Warning: opendir(/DATA/k8016220/public_html/wp-content/mu-plugins): Failed to open directory: Permission denied in /DATA/k8016220/public_html/wp-includes/load.php on line 981

Warning: Cannot modify header information - headers already sent by (output started at /DATA/k8016220/public_html/wp-includes/load.php:981) in /DATA/k8016220/public_html/wp-includes/feed-rss2.php on line 8
digital era Archives - yogasdesign https://yogasdesign.com/tag/digital-era/ Gagasan & Kreativitas Thu, 06 Jun 2024 03:28:24 +0000 en-US hourly 1 https://wordpress.org/?v=7.0 https://yogasdesign.com/wp-content/uploads/2016/02/YogasDesign-icon3-150x150.jpg digital era Archives - yogasdesign https://yogasdesign.com/tag/digital-era/ 32 32 Manusia Modern dalam Penjara Baru Bernama Algoritma https://yogasdesign.com/pengertian-algoritma-dan-dampaknya-di-kehidupan-modern/ Thu, 06 Jun 2024 02:25:34 +0000 https://yogasdesign.com/?p=931 Untuk memahami pengertian algoritma coba perhatikan dan rasakan aktivitas digital Anda sehari-hari. Pernahkah merasakan betapa dimanjakan selera Anda dalam melihat konten video di Youtube? Atau, kala melihat iklan Google Ads di beberapa situs web, merasa Baca Selengkapnya...

The post Manusia Modern dalam Penjara Baru Bernama Algoritma appeared first on yogasdesign.

]]>
Untuk memahami pengertian algoritma coba perhatikan dan rasakan aktivitas digital Anda sehari-hari. Pernahkah merasakan betapa dimanjakan selera Anda dalam melihat konten video di Youtube? Atau, kala melihat iklan Google Ads di beberapa situs web, merasa berkaitan dengan minat Anda?

Perhatikan juga dengan cermat sewaktu menggunakan media sosial dan melihat banyak posting-an dari akun yang tidak diikuti, termasuk iklan yang secara materi sesuai dengan hal-hal yang Anda minati? Ya, algoritma melakukan ini untuk membuat Anda lebih intens dan dalam saat mengakses berbagai jenis konten di banyak platform.

Lalu apa sih, sebenarnya pengertian algoritma? Pada dasarnya algoritma merupakan serangkaian instruksi atau langkah-langkah yang dirancang dan direncanakan secara matang sehingga terurut dan terorganisir dengan baik untuk menyelesaikan suatu masalah atau mencapai tujuan tertentu.

Algoritma bisa digunakan dalam berbagai bidang, termasuk ilmu komputer, matematika, dan teknik, untuk menyelesaikan tugas-tugas yang rumit melalui metode yang sistematis dan efisien.

Berkenaan dengan pengertian algoritma, Donald Ervin Knuth, seorang ilmuwan komputer dan matematika Amerika, yang juga profesor emeritus di Universitas Stanford, menguraikan bahwa algortima memiliki beberapa karakteristik utama, yakni:

  • Keterurutan (Definiteness): Algoritma terdiri dari langkah-langkah yang jelas dan spesifik, sehingga tidak ada kebingungan tentang tindakan apa yang harus diambil pada setiap tahap.
  • Keberakhiran (Finiteness): Algoritma harus memiliki jumlah langkah yang terbatas dan pasti berakhir setelah langkah-langkah tersebut dilaksanakan.
  • Masukan (Input): Algoritma menerima sejumlah nilai awal sebagai input.
  • Keluaran (Output): Algoritma menghasilkan satu atau lebih nilai sebagai hasil akhir dari proses.
  • Keefektifan (Effectiveness): Setiap langkah dalam algoritma harus cukup sederhana sehingga dapat dilakukan dalam waktu yang terbatas dengan alat atau sumber daya yang tersedia.

DOMINASI ALGORITMA
Harus diakui, bahwa teknologi semakin hari semakin mengambil alih peran penting dalam kehidupan manusia. Dan algoritma yang jadi salah satu inti dari teknologi modern seperti kecerdasan buatan, search engine, dan machine learning, terasa sekali makin mendominasi atau memengaruhi cara kita hidup, berpikir, dan berinteraksi.

Sesederhana sesorang memberikan akses untuk membaca aktivitasnya pada gadget, maka tersusunlah algoritma yang melakukan profiling dari preferensi personal, dan mengeluarkan rekomendasi konten maupun iklan yang pastinya akan mempengaruhi banyak hal. Dari soal cara berpikir, persepsi, opini, hingga tindakan-tindakan berbasis daring seperti belanja, vote, subscribe, bertransaksi, dll.

Beberapa hal yang patut jadi perhatian dari fenomena mendominasinya algoritma dalam hidup manusia, antara lain:

  • Algoritma telah menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari manusia dan banyak hal. Termasuk di dalamnya pencarian online dan media sosial, rekomendasi pembelian, dan pengambilan keputusan bisnis.
  • Pengaruh algoritma terhadap pengambilan keputusan semakin besar, seperti rekomendasi produk dan penilaian kredit. Saat algoritma tidak transparan atau tidak adil, itu dapat menjadi masalah, apalagi saat kita terlalu bergantung padanya tanpa mempertimbangkan dengan baik.
  • Meskipun algoritma memiliki banyak manfaat, seperti efisiensi, kemudahan akses ke informasi, dan kemampuan untuk menyesuaikan layanan, ada masalah etika dan privasi. Pertanyaan penting adalah siapa yang memiliki kontrol atas algoritma dan bagaimana data kita digunakan dan diinterpretasikan olehnya.
  • Algoritma juga dianggap memiliki dampak sosial dan psikologis yang signifikan. Ini terlihat saat algoritma media sosial memengaruhi pola pikir, opini publik, dan bahkan kesehatan mental.

Dari urian di atas, termasuk tentang pengertian algoritma, nampak sekali bahwa algoritma mempunyai pengaruh signifikan pada pengendalian dan perubahan perilaku manusia, dan itu berjalan dengan melalui beberapa cara:

  • Rekomendasi dan Personalisasi: Algoritma yang digunakan oleh platform seperti mesin pencari, media sosial, dan layanan streaming sering menggunakan data pengguna untuk memberikan rekomendasi yang disesuaikan. Hal ini dapat mempengaruhi perilaku manusia dengan mengarahkan perhatian mereka pada konten tertentu atau produk yang sesuai dengan preferensi mereka.
  • Manipulasi Perilaku: Algoritma dapat dirancang untuk memengaruhi perilaku manusia melalui teknik seperti pengujian A/B dan pemahaman perilaku. Contohnya adalah algoritma media sosial yang menampilkan konten yang lebih mungkin mendapatkan respons positif, yang bisa mempengaruhi apa yang dilihat dan dibagikan oleh pengguna.
  • Penilaian dan Pengambilan Keputusan: Algoritma digunakan dalam berbagai konteks, termasuk dalam penilaian kredit, rekruitmen, dan pengawasan keamanan. Algoritma semacam itu dapat memiliki dampak besar pada kehidupan manusia dengan menentukan akses terhadap layanan atau kesempatan berdasarkan analisis data.
  • Kurasi Informasi: Algoritma dapat mempengaruhi persepsi manusia tentang dunia dengan memilih dan menyaring informasi yang disajikan kepada mereka. Hal ini bisa menghasilkan filter bubble, di mana individu hanya terpapar pada pandangan yang sejalan dengan kepercayaan dan preferensi mereka, atau disinformasi yang disebarkan melalui algoritma.
  • Otomatisasi Pekerjaan: Algoritma digunakan dalam otomatisasi proses kerja, yang dapat mengubah cara manusia bekerja dan berinteraksi di tempat kerja. Ini bisa termasuk penggunaan robotik di industri manufaktur atau analisis data otomatis dalam pengambilan keputusan bisnis.

Mengapa algoritma begitu digdaya mempengaruhi ketergantungan manusia modern? Sepertinya ada beberapa faktor penting yang berkontribusi terhadap ketergantungan ini antara lain:

  • Kemajuan Teknologi: Algoritma yang semakin canggih dapat digunakan dalam berbagai bidang, seperti learning machine, analisis data, dan pencarian web, karena kemajuan dalam teknologi komputer dan kecerdasan buatan telah membuka jalan baru untuk otomatisasi dan optimisasi berbagai aspek kehidupan manusia.
  • Kemudahan Akses: Saat ini telah tersedia algoritma yang kuat dalam bentuk layanan cloud dan perangkat lunak yang mudah diakses. Hal ini memungkinkan orang-orang dan organisasi kecil untuk menggunakan algoritma dalam aktivitas sehari-hari mereka tanpa harus memiliki pengetahuan teknis yang mendalam.
  • Kemudahan Penggunaan: Misalnya, algoritma pemrosesan gambar otomatis dalam aplikasi pengeditan foto dapat memberikan hasil profesional tanpa memerlukan keahlian fotografi yang rumit; banyak algoritma saat ini dirancang untuk menjadi mudah digunakan bahkan bagi orang yang tidak memiliki pengalaman teknis.
  • Kemajuan dalam Personalisasi: Pengalaman yang lebih personal, seperti rekomendasi film di layanan streaming dan hasil pencarian yang disesuaikan di mesin pencari, dipersonalisasi dengan algoritma. Ini menciptakan ikatan emosional dan kebiasaan pengguna dengan teknologi yang didukung algoritma.
  • Peran dalam Keputusan Penting: Semakin banyak algoritma digunakan dalam proses pengambilan keputusan seperti pengelolaan investasi, diagnosa medis, dan penilaian kredit. Dalam hal ini, ketergantungan pada algoritma dapat memiliki dampak yang signifikan terhadap kehidupan dan kesejahteraan seseorang.

DAMPAK ALGORITMA
Meskipun ketergantungan pada algoritma memiliki banyak manfaat, seperti efisiensi, kemudahan akses informasi, dan personalisasi layanan, penting untuk mempertimbangkan tantangan dan risikonya juga. Oleh karena itu, perlu juga diketahui sisi positif dan negatif dari perkembangan teknologi berbasis algoritma ini.

Dampak Positif:

  • Meningkatkan efisiensi dan produktivitas: Algoritma dapat menghemat waktu dan tenaga manusia dengan mengotomatiskan tugas, menyaring data yang relevan, dan memberikan rekomendasi yang dipersonalisasi. Ini memungkinkan kita untuk fokus pada pekerjaan yang lebih kreatif dan kompleks.
  • Memperluas akses informasi dan pengetahuan: Algoritma mendorong mesin pencari, platform media sosial, dan sistem rekomendasi, memungkinkan kita dengan mudah dan cepat mengakses informasi dan pengetahuan dari seluruh dunia.
  • Meningkatkan personalisasi: Pengalaman pengguna di berbagai platform online, seperti situs web, aplikasi, dan layanan streaming, dapat menjadi lebih menyenangkan dan relevan dengan bantuan algoritma.
  • Memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi: Algoritma digunakan dalam berbagai bidang penelitian ilmiah dan pengembangan teknologi, termasuk robotika, perawatan kesehatan, dan kecerdasan buatan, dan membantu kemajuan di bidang tersebut dan meningkatkan kualitas hidup manusia.

Dampak Negatif:

  • Bias dan Diskriminasi: Algoritma dapat menunjukkan dan memperkuat bias dalam data yang digunakan untuk melatihnya, yang dapat menyebabkan diskriminasi terhadap individu atau kelompok tertentu.
  • Manipulasi dan Kontrol: Algoritma dapat memanipulasi opini dan perilaku manusia. Ini dapat menimbulkan masalah tentang privasi, kebebasan berbicara, dan demokrasi.
  • Kehilangan Pekerjaan: Otomatisasi yang didorong oleh algoritma dapat menyebabkan pengangguran, kemiskinan, dan ketidaksetaraan di beberapa industri.
  • Ketergantungan yang berlebihan: Jika kita terlalu bergantung pada algoritma, kita dapat kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis dan membuat keputusan sendiri. Selain itu, ketergantungan yang berlebihan pada algoritma juga dapat membuat kita lebih rentan terhadap kontrol dan manipulasi.

Perlu digarisbawahi saat kita mempelajari pengertian algoritma, bahwa dampak algoritma pada kehidupan manusia tidak selalu hitam putih. Algoritma dapat memiliki dampak positif dan negatif tergantung pada bagaimana mereka dirancang, digunakan, dan diawasi. Jadi, apakah Anda ingin terbantu atau terpenjara oleh keberadaan algoritma? Semua tergantung bagaimana menggunakannya. (*)

The post Manusia Modern dalam Penjara Baru Bernama Algoritma appeared first on yogasdesign.

]]>
Produksi Konten Digital Jangan Jalan di Tempat https://yogasdesign.com/produksi-konten-digital-jangan-jalan-di-tempat/ Wed, 20 Oct 2021 11:57:38 +0000 http://yogasdesign.com/?p=738 Industri kreatif sedang berjalan pada dimensi baru, utamanya yang berkaitan erat dengan produksi konten digital. Ragam wadah yang mengakomodir arus deras terbarukan ini juga sudah menggurita. Dari urusan konten menghibur dan informasi di platform media Baca Selengkapnya...

The post Produksi Konten Digital Jangan Jalan di Tempat appeared first on yogasdesign.

]]>
Industri kreatif sedang berjalan pada dimensi baru, utamanya yang berkaitan erat dengan produksi konten digital. Ragam wadah yang mengakomodir arus deras terbarukan ini juga sudah menggurita. Dari urusan konten menghibur dan informasi di platform media sharing, hingga perkara jualan di marketplace.

content creator yogasdesign

Tentu bagi yang berpikiran progresif, hal ini adalah kabar menggembirakan. Dan sebaliknya bagi mereka yang tejebak dalam patron konservatif, hal ini menjadi kabar yang membuat gamang. Bahkan tak sedikit yang mengalami post power syndrome. Di mana kejayaan masa lalu dalam industri kreatif perlahan sudah tak digubris publik.

Cara berbisnis juga tak lepas dari dinamika ini. Bukan sekadar itu, tapi perkembangan teknologi mendorong bermunculannya disiplin ilmu baru yang berdampak pada kehadiran profesi-profesi baru dan redefenisi beberapa profesi. Kebutuhan tenaga kerja makin variatif. Seperti content creator, social media strategist, digital marketing specialist, hingga UI-UX designer.

Bisa jadi ini berkaitan dengan apa yang terungkap dalam Future of Jobs Report 2018 dari World Economic Forum 2018. Dalam Laporan ini diungkapkan bahwa masyarakat digital akan membawa inovasi, dan teknologi baru, termasuk otomatisasi dan algoritma, menciptakan pekerjaan baru berkualitas tinggi dan sangat meningkatkan kualitas pekerjaan dan produktivitas pekerjaan manusia yang ada.

Business Model Mix
Melakukan produksi konten digital yang hasilnya diminati publik pada dasarnya juga bukan hal yang mudah. Hukum ini berlaku untuk semua proses penghasilan konten dari masa ke masa, tidak mudah. Ya, membaca selera dan keinginan audiens yang menjadi pasar memang selalu jadi pekerjaan rumah yang takkan pernah selesai.

Setiap zaman punya cara sendiri untuk berkembang, setiap era memiliki kecenderungan selera yang tak sama dengan era-era sebelumnya. Tapi kejelian insan penghasil konten dalam membaca keinginan audiens punya prinsip dasar kerja yang relatif seragam, berpikir kreatif di alam kreatif.

bisnis digital yogasdesign

Photo by Yogas Design from Pexels

Yang juga menjadi perhatian krusial adalah bagaimana produk-produk konten digital dapat menelurkan business model yang adaptif terhadap laju perubahan dalam industri kreatif itu sendiri. Bahkan, tantangan terbukanya adalah bagaimana menciptakan business model mix yang menyokong terbentuknya ekosistem dari konten-konten yang dibuahkan.

Prof. Josep Valor, profesor teknologi informasi di IESE Business School yang berpusat di Spanyol mengingatkan, “Beberapa cara berbisnis dapat dicampurkan. Faktor teknologi yang berkembang tetap harus disatukan dengan faktor-faktor kunci dari karakter bisnis yang dijalankan. Seberapapun canggihnya teknologi digital yang dijalankan, jika pengetahuan dasar tentang bisnis yang dijalankan tidak dipahami, justru akan membuahkan kegagalan.”(*)

Digital Content Ecosystem
Istilah Digital Content Ecosystem mungkin belum akrab di telinga publik. Tapi ide ini menjadi menggeliat bersamaan dengan melebarnya peluang yang dihasilkan pada produksi konten digital. Untuk menguraikannya, bisa dimulai dengan memilih cara berbisnis yang tepat agar menjadi pondasi bagaimana produk utama yang dijalankan menjadi penghasil benefit.

Misalnya satu perusahaan mempunyai potensi konten digital berupa video production, maka tentukan bagaimana audiens dapat menikmati hasilnya dan dari mana perusahaan meraih keuntungan darinya. Apakah melalui sistem premium subscribe berbayar, digital download, atau sesederhana mengandalkan programatic ads di saluran media sharing seperti Youtube.

Setelah menentukan metode dalam menjalankan bisnis dari produk utama, lalu pikirkan bagaimana konten-konten yang diproduksi dapat di-generate untuk menjadi beberapa sub-konten. Proyeksikan apakah ada peluang setiap sub-konten punya saluran bisnisnya sendiri? atau justru sama dengan konten utama? Mungkinkah memberlakukan bauran cara berbisnis yang kemudian menghasilkan satu business model baru?

content creator yogasdesign

Photo by yogasdesign

Contohnya, saat melakukan produksi web series, coba perkirakan apakah dari jalannya produksi dapat menghasilakan konten lain, seperti: behind the scenes, vlog, testimoni, podcast, funny moment, dan lain sebagainya. Lantas dari situ bisa ditentukan pula mana yang bisa dinikmati lewat saluran masing-masing.

Misalnya untuk untuk produk konten utama dapat dikmati dengan cara digital download. Kemudian behind the scenes akan dimuat pada kanal premium subscriber. Lalu podcast berupa interview atau obrolan bisa diunggah ke Spotify dan mengambil keuntungan dari Spotify Ads. Serta untuk vlog dimuat dalam Youtube dan menuai benefit dari adsense , dan seterusnya dengan kemungkinan-kemungkinan konten serta sub-konten yang lain.

Jadi untuk satu produksi konten saja, seorang produser dapat mulai memilah-milah segala potensi dan peluang untuk menghasilkan lebih banyak keuntungan. Selanjutnya semuanya menjadi sistem yang dipermanenkan, yang berhubungan dan terintegrasi saling memberi hasil dan akhirnya membentuk ekosistem.

Sesederhana itukah? Pastinya tidak. Akan banyak sektor-sektor yang terdampak. Seperti soal legalitas menyangkut talent, hingga permasalahan rentang waktu pra produksi hingga post produksi dan tentu saja human resources serta peralatan produksi. Tapi, jika tidak mulai dicoba dari bentuk sederhana atau bahkan dengan metode lain, maka akan banyak kapasitas dan kesempatan yang hanya menjadi fosil tak tersentuh.

Kevin Benedict, seorang Senior Analyst for Digital Transformation and Mobility, pernah mengutarakan, bahwa transformasi digital bukanlah platform teknologi. Ini juga bukan solusi baru. Ini adalah cara baru melakukan bisnis.

Jadi, mulailah menyelami bisnis di era digital dengan metode baru, paradigma baru dan cara berpikir baru.(*)

——

Featured photo: Background illustration by seekpng.com, Right hand illustration by pikpng.com, Left hand illustration by freeiconspng.com

The post Produksi Konten Digital Jangan Jalan di Tempat appeared first on yogasdesign.

]]>
Saat Timor Leste Menggali Ilmu Media Relations di Indonesia https://yogasdesign.com/timor-leste-gali-ilmu-media-relations-di-indonesia/ Wed, 28 Nov 2018 03:11:14 +0000 http://yogasdesign.com/?p=524 Hubungan masyarakat disingkat Humas, juga dikenal dalam bahasa inggris sebagai Public Relations (PR). Secara definisi banyak sekali versinya. Salah satu yang banyak ditemukan dalam literatur adalah definisi yang dirilis International Public Relations Association (IPRA), berikut Baca Selengkapnya...

The post Saat Timor Leste Menggali Ilmu Media Relations di Indonesia appeared first on yogasdesign.

]]>
Hubungan masyarakat disingkat Humas, juga dikenal dalam bahasa inggris sebagai Public Relations (PR). Secara definisi banyak sekali versinya. Salah satu yang banyak ditemukan dalam literatur adalah definisi yang dirilis International Public Relations Association (IPRA), berikut ini:

Hubungan masyarakat atau Public Relations adalah sebuah fungsi manajemen yang terencana dan berkelanjutan, organisasi induk dan lembaga swasta atau publik yang bertujuan untuk mendapatkan pengertian, simpati, dan dukungan dari pihak – pihak terkait atau yang memiliki hubungan dengan penelitian opini publik di antara mereka

Photo by rawpixel on Unsplash

Hubungan masyarakat (Humas) atau Public Relations (PR) juga merupakan bentuk seni berkomunikasi dengan publik untuk membangun saling pengertian, menghindari kesalahpahaman dan mispersepsi, sekaligus membangun citra positif lembaga.

Sebagai sebuah profesi, seorang Humas banyak memikul tanggung jawab dalam memberikan informasi, mendidik, meyakinkan, meraih simpati, dan membangkitkan ketertarikan masyarakat akan sesuatu atau membuat masyarakat mengerti dan menerima sebuah situasi.

Adapun pekerjaan-pekerjaan yang biasa dikerjakan humas, antara lain:

  • Mengenalkan instasi/perusahaan
  • Mengorganisasi kegiatan untuk membentuk citra.
  • Menyebarkan informasi kepada publik.
  • Mengevaluasi opini publik
  • Membuat program-program yang melibatkan masyarakat
  • Membina hubungan dengan media (pers)
  • Melakukan persuasi dan negoisasi dengan berbagai pihak.
  • Membuat program-program yang bermanfaat bagi kesejahteraan sosial
  • Mengelola media sosial
  • Media monitoring

Sedangkan tanggung jawab fungsional Humas itu sendiri adalah:

  • Relasi Eksternal: Komunikasi dengan kelompok orang-orang di luar instansi/perusahaan.
  • Relasi Internal: Komunikasi untuk menjaga hubungan antara karyawan, manajer, serikat pekerja, pemegang saham, dan kelompok internal lainnya.
  • Relasi Media. Komunikasi yang dilakukan perusahaan dengan media massa.

Khusus untuk urusan relasi dengan media (media relations) banyak praktisi yang mengategorikannya sebagai bagian dari relasi eksternal. Tapi beberapa praktisi kehumasan ada juga yang menganggap hubungan dengan media merupakan bidang tersendiri di luar humas.

Hal ini bukanlah sesuatu yang perlu menjadi perdebatan. Toh, esensinya media relations adalah bagaimana seorang humas yang menjadi wakil sebuah lembaga untuk berhubungan dengan media ataupun wartawan, harus juga mengetahui bagaimana pola hubungan yang ideal.

Untuk itulah, dalam rangka pengembangan peran dan fungsi humas dalam lembaga pemerintahan di Timor Leste, khuusnya dalam lingkungan kementrian keuangan negera tersebut, penulis ditunjuk menjadi salah satu nara sumber untuk memaparkan seluk beluk “Media Relations”. Adapun acara tersebut bertajuk “Media Strategy for Communication” yang diselengarakan Ministry of Planning and Finance Democratic Republic of Timor-Leste, diadakan di Jakarta, 12-17 November 2018.

Negara yang pada 2018 berpopulasi sekitar 1,3 juta jiwa tersebut memandang perlu menggali lebih banyak soal ilmu kehumasan di Indonesia. Maklum saja usia kemerdekaannya yang masih seumur jagung memang menuntut mereka harus banyak belajar kepada negara-negara tetangga. Terutama dengan Indonesia yang secara historis punya kedekatan emosional.

Faktanya, seperti diungkapkan para staf  Ministry of Planning and Finance Democratic Republic of Timor-Leste, jumlah media di negara ini belum banyak. Terhitung yang bisa diperhitungkan eksistensinya ada lima media. Itupun termasuk semua kategori media. Televisi, cetak, online dan radio. Kegiatan kehumasan secara umum juga belum terstruktur. Walaupun beberapa bentuk kegiatannya sudah sering dilakukan. Pers juga masih sangat pasif terhadap pemuatan berita menyangkut kepemerintahan. Regulasi media online dan internet sementara ini belum direalisasi.

Lalu apa saja yang dipaparkan dalam event tersebut, Anda yang berminat membacanya dapat mengunduh modul berjudul “Media Relations: Harmonisasi Humas dan Media Massa”, di tautan ini: DOWNLOAD

The post Saat Timor Leste Menggali Ilmu Media Relations di Indonesia appeared first on yogasdesign.

]]>
Viral Marketing dan Content Spreading, Mana Lebih Menguntungkan? https://yogasdesign.com/viral-marketing-dan-content-spreading-mana-lebih-menguntungkan/ Wed, 28 Feb 2018 03:01:52 +0000 http://yogasdesign.com/?p=493 Kemunculan bayi baru bernama viral marketing begitu antusias disambut. Ramai-ramai mereka mempraktikkan metode penyebaran pesan ini dengan mempertajam kreatifitas pada konten. Tapi tak semua menemukan hasil yang signifikan. Karena memang makin banyaknya konten yang sengaja dirancang Baca Selengkapnya...

The post Viral Marketing dan Content Spreading, Mana Lebih Menguntungkan? appeared first on yogasdesign.

]]>
Kemunculan bayi baru bernama viral marketing begitu antusias disambut. Ramai-ramai mereka mempraktikkan metode penyebaran pesan ini dengan mempertajam kreatifitas pada konten. Tapi tak semua menemukan hasil yang signifikan. Karena memang makin banyaknya konten yang sengaja dirancang agar mendapatkan efek viral justru membuat publik makin selektif memilih konten mana yang layak dibagi-bagikan ulang hingga menyebar seluas-luanya. Bahkan tak sedikit yang juga berefek bumerang bagi pembuat konten dengan terbentuknya stigma maupun sentimen negatif.

viral marketing

https://pikwizard.com

Kemajemukan konten media yang tersebar di dunia maya mau tak mau membuat praktisi komunikasi maupun pemasaran harus menemukan formula baru lagi. Dengan mengambil inspirasi dari keberadaan viral marketing, metode penyebaran pesan juga bisa di proses turunan tujuan komunikasinya. Salah satu yang mengemuka adalah dengan “cukup” membenamkan tujuan tersebar luas tanpa terbebani misi untuk viral. Atau degan kata lain disapa dengan istilah content spreading.

Seperti apa persisnya? Intinya adalah membuat konten atau muatan materi yang dimiliki satu institusi ataupun brand seluas mungkin terlihat oleh publik yang sudah ditentukan segmennya. Content spreading tidak memfokuskan pada tujuan “link click” maupun dibagi-bagikan ulangnya konten oleh publik. Konten yang termuat memang tak sekadar tautan berita ataupun segala jenis media seperti foto dan video, tapi juga bermacam brand maupun corporate activity, seperti penyelenggaraan event, CSR activity, creative content, dll. Relatif tidak ada perbedaan dengan muatan konten pada aktifitas viral marketing.

Membuat publik sasaran aware dengan keberadaan brand adalah default objective yang menjadi dasar dilakukannya content spreading. Dari situ bisa disisipkan juga beberapa tujuan komunikasi yang ingin disampaikan. Seperti memperlihatkan eksistensi kepada rekanan bisnis seperti calon sponsor atau bahkan calon investor.

Nampaknya memang metode content spreading ini menjadi lebih tepat guna dibanding viral marketing dalam tujuan pemasaran yang berbeda. Viral marketing lebih menitikberatkan pada tujuan web visitor dan aktifitas membagikan ulang konten yang diproduksi, termasuk juga biasanya berujung pada percepatan angka-angka pada media analytic data, dan kemudian juga sedikit banyak berpengaruh pada pengakuan publik terhadap brand maupun produk.

Dalam content spreading aktifitas yang dilakukan seperti tidak mempedulikan tujuan “link click” ataupun menggantungkan harapan kepada publik untuk membagikan ulang . Yang dilakukan adalah mengusahakan agar publik yang berkepentingan ataupun punya korelasi dengan brand terjangkau dalam aktifitas penyebaran pesan. Apakah nantinya sekadar melihat dalam timeline media sosial sambil lewat, atau beraktifitas lebih dalam dengan melalukan investigasi terhadap eksistensi brand tersebut. Dari sini jelas bahwa formula ini lebih cocok untuk aktifitas branding, atau yang banyak didefiniskan sebagai proses membenamkan brand pada benak dan hati konsumen melalui berbagai cara yang memberikan dampak bagi kehidupan konsumen tersebut. Lalu biasanya dilanjutkan dengan menjalankan program positioning.

Memang, content spreading ini akan lebih banyak upaya melakukan sendiri aktifitas penyebarannya. Utamanya dengan menggunakan social media ads dengan memilah-milah audiens yang dituju secara spesifik. Selain itu saluran komunikasi dengan chat engine yang sudah menyediakan fitur group chat ataupun channel, bisa membantu perluasan sebaran konten. Dari jenis kelamin, usia, personal interest, geografi, dan tentunya pekerjaan. Dalam viral marketing, selain juga mengandalkan social media booster, upaya yang paling banyak meguras tenaga adalah kreatifitas dan perencanaan konten yang terbebani dengan misi viral. Keharusan untuk memenuhi standard konten berpotensi viral pun belum tentu punya hasil yang signifikan.

Dari paparan sederhana ini, secara umum dapat diasumsikan bahwa viral marketing lebih mengadopsi prinsip hard selling, sedangkan content spreading pada prinsip soft selling. Jadi, tak usah kecewa lagi bagi yang gagal dalam merancang viral content, karena masih banyak varian-varian ataupun formula baru dalam rangka membesarkan brand maupun nama korporasi tanpa harus “mengemis” dalam lingakaran dunia viral.

The post Viral Marketing dan Content Spreading, Mana Lebih Menguntungkan? appeared first on yogasdesign.

]]>
Platform Digital Tak Sekadar untuk Berpindah Ruang https://yogasdesign.com/memanfaatkan-platform-digital-bukan-sekadar-pindah-ruang/ https://yogasdesign.com/memanfaatkan-platform-digital-bukan-sekadar-pindah-ruang/#comments Sun, 01 Oct 2017 07:56:26 +0000 http://yogasdesign.com/?p=448 Bagi keberlangsungan media, perpindahan memanfaatkan platform digital bagaikan memasuki hutan baru. Meraba-raba jalan baru maupun celah yang bisa menuai manfaat untuk keberlangsungan perusahaan. Ironisnya, di satu sisi justru mereka yang sudah bermigrasi dari media tradisional ke media Baca Selengkapnya...

The post Platform Digital Tak Sekadar untuk Berpindah Ruang appeared first on yogasdesign.

]]>
Bagi keberlangsungan media, perpindahan memanfaatkan platform digital bagaikan memasuki hutan baru. Meraba-raba jalan baru maupun celah yang bisa menuai manfaat untuk keberlangsungan perusahaan. Ironisnya, di satu sisi justru mereka yang sudah bermigrasi dari media tradisional ke media digital justru masih banyak yg hanya menggeser platform. Padahal, media digital jelas tak sekadar memindahkan cetak misalnya, ke platform digital. Banyak hal- hal baru yang harus dirubah.

memanfaatkan platform digital

Photo by Domenico Loia on Unsplash

Paradigma lama yang mengaitkan media dengan iklan sudah tak relevan. Dapat dipastikan, kue iklan sudah termakan oleh pemain-pemain lama yang sudah besar lebih awal di media per-digitalan. Ada perubahan-perubahan cara berbisnis yang besar. Maka tak heran, bagi mereka yang memanfaatkan platform digital tanpa merubah cara pandang menjalankan bisnis media akhirnya hanya jalan di tempat.

Apalagi dengan anggapan bahwa dengan memanfaatkan platform digital maka investasi semakin kecil. Asumsi ini justru akan menyesatkan saat media tersebut dijalankan. Bagaikan menjelajahi hutan baru dengan cara yang dilakukan di hutan lama yang telah ditinggalkan. Maka, berpikirlah dengan cara digital. Lebih luas, lebih cepat, dan tentunya inovatif.

Di samping itu, nampaknya digitalisasi juga berdampak pada urusan personal. Utamanya bagi para profesional yang sedang melakukan positioning. Kalau dahulu disibukkan dengan beredarnya kartu nama untuk menyosialisasikan eksistensi, plus tentengan portfolio yang sering membuat tulang lebih cepat terkena osteoporosis.

Saat ini, jangankan potfolio, bahkan untuk membawa-bawa laptop berisi kumpulan bukti kerja juga sudah mulai terlihat “so yesterday”. Nah, personal website dengan kemampuannya menjangkau publik tak terkendala jarak dan waktu, adalah “senapan” utama bagi mereka yang masih ingin bertempur di era tanpa dinding ini.

Juga perlu diingat dalam memanfaatkan platform digital, hadirnya pola pandang mobile first yang merupakan implementasi dari pengembangan life in hand. Bahwa hampir semua aktifitas keseharian bisa dikatakan terkendali hanya dengan menggerakkan jari-jari pada perangkat yg menempel di tangan. Di era booming-nya laptop, menyusul gelombang besar internet, publik menjadi dimanja oleh kemampuan perangkat serba bisa berbasis komputasi. Kemudian hadir pula penyempurnaan pada perangkat yg lebih compact. Handphone yg membelah batasan-batasan komunikasi menjelma menjadi mini assistant.

Kehadiran smart gadget tak terelakkan. Perangkat dengan multifungsi itupun terus berkembang melangkahi produk-produk teknologi digital lainnya. Kehadiran Blackberry bagaikan petir bagi handphone standar yang sudah lama akrab di publik. Lalu kedatangan komputer tablet iPad di 2010 juga banyak merubah kebiasaan-kebiasaan orang sehari-hari. Dari bekerja, berkomunikasi hingga menghibur diri.

Tapi apa daya, teknologi berkembang sangat cepat dan tak terduga. Dua perangkat yg mencengangkan dunia itu, Blackberry dan iPad, tak sampai berumur 10 tahun menjadi idola. Pengembangan software, bahasa web dan layar menjadikan smartphone yang berkategori big screen melibasnya tanpa ampun. Dengan fitur-fitur yg mendukung gaya hidup multitasking menjadikannya idola pengganti yang lebih dicintai, hingga mencapai titik dimana hal pertama yg dilihat saat bangun tidur adalah perangkat mobile. Dan tentunya untuk urusan mendapatkan informasi, sudah tentu memanfaatkan platform digital dengan perangkat yang ada di tanganlah menjadi andalan.**

The post Platform Digital Tak Sekadar untuk Berpindah Ruang appeared first on yogasdesign.

]]>
https://yogasdesign.com/memanfaatkan-platform-digital-bukan-sekadar-pindah-ruang/feed/ 1
Penggunaan Konten Kreatif di Jagad Internet https://yogasdesign.com/penggunaan-konten-kreatif-di-jagad-internet/ https://yogasdesign.com/penggunaan-konten-kreatif-di-jagad-internet/#comments Mon, 23 Jan 2017 05:11:00 +0000 http://yogasdesign.com/?p=406 Dalam pekerjaan kreatif, penggunaan konten kreatif hasil karya personal seperti logo, foto, video footage, web template, back sound dan ilustrasi yang didapat dari penggunaan internet, sudah menjadi bagian tak terpisahkan. Seringkali para eksekutor produk kreatif Baca Selengkapnya...

The post Penggunaan Konten Kreatif di Jagad Internet appeared first on yogasdesign.

]]>
Dalam pekerjaan kreatif, penggunaan konten kreatif hasil karya personal seperti logo, foto, video footage, web template, back sound dan ilustrasi yang didapat dari penggunaan internet, sudah menjadi bagian tak terpisahkan. Seringkali para eksekutor produk kreatif menggunakan hasil karya orang lain untuk memenuhi standar visual yang diinginkan. Memang lebih banyak hal ini dilakukan saat proses kratif masuk dalam pembuatan sample atau dummy. Tapi tak sedikit pula yang dalam aplikasi finalnya juga melakukan hal yang sama.

Penggunaan Konten Kreatif

unsplash.com/luis-llerena

Ini sah-sah saja jika semua dilakukan sesuai dengan koridornya. Penghargaan terhadap karya kreatif orang lain haruslah menjadi dasar penggunaan materi-materi kreatif itu. Dengan sekali googling dengan menggunakan kata kunci yang diinginkan dalam rangka penggunaan konten kreatif, bisa terlihat tersedianya materi-materi tersebut. Berupa piksel atau foto, vector, audiovisual atau multi media.

Tapi permasalahann yang ada dalam penggunaan konten kreatif, masih ada atau bahkan banyak yang lalai memperhatikan segi lisensi dari materi-materi yang tersedia. Apalagi bagi mereka yang minim dalam anggaran untuk melakukan transaksi pembelian konten kreatif. Dengan menganggap bahwa keberadaan materi yang bertebaran di internet sebagai milik bersama adalah langkah yang tidak tepat.

Memang, materi-materi kreatif itu bergentayangan di belantara internet. Tapi bukan asal berada, mereka juga punya pemilik dan mempunyai kategori lisensi sendiri-sendiri. Ada yang bebas digunakan tanpa ijin ataupun menyertakan credit title, ada yang boleh digunakan dan dimodifikasi tapi menyertakan credit title, ada pula yang tidak boleh dihunakan tanpa seijin dari empunya.

Lalu bagaimana kita tahu mengenai kategori yang terkandung dalam materi-materi itu dalam penggunaan konten kreatif? Untuk yang paling mudah, saat melalukan pencarian materi lewat “Google Image” misalnya, ada fitur “tools” disana. Kliklah fitur itu maka akan keluar sub fitur “Usage Rights”. Dari sub fitur, pilihlah kategori-kategori yang teresedia:

  • Labeled for reuse and modificatons (bisa digunakan dan dimodifikasi)
  • Labeled for reuse (bisa digunakan)
  • Labeled for non-commercial reuse with modifications (bisa digunakan hanya untuk kepentingan non komersil dengan dibolehkan modifikasi)
  • Labeled for non-commercial reuse (bisa digunakan hanya untuk kepentingan non-komersil)

penggunaan konten kreatif

Kategori yang ada pada fitur “tools” di Google search tersebut hanyalah penyerdahanaan dari search engine. Secara spesifik para pengguna materi juga harus mempelajari detail dari lisensi yang ada. Kalau kita membuka situs-situs penyedia konten kreatif sepert flickr.com, freepik.com, freeimages.com, pexels.com, capitaldvstudio.com, audiomicro.com, freewebsitetemplates.com atau dryicons.com misalnya, jangan lupa untuk menyimak term & conditions atau disclaimer dari penggunaan konten tersebut.

Ada dari beberapa situs yang langsung menyantumkan aturan penggunaan konten kreatif, ada pula yang status lisensinya tercantum per-materi yang ada dalam situs tersebut. Dalam situs wikipedia.com bisa dipastikan jika ada materi foto misalnya, selalu memberi keterangan tentang status lisensi, sumber foto, dan juga pengunggahnya.

Dari kebanyakan situs-situs penyedia konten kreatif, memang bisa dikatakan memberikan panduan dengan menggunakan standar “Creative Commons”. Apa itu “Creative Commons”? Dalam situs resminya, diterangkan:

“Lisensi hak cipta Creative Commons dan alat-alatnya membentuk keseimbangan dalam pengaturan tradisional yang ada pada hukum hak cipta. Alat kami memberikan setiap orang, dari pencipta individu sampai dengan perusahaan dan lembaga besar, cara sederhana standar untuk memberikan izin hak cipta atas ciptaan kreatif mereka. Kombinasi dari alat-alat dan pengguna kami adalah kumpulan komunitas digital yang luas dan berkembang, kolam konten yang dapat disalin, didistribusikan, digubah, dan dibuat ciptaan turunannya, dan semua dalam batas-batas hukum hak cipta.”

Apa saja kategori-kategori lisensi yang dikeluarkan “Creative Commons”?

Public Domain
CC0
CC0-icon
CC0 memungkinkan ilmuwan, pendidik, artis dan lainnya pencipta dan pemilik konten yang dilindungi hak cipta untuk melepaskan kepentingan mereka dalam pekerjaan mereka dan dengan demikian menempatkannya dalam domain publik, sehingga orang lain dapat dengan bebas menggunakannya, mengolahnya kembali untuk tujuan apapun tanpa batasan undang-undang hak cipta.

Atribusi
CC BY
CC1-icon
Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan, bahkan untuk kepentingan komersial, selama mereka mencantumkan kredit kepada Anda atas ciptaan asli. Lisensi ini adalah lisensi yang paling bebas. Direkomendasikan untuk penyebarluasan secara maksimal dan penggunaan materi berlisensi.

Atribusi-BerbagiSerupa
CC BY-SA
CC2-icon
Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bahkan untuk kepentingan komersial, selama mereka mencantumkan kredit kepada Anda dan melisensikan ciptaan turunan di bawah syarat yang serupa. Lisensi ini seringkali disamakan dengan lisensi “copyleft” pada perangkat lunak bebas dan terbuka. Seluruh ciptaan turunan dari ciptaan Anda akan memiliki lisensi yang sama, sehingga setiap ciptaan turunan dapat digunakan untuk kepentingan komersial. Lisensi ini digunakan oleh Wikipedia, dan direkomendasikan untuk materi-materi yang berasal dari penghimpunan materi Wikipedia dan proyek dengan lisensi serupa.

Atribusi-NonKomersial
CC BY-NC
CC3-icon
Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, dan walau mereka harus mencantumkan kredit kepada Anda dan tidak dapat memperoleh keuntungan komersial, mereka tidak harus melisensikan ciptaan turunan dengan syarat yang sama dengan ciptaan asli.

Atribusi-TanpaTurunan
CC BY-ND
CC4-icon
Lisensi ini mengizinkan penyebarluasan ulang, baik untuk kepentingan komersial maupun nonkomersial, selama bentuk ciptaan tidak diubah dan utuh, dengan pemberian kredit kepada Anda.

Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa
CC BY-NC-SA

CC5-icon
Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, selama mereka mencantumkan kredit kepada Anda dan melisensikan ciptaan turunan dengan syarat yang serupa dengan ciptaan asli.

Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan
CC BY-NC-ND

CC6-icon
Lisensi ini adalah lisensi yang paling ketat dari enam lisensi utama, hanya mengizinkan orang lain untuk mengunduh ciptaan Anda dan membaginya dengan orang lain selama mereka mencantumkan kredit kepada Anda, tetapi mereka tidak dapat mengubahnya dengan cara apapun atau menggunakannya untuk kepentingan komersial.

Untuk lebih detail lagi bisa mengunjungi situs resmi creativecommons.org

Dengan mengetahui kategori-kategori lisensi yang umum dan banyak dipakai itu, kita bisa menghindar dari penyalahgunaan konten kreatif ataupun materi milik orang lain, dan pastinya berkekuatan hukum sehingga tidak membuka peluang terjadinya tuntutan dari pemilik aslinya. Dan tentu saja bagi pengunggah konten, dengan mendaftarkan atau menggunakan kategori lisensi yang diambil, ini berarti bersedia bertanggung jawab atas status lisensi tersebut.**

The post Penggunaan Konten Kreatif di Jagad Internet appeared first on yogasdesign.

]]>
https://yogasdesign.com/penggunaan-konten-kreatif-di-jagad-internet/feed/ 1
SENDAL’91, Mengemas Charity Event dalam Kegiatan Reuni https://yogasdesign.com/sendal91-mengemas-charity-event-dalam-kegiatan-reuni/ https://yogasdesign.com/sendal91-mengemas-charity-event-dalam-kegiatan-reuni/#respond Tue, 06 Dec 2016 15:25:49 +0000 http://yogasdesign.com/?p=385 Salah satu marketing activity yang makin banyak dilakukan dalam rangka branding adalah penyelenggaraan event. Apakah itu komersil maupun bakti sosial atau charity. Efek sosialisasi brand melalui event terbilang digemari karena di era media sosial ini dapat Baca Selengkapnya...

The post SENDAL’91, Mengemas Charity Event dalam Kegiatan Reuni appeared first on yogasdesign.

]]>
Salah satu marketing activity yang makin banyak dilakukan dalam rangka branding adalah penyelenggaraan event. Apakah itu komersil maupun bakti sosial atau charity. Efek sosialisasi brand melalui event terbilang digemari karena di era media sosial ini dapat dengan mudah menyebarkan berita mengenai jalannya kegiatan tanpa harus menggunakan media massa yang established.

yogasdesign

Hal ini juga berlaku ketika banyak brand atau perusahaan-perusahaan yang gemar menjadikan lembaga-lembaga sosial nirlaba sebagai partner dalam menjalankan program marketing maupun public relations. Tentunya sasarannya adalah kegiatan-kegiatan charity ataupun bakti sosial yang menyertakan beberapa unit kegiatan dengan benang merah sama.

Salah satu contoh adalah kegiatan atau event yang dilakukan oleh komuitas SENDAL’91, sebuah komunitas berbasis alamamater kampus. Adalah almamater Kampus Tercinta IISIP Jakarta angkatan tahun 1991 yang menjadi motor komunitas tersebut. Dalam merayakan reuni perak yang diberi tajuk SENDAL’91 Silver Reunion, hampir semua rangkaian kegiatannya yang dimulai pada 25 November dan dipuncaki pada 26 November 2016 ini adalah bakti sosial. Kunjungan serta donasi ke Wisma Tunaganda Palsigunung, Cimanggis, Jawa Barat, lalu bersih-bersih kampus sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, donasi alat-alat kebersihan dan penanaman pohon di lingkungan kampus yang berada di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Kemudian pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah, serta donasi atau santunan anak Yatim-Piatu.

Rangkaian kegiatan itu ternyata menjadi USP (Unique Selling Point) tersendiri bagi penyelenggara untuk menghimpun dukungan para donatur sesama almamater dan dari lembaga-lembaga terkait. Selain penjualan kaos yang keuntungannya dijadikan sumber donasi dan pembiayaan kegiatan, dari Unilever didapatkan puluhan paket berisi perawatan tubuh untuk didonasikan kepada Wisma Tunaganda. Lalu Dinas Kebersihan DKI Jakarta yang antusias menyumbangkan ratusan peralatan kebersihan seperti sapu, pengki hingga gerobak mini.

Belum lagi dari IMS (Islamic Medical Services) yang berinisiatif menyediakan jasa pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga sekitar kampus dan mahasiswa. Begitupula dengan PMI (Palang Merah Indonesia) juga ikut serta dalam event ini dengan membuka stand donor darah. Tak kalah antusias adalah Dinas Pertanian Pemprov DKI Jakarta yang menyumbangkan benih-benih pohon buah unggulan. Tak ketinggalan dari KALCare yang memberikan puluhan lembar cuma-cuma voucher pemeriksaan kesehatan gratis, serta PT. Singa Mas yang menyumbangkan produk minuman ringan untuk dikonsumsi pada event tersebut.

[Best_Wordpress_Gallery id=”20″ gal_title=”SENDAL91 SIlver Reunion”]

Event SENDAL’91 Silver Reunion yang lekat dengan kegaiatan bakti sosial ini terbukti sukses dalam penyelenggaraannya. Antusiasme almamater yang datang tak hanya berlaku pada angkatan yang terkait, tapi juga angakatan-angkatan lain yang hadir dengan membawa semangat berbagi untuk mengikuti rangkaian kegiatan sosial yang ada. Acara puncak pun yang dilakukan sederhana dengan melakukan potong 25 tumpeng bersama rektor dan jajaran staff IISIP Jakarta, dilanjutkan dengan makan bersama dan ramah tamah serta hiburan musik unplugged. Hampir setiap sudut venue yang digunakan untuk acara tersebut diisi oleh mereka yang melepas kerinduan.

Kebahagiaan yang luar biasa terasa dan terlihat adalah di saat event sedang berjalan dan sesudah selesai, mereka yang hadir di acara itu terus mem-posting dan membagikan foto-foto beserta ungkapan kebahagiaannya di media sosial, bahkan hingga mencapai lima hari berturut-turut. Perilaku bermedia sosial ini seakan menjadi “hidden partner” bagi penyelengara untuk melakukan publikasi kegiatan reuni berformat bakti sosial dan amal ini.

Lalu apa kunci dari suksesnya penyelenggaraan charity event seperti SENDAL’91 Silver Reunion hingga mendapat dukungan banyak pihak?

  • Terbangunnya sejak awal, persamaan semangat, serta visi-misi dari kepanitiaan dan konsistensi terhadap pelaksanaan rangkaian kegiatan yang sudah disepakati bersama.
  • Pemanfaatan networking dari potensi yang ada di setiap anggota kepanitiaan hingga seluruh link yang didapat dari almamater.
  • Terbangunnya sisi ikatan emosional yang dilakukan dengan kegiatan-kegiatan publikasi yang terencana, bertahap dan fokus pada tiap-tiap periode publikasi yang ditentukan, dengan memanfaatkan teknologi digital yang berkembang seperti media sosial, chat engine atau messenger.
  • Semua materi publikasi dirancang khusus mengikuti perlekembagan cara-cara berkomunikasi di era digital yang sangat lekat dengan keberadaan media sosial. Bisa dikatakan semua materi seperti e-flyer dan short video slide berkategori social media readable.
  • Fokus kepada kata kunci “merayakan persahabatan” dan “bersama menebar kebaikan” sebagai pokok materi dalam publikasi.
  • Konsisten membangun citra positif komunitas, baik kepada sesama anggota almamater maupun kepada pihak-pihak yang menjadi partner.
  • Terjaganya keseimbangan di lingkungan almamater dalam menyikapi kondisi umum yang berkembang sangat dinamis di tengah masayarakat. Baik isu-isu bersifat nasional maupun sekadar dinamika relationships di kalangan almamater.
  • Mengedepankan unsur sosial yang dilakukan dengan ketulusan, ikhlas dan jelas manfaatnya bagi masyarakat sasaran kegiatan.

Dari kunci-kunci di atas, maka diharapkan kepercayaan para alamamater yang juga ikut berdonasi dan pihak-pihak lain di luar almamater yang telah memberi kepercayaan kepada penyelenggara, dapat dengan jelas mendapatkan hasil nyata. Baik dalam rangka amal kegiatan sosial maupun membangun citra baik di masayarakat.Dan tentunya ikatan persahabatan di lingkungan sesama almamater yang semakin erat.*

The post SENDAL’91, Mengemas Charity Event dalam Kegiatan Reuni appeared first on yogasdesign.

]]>
https://yogasdesign.com/sendal91-mengemas-charity-event-dalam-kegiatan-reuni/feed/ 0
Proses Produksi Media: Memangkas Mata Rantai https://yogasdesign.com/proses-produksi-media/ https://yogasdesign.com/proses-produksi-media/#respond Thu, 27 Oct 2016 03:41:37 +0000 http://yogasdesign.com/?p=374 Perubahan dan perkembangan di ranah media digital yang cepat tak bisa di pandang sebelah mata termasuk tentunya untuk soal proses produksi media. Setelah keluarnya iPad di tahun 2010 lalu disusul komputer tablet keluaran Android dan Baca Selengkapnya...

The post Proses Produksi Media: Memangkas Mata Rantai appeared first on yogasdesign.

]]>
Perubahan dan perkembangan di ranah media digital yang cepat tak bisa di pandang sebelah mata termasuk tentunya untuk soal proses produksi media. Setelah keluarnya iPad di tahun 2010 lalu disusul komputer tablet keluaran Android dan e-Book Reader, hanya berjarak 4 tahun sudah mulai tergeser keberadaan smartphone yang terus menyempurnakan fungsi dan kegunaannya. Big Screen 5 inch ke atas yang memanjakan penggunanya, membuat produk komputer tablet menjadi terlihat terlalu besar untuk kebutuhan mobile activity.

Proses Produksi Media

pexels.com

Efek perubahan cepat di dunia digital tak hanya sekadar pergantian perangkat mobile satu ke yang lainnya dengan penyempurnaan produk. Tapi juga banyaknya perubahan di sektor perangkat lunak untuk keperluan proses produksi media. Di jelang akhir tahun 2015 salah satu raja software dunia, Adobe melakukan perubahan mendasar pada salah satu produknya. Perangkat lunak yang menjadi perbincangan para penerbit media bertajuk Digital Publishing Suite yang pada awalnya dikeluarkan untuk melayani tren penggunaan iPad besutan Apple yang mendorong tercetusnya interactive digital media, akhirnya lagi-lagi mendapat sentuhan baru dan menjadi Digital Publishing Solution.

Di tanah air, produk interactive digital media yang tadinya diharapkan booming dan dapat diandalkan sebagai bentuk pergeseran platform, ternyata tak berjalan sesuai yang diharapkan. Walaupun faktanya untuk kepentingan korporasi ternyata masih diminati. Hal inipun juga terjadi dalam skala dunia. Beberapa media cetak yang bergegas merubah platform menjadi interactive digital media tak urung menemui jalan buntu, terutama dari sisi komersil dan akhirnya merambat juga ke wilayah pembaca.

Harus diakui pula bahwa produk media dalam bentuk website masih lebih diminati. Lebih simpel tidak memakan storage gawai, dan dalam segi kecepatan arus informasi juga tak terbantahkan, data analytic yang akurat, dan tentunya juga proses produksi media yang menyangkut konten dan sistem kerjanya yang lebih simpel dan cepat. Apalagi diperkuat dengan keluarnya aplikasi-aplikasi yang sebenarnya difungsikan sebagai shortcut menuju halaman web tanpa harus menggunakan browser.

Perusahaan kelas dunia sekelas Adobe pada kala itu menyadari bahwa proses produksi yang berlaku dalam membuat interactive digital media nyatanya masih berkisar perubahan jenis mesin. Dari mesin cetak ke mesin digital publishing. Dari produk akhir berbentuk cetak menjadi berbentuk digital. Tapi lapisan-lapisan pekerjaannya belum terbilang memangkas banyak tahap. Keluwesan format media dalam melayani perkembangan teknologi layar di berbagai perangkat digital juga menjadi pertimbangan. Hal inilah yang mendorong terjadinya lagi perubahan signifikan pada software yang digunakan dalam produksi digital publishing.

Proses produksi media dengan tahap seringkas mungkin, dapat mendukung kebutuhan user dalam menikmati media di berbagai perangkat dan kemudahan mengakses adalah hal yang menjadi perhatian utama. Beruntunglah keberadaan bahasa web baru HTML5 sudah ikut berkembang sedemikian cepat. Kemampuannya yang memudahkan para web developer membuat web yang dapat beradaptasi dengan berbagai ukuran layar gawai, menjadikan tren responsive web design lebih banyak dan cepat diterima para penikmat media digital.

Di sini user bebas memilih untuk melihat, membaca, menikmati produk digital media di berbagai jenis perangkat. Desktop computer, tablet computer atau smartphone, semua dengan lentur tanpa harus melakukan aktifitas zooming, dapat dinikmati oleh mata dengan mudah dan tentunya shareable ke media-media sosial.

Proses Produksi Media

pexels.com

Lalu proses pra produksi yang menyertakan para tenaga kreatif seperti penulis, desainer, ataupun fotografer dan lainnya juga menjadi lebih ringkas. Lapisan-lapisan pekerjaan yang terkesan bertele-tele hingga membutuhkan waktu yang tak sedikit sudah tak diminati. Jika semua proses produksi media seperti digital publishing harus melalui tahapan yang nyaris sama dengan produksi media konvensional, maka kini banyak yang dipangkas.

Ada berita, ada info, ada foto siap tayang, upload, internal review hanya lewat browser, lalu publish langsung untuk kebutuhan user di berbagai penggunaan gawai melalui browser ataupu aplikasi. Ya, seringkas itu. Tidak lagi melewati proses layout yang memakan waktu dan dilakukan terpisah untuk setiap jenis perangkat yang dituju, lalu menguploadnya ke server atau cloud, kemudaian dilakukan local review dengan terlebih dahulu mendownload aplikasi khusus, dan setelah itu barulah diterbitakan dengan terlebih dahulu mengakses publishing engine yang terhubung ke server atau cloud, kemudian user harus mendownload aplikasinya sebelum mendownload media per terbit.

Dari uraian di atas, secara prinsip akhirnya memang produk media digital, baik berbentuk publishing ataupun web portal , termasuk e-commerce, harus mempunyai kemampuan memotong mata rantai. Baik itu di wilayah proses produksi media maupun pengiriman konten, penyampaian info kepada publik calon pembaca atau pengguna. Banyaknya lapisan-lapisan proses yang bisa dihilangkan akan semakin mempercepat konten media digital  untuk dapat dinikmati publik.

Tengoklah yang juga dilakukan perusahaan yang masyhur sebagai penyedia template desain web, WordPress. Kini template yang disediakan sudah berkategori responsive web design, lalu untuk CMS (Content Management System) yang dikenal dengan nama Dashboard, juga sudah mobile freindly. Hanya dengan menggunakan smartphone proses produksi media berbentuk website sudah bisa dilakukan.

Atau kalau kita bicara e-commerce yang dipraktikkan situs-situs online shopping. Prinsip kerjanya dapat diserap untuk kebutuhan bidang komersil dari penerbit media. Semua transaksi gaya konvensional yang terkesan birokratis dan bertumpuk selayaknya dipangkas dengan kemudahan-kemudahan yang disajikan platform digital. Tidak bergantung pada lokasi, kemudahan memesan tanpa tawar menawar, memilih tanpa harus mengunjungi toko, pengiriman yang cepat, adalah hal-hal mendasar yang bisa jadi acuan.

Jadi, pikirkanlah bagaimana cara memotong mata rantai di saat ingin membenamkan diri pada industri media digital. It is not so easy. But this should be done.**

The post Proses Produksi Media: Memangkas Mata Rantai appeared first on yogasdesign.

]]>
https://yogasdesign.com/proses-produksi-media/feed/ 0
Generasi Digital, Sambut Kehadirannya, Bukan Dihindari https://yogasdesign.com/generasi-digital-sambut-kehadirannya/ https://yogasdesign.com/generasi-digital-sambut-kehadirannya/#comments Sat, 15 Oct 2016 09:50:39 +0000 http://yogasdesign.com/?p=361 Kata digital bagi sebagian orang merupakan langkah maju dalam peradaban, bahkan juga melahirkan generasi digital. Tapi bagi sebagian yang lain, termasuk dalam sektor bisnis, digital dianggap sebagai badai yang memporakporandakan bangunan, terutama bagi mereka yang Baca Selengkapnya...

The post Generasi Digital, Sambut Kehadirannya, Bukan Dihindari appeared first on yogasdesign.

]]>
Kata digital bagi sebagian orang merupakan langkah maju dalam peradaban, bahkan juga melahirkan generasi digital. Tapi bagi sebagian yang lain, termasuk dalam sektor bisnis, digital dianggap sebagai badai yang memporakporandakan bangunan, terutama bagi mereka yang terlena dengan kejayaan masa lalu gaya berbisnis konvesional.

generasi digital

pixabay.com

Datangnya generasi digital mau tak mau mengubah banyak cara dalam menjalani keseharian, termasuk berbisnis tentunya. Kebiasaan-kebiasaan di masyarakat pada masa lalu banyak yang ditinggalkan. Salah satu yang terlihat adalah kebiasaan maupun cara-cara menerima, mendapatkan, menyimak, membaca dan menikmati informasi.

Media-media informasi konservatif (begitu kata mereka yang sudah melek digital), seperti koran, majalah, buku bahkan hingga radio dan tivi sudah tergeser oleh gawai yang simpel digenggam dan multi fungsi ataupun berbentuk desktop PC atau laptop dengan segala kelebihannya. Tentu kesemuanya menjadi mutlak terhubung dengan internet sebagai produk dasar dari meroketnya platform digital media. Soal internet, bayangkan saja, menjelang akhir 2016 dalam skala dunia tercatat 3 milyar lebih pengguna internet, 1 milyar lebih website yang terbangun dan dalam skala Indonesia tercatat 53 ribu lebih pengguna internet (sumber: internetlivestats.com).

Ya, digital media yang begitu akrab dengan internet menjadi primadona baru bagi generasi digital. TIdak hanya mereka yang tergolong sebagai digital native (generasi yang menikmati keberadaan media digital tanpa mengalami kebutuhan terhadap media konvensional), tapi juga para digital immigrant (mereka yang pernah berkebutuhan terhadap media konvensional dan sekarang beralih ke media digital).

Keunggulan media-media digital, termasuk media sosial yang datang sebagai pemain baru di industri media, memang terasa dalam menjalankan hampir semua sisi keseharian. Dari kebutuhan berita, tutorial masak-memasak, pengkajian ilmu agama, live tv, radio streaming, komunikasi suara dan antar muka, hingga transportasi. Kesemuanya walaupun keberadaan desktop PC ataupun laptop masih banyak dipakai dalam bekerja, bisa dikatakan hanya butuh gawai yang akrab digenggam tangan, tersambung internet, lalu berselancar melalui browser maupun menanamkan aplikasi-aplikasi yang sudah sangat beragam melayani segala kebutuhan.

Perilaku masayakat modern saat ini sudah sangat berubah. Ketergantungan terhadap perangkat-perangkat digital begitu tinggi. Aktivitas yang luar biasa sibuk dan lebih banyak bergerak ketimbang berleha-leha di kantor ataupun rumah, membuat mereka sangat terbantu dengan keberadaan perangkat media digital. Dimana saja, kapan saja, dengan sambungan internet yang kini terus berkembang teknologinya, kebutuhan aktivitas sehari-hari dapat mudah dan cepat terpenuhi.

Seorang direktur marketing senior di sebuah perusahan media pernah komplain kepada staff-nya karena tugas membuat paket penjualan iklan dianggap terlalu melayani generasi digital. “Saya masih kok suka baca majalah cetak dan lihat tivi di rumah. Jadi harusnya kalian tidak usah sok-sokan lebih banyak merekomendasi media digital segala,” tegasnya. Lalu apa jawab staff-nya? “Loh, kita memang membuat program pemasaran ini dengan melihat kecenderungan kebiasaan-kebiasaan di khalayak umum yang sudah berubah. Kalau kita kembali lagi ke masa yang sedang dan sudah ditingalkan, lalu lama-lama kita pun akan ikut ditinggalkan, Kita tidak selayaknya memendang selera maupun kebiasaan pasar dari sisi diri kita sendiri.” jelas staff itu.

Tengoklah perilaku para remaja usia pendidikan yang sudah fasih menghasilkan uang hanya dengan menjadi “Youtuber” atau “Instagramer”. Berbagai bakat dan potensi dengan mudah terpublikasi massal. Atau lihat pula betapa raja media sosial Facebook mengeluarkan program “Facebook for business” yang berhasil mendorong pertumbuhan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dengan kemudahan dan fleksibelitas Ads Manager-nya.

Banyak perusahaan-perusahaan dengan gaya konvensional akhirnya tergopoh-gopoh menjangkau target omset yang diharapkan. Ketidaktepatan menyasar pasar yang sedang berkembang dan melesetnya cara-cara berbisnis yang sudah usang adalah bumerang yang akan menjadi badai bagi keberlangsungan hidup perusahaan. Generasi yang sekarang sedang datang dan yang akan datang adalah mereka yang hadir dalam kondisi semua sudah mulai didigitalisasi. Jalur-jalur dan metode untuk mendapatkan atau mencari informasi menjadi bersifat persoanal. Lalu mengapa justru masih banyak yang bertahan pada kejayaan gaya masa lalu?

Contoh yang dilakukan Instagram, yang tiba-tiba mengganti logonya yang lebih kaya warna, kontras, dan berani meninggalkan logo lama bergaya retro. Walaupun sempat banyak yang komplain tapi terbukti justru peminat yang membuka akun instagram malah semakin meningkat, bahkan mulai dari pelajar tingkat sekolah dasar. Ini karena Instagram sudah memikirkan generasi digital yang sedang datang dan akan datang, lalu menganggap pelayanan terhadap digital immigrant sudah selesai, karena masa depan bisnis digital ini ada di pundak para digital native.

Tentu masih ingat, raja handphone dunia, Nokia dan penguasa mesin chat massal, Blackberry, yang akhirnya tumbang ditelan arus deras perubahan tren digital. Sebab apa? Salah satu yang utama adalah karena ekspetasi generasi digital yang tak berhasil mereka penuhi.**

The post Generasi Digital, Sambut Kehadirannya, Bukan Dihindari appeared first on yogasdesign.

]]>
https://yogasdesign.com/generasi-digital-sambut-kehadirannya/feed/ 3
Viral Marketing dan Efektifitas Penyebaran Pesan https://yogasdesign.com/viral-marketing/ https://yogasdesign.com/viral-marketing/#comments Tue, 10 May 2016 14:11:52 +0000 http://yogasdesign.com/?p=310 Mendadak di saat media sosial makin menggurita, istilah viral marketing mencuat merebut perhatian. Terutama bagi para profesional di bidang pemasaran, periklanan dan kreatif. Metode pemasaran yang banyak mengandalkan eksistensi media sosial ini perlahan menjadi senjata Baca Selengkapnya...

The post Viral Marketing dan Efektifitas Penyebaran Pesan appeared first on yogasdesign.

]]>
Mendadak di saat media sosial makin menggurita, istilah viral marketing mencuat merebut perhatian. Terutama bagi para profesional di bidang pemasaran, periklanan dan kreatif. Metode pemasaran yang banyak mengandalkan eksistensi media sosial ini perlahan menjadi senjata utama dan efektif dalam memasarkan produk maupun jasa.

viral marketing

pixabay.com

Istilah viral marketing ini bisa dikatakan dipopulerkan oleh Tim Draper dan Steve Jurvetson dari perusahaan venture capital, Draper Fisher Jurvetson di tahun 1997 untuk menjelaskan kesuksesan marketing Hotmail sebagai email provider. Viral marketing juga dikenal dengan beberapa istilah seperti marketing buzz atau viral advertising. Pada prinsipnya  viral marketing adalah  teknik pemasaran dengan menggunakan social network untuk menyampaikan pesan kepada target audience. Adapun proses dari viral marketing ini diungkapkan beberapa ahli marketing sebagai proses yang mirip dengan penyebaran virus.

Maka dapatlah diuraikan juga bahwa viral marketing sebenarnya adalah adopsi dari sistem pemasaran jaringan. Dimana sistem ini menggunakan kekuatan duplikasi. Kegiatan dalam viral marketing banyak ditujukan untuk membuat marketing (pemasaran) dapat menyebar dalam waktu singkat tanpa harus menggunakan usaha promosi pemasaran yang tergolong besar-besaran.

Lalu apa saja faktor penting dari viral marketing? Beberapa ahli pemasaran menguraikannya sebagai berikut:

  1. Menggunakan pembawa pesan yang kredibel. Pembawa pesan yang bagus akan mampu menyebarkan pesan dengan mudah, cepat dan langsung menuju sejumlah besar prospek.
  2. Cara dan sitem penyebaran pesan yang tepat, seperti: email, link, website, atau dari mulut ke mulut.
  3. Kompensasi atau intensif yang layak bagi pembawa pesan sebagai timbal balik atas upayanya menyebarkan pesan.
  4. Pesan yang dibuat ataupun terkandung harus membuat pembawa pesan dengan mudah menyebarkannya.
  5. Memiliki ruang untuk menyebarkan pesan, seperti: komunitas, grup, atau jaringan. Dengan adanya ruang ini maka potensi pesan menebar dengan cepat menjadi tinggi.

Kemudian, untuk melakukan viral marketing, bagaimana harus memulai? Simak beberapa hal ini:

  1. Selalu mengkuti dan update dengan tren yang berkembang serta yang sedang terjadi, dan terus menggali untuk menemukan cara-cara baru menyampaikan pesan atau berkomunikasi.
  2. Tak bisa dipungkiri, pesan yang disertai gambar selalu lebih menarik. Begitupula dengan video. Buatlah materi pemasaran dalam bentuk video, karena video dipercaya memiliki daya tarik yang sangat kuat dalam mempengaruhi audiens.
  3. Gunakan keyword atau tag yang tepat dan cerdik. Dan muatlah di materi-materi pemasaran yang ada di website, weblog maupun video streaming web dan media-media sosial.
  4. Bangkitkanlah sisi emosi manusia. Senang, gembira, sedih, marah, tertawa, menangis adalah hal-hal dapat jadi pertimbangan. Lelucon atau humor hanyalah salah satu contoh dimana masih menjadi santapan yang relatif membuat orang bergembira ataupun senang. Jika materi pesan yang disampaikan membuat orang tertawa, maka potensi untuk di share kembali oleh mereka menjadi tinggi.
  5. Cobalah memanfaatkan ketenaran sesorang untuk membantun pesan cepat tersebar dan dapat mempengaruhi audiens.Pastikan juga orang tersebut mempunyai citra baik sesuai kandungan pesan yang akan disampaikan.
  6. Buatlah semacam kontes, kuis ataupun lomba lomba yang berpotensi disebarluaskan oleh audiens kepada teman-temannya.
  7. Sampaikanlah hal-hal baru yang membuat orang terkejut atau bahkan mengandung kontroversi tapi tidak sensitif. Tetap berhati-hatilah dengan unsur SARA. Dengan membuat orang terkejut maka diharapkan akan membuat orang tergugah untuk membagi-bagikannya.
  8. Manfaatkan semua media sosial yang dimiliki untuk melakukan kegiatan sharing. Dan tentu tetaplah bijak dalam menggunakannya. Agresifitas di media sosial sebaiknya tetap terkontrol dengan baik agar tidak menimbulkan kesan membabi-buta.**

The post Viral Marketing dan Efektifitas Penyebaran Pesan appeared first on yogasdesign.

]]>
https://yogasdesign.com/viral-marketing/feed/ 1