makanan online, market place, dan juga termasuk mobile banking.
Tetap Terhubung
Jadwalkan komunikasi rutin dengan tim kerja atau dengan pihak-pihak terkait pekerjaan. Tentunya dengan menggunakan fasilitas virtual meeting maupun video call. Selain tetap dapat membangun chemistry, hal ini bisa membuat Anda tetap merasa ada rekan kerja.

Photo by Chris Montgomery on Unsplash
Susunlah agenda-agenda pembahasan harian atau mingguan agar progress pekerjaan selalu dapat terpantau dan dilaporkan. Dan bagi yang mengandalkan eksekusi di lapangan, pastikan hanya keluar rumah karena sangat diperlukan atau harus. Tapi, jangan akhirnya tergoda untuk terus berada di luar.
Pembatasan Sosial
Media sosial memang diakui sudah bagaikan teman sehari-hari. Hampir tak ada waktu tanpa media sosial. Tapi saat Anda bekerja di rumah, tak akan ada yang dapat mengontrol tindak tanduk dalam beraktivitas di luar urusan kerja.
Ya, kita adalah pengontrol diri kita sendiri. Dengan terlalu banyak melayani aktivitas media sosial yang tak ada relevansinya dengan pekerjaan, bukan tak mungkin akan mengganggu fokus kerja. Atur waktu dengan baik kapan dapat menyimak media sosial, kapan menidurkannya sementara.
Begitupula dengan kebiasaan berjam-jam menyaksikan televisi atau video streaming. Hindari dulu di waktu jam kerja. Lebih afdol bunyikan musik dengan playlist yang sudah diatur sesuai selera. Atau mainkan radio yang saat ini sudah sangat mudah didengar via internet radio. Lalu, agar tak mengganggu orang lain, gunakanlah headset.
Personal Branding
Bagi para freelancer, keterbatasan mobilitas pastinya jadi handycap tersendiri. Kebiasaan wara-wiri ke mana saja untuk melakukan pekerjaan membuat para pekerja lepas harus merancang ulang pola kerja, walau realitanya relatif lebih mudah beradaptasi. Apalagi yang berurusan dengan lobi-lobi dengan klien yang menuntut adanya pendekatan ala lifestyle serta penjelasan seputar kemampuan kerja dan portfolio.
Maka bagi yang belum tergerak, mulailah membangun personal web sebagi bagian dari personal branding. Jelaskan dengan detail tanpa bertele-tele, apa yang bisa Anda kerjakan, siapa Anda, dan tentunya stunning portfolios yang membuat klien yakin dengan kapasitas Anda dan juga tim yang mungkin biasa terlibat.
Saat ini membangun personal web pun bukan hal yang costly. Banyak sekali tools yang berstatus gratis atau juga tak berbiaya mahal. Dari urusan domain, hosting hingga web theme template. Jangan lupa pelajari bagaimana personal web Anda dapat mudah ditemukan pada search engine.
Melakukan Variasi
Dengan rekomendasi menggunakan perabot interior kerja yang portable, hal ini akan menjadi kemudahan untuk mencari variasi. Apalagi saat jenuh dalam bekerja tanpa kehadiran suasana dinamis ala kantoran. Cobalah dalam periode tertentu untuk berpindah area kerja. Tak mesti dalam ruang utama rumah, tapi juga memanfaatkan teras atau bahkan taman, jika kediaman Anda cukup luas.
Bisa pula dicoba memanfaatkan area yang berdampingan dengan pohon-pohon yang jadi peliharaan. Bersatu dengan hijaunya tanaman dan ruang terbuka juga dapat menyehatkan mental. Maklumlah, salah satu tantangan bagi yang belum terbiasa bekerja sendiri di rumah adalah kenjenuhan yang cepat menghampiri.
Rehat
Waktu rehat bukanlah waktu yang menjadi skala sekunder, dia primer adanya. Karena waktu istirahat adalah waktu di mana Anda me-recharge diri sendiri. Utamanya di saat masa pandemi, sekali-kali keluar rumah untuk sekadar melihat dunia luar. Jangan lupa kemanan dan kesehatan tetap dijaga, termasuk menghindari kerumunan.

Olahraga mandiri juga menjadi kegiatan rehat yang sehat. Bersepeda ataupun jogging di tempat-tempat yang tidak ramai menjadi pilihan yang relevan jika masa pandemi masih menghantui.
Lain soal jika tidak dalam keadaan pandemi, berinteraksi offline dengan teman-teman sehobi maupun sekedar nongkrong ringan adalah waktu yang menggembirakan, dan pastinya menjadi mood booster untuk melanjutkan pekerjaan.
Selain yang sudah diuraikan, banyak hal yang masih dapat dilakukan untuk kenyamanan bekerja di rumah. Pada prinsipnya, mulailah biasakan budaya baru dalam bekerja, sambutlah peradaban baru dengan cara menyenangkan, sekaligus bersiaplah metode kerja ini menjadi standar permanen. (*)
The post Bekerja dari Rumah, Bukan Hanya Cara Baru appeared first on yogasdesign.
]]>The post MBOK BEREK Website appeared first on yogasdesign.
]]>
The post MBOK BEREK Website appeared first on yogasdesign.
]]>
The post FOOD & BEVERAGES MENU appeared first on yogasdesign.
]]>The post Kaum Intelektual, Mencerdaskan atau Membodohi? appeared first on yogasdesign.
]]>
Photo by Alexandre Pellaes on Unsplash
Sebenarnya bukan saat ini saja para intelektualis dipercaya memberikan sumbang saran bagi kepentingan umum. Dari jaman kerajaan-pun hal ini sudah dilakukan. Contohnya, seorang raja yang sangat percaya kepada para cendikiawan. Mereka dipercaya kerena potensinya masing-masing yang mencoba untuk berpikir bedasarkan proses sebab-akibat. Kalau keadaan begini, maka akibatnya begitu. Kalau keadaan begitu, maka akibatnya begini.
Di zaman sekarang ini kita juga dapat melihat bahwa, tak diminta oleh siapapun, makin banyak saja yang dengan kesadaran penuh mempraktekkan dirinya sebagai bagian dari kaum intelek. Kaum dengan tingkat intelektual di atas rata-rata. “Dari indikasi yang ada, kita diharapkan dapat meng-implementasi-kan potensi kita ke dalam proses bergaining. Sehingga tidak terjadi setback yang tak diharapkan, menyusul adanya distorsi dalam sistem yang sudah dikonfirmasikan bersama”, begitu kata salah satu pengamat sosial politik.
Lalu biasanya orang yang kebetulan ada di sekelilingnya pun dengan semangat menimpali, “Benar apa yang dikatakan teman saya ini. Dalam mencapai tingkat pengkristalan sistem, setiap personal diharapkan dapat mempertahankan kekonsistennannya sebagai elemen sistem tersebut. Bahkan, dalam rangka memulai step-step selanjutya, kausa-kausa yang telah lalu cenderung dapat kita jadikan plafond dalam menghitung kadar kesatuan atribut-atribut sistem”. Lalu decak kagum diiringi hiasan tepuk tangan, menggema di ruangan sebuah seminar.
Dengan tema “Mari Memberantas Kebutaan Politik”, seminar itu dapat menjadi contoh betapa pintarnya kaum intelektual itu. Betapa pemikiran-pemikiran mereka selalu menggunakan prosedur keilmupengetahuan. Lontaran pendapat ataupun teori seakan merupakan solusi prima dalam menyelesaikan masalah. Atau merupakan masukan terbaik mengenai sebuah masalah.
Tapi rasa-rasanya kita sudah sangat sering mendengar atau menyaksikan sendiri banyaknya diskusi-diskusi maupun seminar-seminar yang intinya mencari jalan keluar masalah yang dialami masayarakat luas. Tentang kelaparan, tentang perbankan, atau mungkin tentang seks bebas. Dan nyata-nyata dalam pandangan kita, kemiskinan tak kunjung habis. Krisis tak kunjung hilang. Dan moral tak kunjung baik.
Padahal, kalau kita simak di kehidupan sehari-hari, di Indonesia kita ini, begitu banyak para ahli yang dipercaya sebagai kaum intelektual. Kaum yang dengan serta-merta selalu mengeluarkan ‘kata-kata kuncian’ agar mendukung prediksi ataupun opini tentang bagaimana membawa Indonesia ke dalam keadaan yang lebih cerah. Lalu apa yang salah, siapa yang salah?
Rasanya sulit melihat siapa yang salah. Karena yang kita ketahui, bahwa para pecinta intelektualitas diakui sebagai orang-orang yang akan mengabdi kepada masyarakat. Mengabdikan ilmu yang sudah terlalu menumpuk di kepala untuk kepentingan masyarakat. Bukan untuk kepentingan diakuinya mereka di mata masyarakat.
Maka ada baiknya mereka yang mengaku berintelektualitas tinggi tidak hanya fasih melontarkan kata dengan kadar intelektual, tapi juga fasih melontarkan kata berdasarkan hasil pemikiran mereka sebagai intelektual sejati. Sehingga masyarakat tak termakan indikasi-indikasi, implementasi, bergaining, step, konfirmasi, setback, atau apa saja yang justru membuat mereka merasa sebagai orang paling bodoh. Atau memang masyarakat kita memang sudah terbiasa dibodoh-bodohi dan saling membodohi? *
The post Kaum Intelektual, Mencerdaskan atau Membodohi? appeared first on yogasdesign.
]]>
The post CALENDAR appeared first on yogasdesign.
]]>
The post COMPANY PROFILE appeared first on yogasdesign.
]]>