The post Social Media Optimization: Elemen Krusial Strategi Pemasaran appeared first on yogasdesign.
]]>
Bayangkan saja, menurut laporan We Are Social, salah satu agensi keratif global terkemuka, pada bulan Oktober 2024 diperkirakan terdapat 5,2 miliar pengguna media sosial di seluruh dunia. Ini berarti sekitar 63% lebih dari total populasi dunia yang menyentuh angka 8,1 milliar. Di Indonesia sendiri, meraih angka pengguna media sosial kurang lebih 139 juta orang, dari 278 juta penduduknya.
Dengan fakta ini, terlihat dengan jelas begitu banyak perhatian yang tertuju pada media sosial. Sehingga pentingnya pengoptimalan platform media sosial bukan lagi menjadi urusan sekunder dalam menjalankan bisnis.
Jika dibandingkan, SEO yang sudah dikenal sebagai metode untuk meningkatkan posisi situs web dalam hasil pencarian, SMO adalah pendekatan sebanding yang lebih menekankan pada pengembangan profil di platform media sosial.
Salah satu tokoh terkemuka dalam bidang pemasaran digital, Gary Vaynerchuk, berpendapat bahwa Social Media Optimization (SMO) merupakan elemen krusial dalam strategi pemasaran digital. Dirinya menekankan bahwa media sosial tidak hanya berfungsi sebagai tempat untuk bersenang-senang, melainkan juga sebagai saluran yang sangat efektif untuk menjalin hubungan dengan audiens, meningkatkan kesadaran merek, dan mendorong penjualan.
Dari pendapat itu, dapat dilihat bahwa ada perluasan fungsi media sosial yang awalnya lahir sebagai ruang eksitensi personal, menjadi platform yang memiliki peran penting dalam pengembangan bisnis, utamanya dalam hal membangun interaksi dengan audiens.

Photo by S O C I A L . C U T on Unsplash
Bahkan Jay Baer, penulis buku “Youtility,” menegaskan lebih dalam bahwa media sosial seharusnya tidak hanya digunakan untuk mempromosikan produk atau layanan. Media sosial merupakan platform untuk berinteraksi dengan audiens, mendengarkan umpan balik mereka, dan membangun hubungan yang autentik. Social Media Optimization (SMO) memungkinkan kita untuk memulai dan menjaga percakapan yang signifikan dengan audiens kita.
Penggunaan SMO memungkinkan inisiatif Social Media Marketing (SMM) untuk beroperasi lebih baik dengan meningkatkan konten, yang sebenarnya mirip dengan bagaimana SEO mendukung peringkat mesin pencari yang lebih tinggi. Bedanya, jika SEO lebih bertujuan meningkatkan trafik website di mesin pencari, SMO berfokus pada peningkatan jangkauan audiens menggunakan media sosial.
Pada dasarnya SMO dan SEO sangat bagus untuk digunakan bersama satu sama lain. Keduanya menjalankan fungsi yang sama untuk berbagai area strategi pemasaran digital. Pelaku bisnis dapat memaksimalkan rencana pemasaran digital dengan menggunakan keduanya. Bahkan saat ini, hampir semua jenis bisnis punya kecenderungan membangun kehadiran mereka di media sosial dengan memposting konten kreatif yang dirancang untuk berinteraksi dengan demografis yang ditargetkan.
Adapun mengenai tujuan dari Social Media Optimization (SMO) dalam rangka mencapai berbagai tujuan bisnis, secara umum dapat diuraikan sebagai berikut:

Photo by cottonbro studio
Lalu,apa yang harus dilakukan untuk Social Media Optimization (SMO) untuk bisnis? Untuk memulai pengoptimalkan media sosial terdapat beberapa lanbgkah yang dapat membantu untuk melakukannya dengan efektif. Berikut adalah langkah-langkah utama yang bisa diambil dalam menjalankannya:
Brian Solis, seorang analis dan antropolog digital independen mengingatkan, “Media sosial telah mengubah lanskap bisnis. Untuk bertahan dan berkembang, Anda harus beradaptasi dengan platform ini dan menjadikannya bagian dari strategi bisnis Anda.” (*)
The post Social Media Optimization: Elemen Krusial Strategi Pemasaran appeared first on yogasdesign.
]]>The post Salah Kaprah Transformasi Digital di Era Tanpa Sekat appeared first on yogasdesign.
]]>
Keberadaan istilah transformasi digital menjadi lebih mengemuka bersamaan dengan meningkatnya pemahaman tentang bagaimana teknologi dapat mendisrupsi model bisnis tradisional, lalu menghasilkan metode-metode baru dalam berinteraksi, bekerja, dan berinovasi. Di era kemajuan teknologi yang cepat, transformasi digital sangat penting bagi bisnis. Ketika beradaptasi dengan era digital ini, maka akan menghadapi tantangan yang membutuhkan navigasi efektif.
Brian Solis, analis dan antropolog digital independen yang diakui secara global, mendefinisikannya sebagai realokasi teknologi dan model bisnis untuk menciptakan nilai baru, pengalaman, dan kompetisi di dunia yang didominasi oleh teknologi digital.
Sedangkan David L. Rogers dari Columbia Business School mendefinisikan transformasi digital sebagai kemampuan organisasi untuk mengubah strateginya dalam menghadapi perubahan yang diakibatkan oleh teknologi digital.
Forrester, sebuah perusahaan riset pasar global terkemuka memberikan definisi transformasi digital sebagai perubahan bisnis secara mendasar yang melibatkan penerapan teknologi digital untuk meningkatkan performa perusahaan, mengembangkan hubungan dengan pelanggan, serta menciptakan efisiensi operasional.
Menyimak definisi-definisi para ahli tersebut, patut digarisbahwahi bahwa terdapat perubahan-perubahan mendasar dan strategis dalam menjalankan bisnis atau organisasi di saat teknologi digital mendominasi hampir semua kegiatan sehari-hari.

Photo by Kaboompics.com
Tetapi, melihat fakta yang terjadi, harus diakui bahwa masih banyak yang tergagap-gagap dalam menjalankan transformasi ini. Tak hanya di Indonesia, bahkan di banyak belahan dunia pun demikian. Sehingga proses yang digadang-gadang akan menjadi pijakan baru dalam meningkatkan nilai tambah dalam bisnis, justru tak sepenuhnya berjalan sesuai yang diharapkan.
Selain masih belum mumpuninya penguasaan teknologi, terutama pada masyarakat lapisan bawah di negara berkembang, tak bisa diabaikan adanya fakta bahwa, dalam menjalankan bisnis masih banyak dipertahankan pucuk-pucuk pengambil keputusan yang tergolong digital immigrant. Yakni mereka yang lahir dan bertumbuh di era analog, di mana mereka masih menggunakan cara berpikir tradisional, dan hanya berubah secara digital untuk hal-hal sederhana. Seperti menggunakan gawai untuk chatting, belanja online, utak-atik image generator, atau berasyik masyuk dengan media sosial dan mencari hiburan.
Padahal dalam dunia digital dibutuhkan perubahan bisnis yang radikal, tidak hanya dalam hal penerapan teknologi, namun juga dalam cara memutuskan solusi itu sendiri. Pergeseran ini berdampak pada setiap aspek organisasi, tidak hanya mengadopsi teknologi baru tetapi juga membutuhkan manajemen perubahan yang substansial dalam operasi bisnis, serta keterlibatan pelanggan.
Terbilang tidak sedikit, yang berpikir bahwa digitalisasi hanyalah pergeseran platform. Nyatanya banyak hal yang harus berubah, seperti model bisnis, cara bekerja, cara pandang hingga perancangan road map bisnis yang progresif.

Photo by cottonbro studio
Harus disadari, keberadaan transformasi digital membuat dunia makin terbuka, banyak sekali sekat-sekat maupun aturan-aturan yang mau tak mau wajib dilakukan pembaruan. Tak ada lagi istilah “out of the box”, karena gelombang otomasi membentuk cara berpikir “there is no box”. Eksplorasi ide nyaris tanpa batas, bahkan fantasi-fantasi pun berpotensi besar menjadi realitas, memasuki pasar baru, menjangkau pelanggan baru, atau memberikan produk dan layanan dengan cara baru.
Kemampuan beradaptasi terhadap cepatnya perubahan adalah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Mempertahankan cara berpikir tradisional justru membuat banyak aspek bisnis tak berkembang. Manusia-manusia di pusaran digitalisasi dituntut terus berinovasi dalam rangka pengembangan bisnis. Belum lagi soal mata rantai, baik di urusan business to business maupun business to consumer, tak boleh terlewat untuk disimplifikasi.
Masih banyak yang membangun produk digital, tapi justru tidak membuat lebih sederhana penyelesaian masalah. Contohnya saat mengembangkan aplikasi mobile, kemudahan bagi pengguna untuk mengoperasikannya sering kali terabaikan. Aplikasi hanya dibuat untuk mengabsahkan adanya digitalisasi, tapi urusan memudahkan atau membuat semua menjadi lebih sederhana, gagal diimplementasikan dengan tepat. Biasanya produk digital berkarakter seperti ini akan lekas ditinggal para penggunanya, atau dibiarkan mati pengembangnya karena seringkali dibuat hanya untuk menghabiskan anggaran suatu instansi, tak jelas tujuannya apa.
Cara pandang yang tidak tepat juga terjadi di area investasi. Transformasi digital bukan berarti otomatis terjadi penurunan biaya investasi, walaupun ada beberapa sektor yang bisa saja mengalaminya. Tapi investasi di bidang teknologi digital juga memiliki variabel-variabel biaya yang tidak sederhana. Dari urusan infrastruktur, kemanan data, hingga penggunaan software dan tentu saja human resources. Adapun soal pengurangan biaya, justru diproyeksikan transformasi digital ini akan membantu organisasi mengurangi biaya dengan mengotomatiskan proses, meningkatkan efisiensi, dan merampingkan operasi.
Urusan kultur perusahaan atau organisasi dan instansi juga patut jadi perhatian. Di mana gaya birokratis yang cenderung berlapis-lapis membuat banyak urusan menyangkut penyelesaian masalah makin rumit. Padahal penyederhanaan sistem di segala lini sudah tak bisa dihindarkan jika ingin menjalankan transformasi digital.

Photo by Thirdman
Termasuk di dalamnya menyangkut leadership, yang mana penyerapan sumber ide dari bawah atau atas sudah tak jadi isu yang relevan. Yang jelas, transformasi digital memerlukan komitmen dari tingkat manajemen puncak. Jika tidak ada dukungan atau visi yang jelas dari pimpinan, proses transformasi bisa terhambat.
Departemen-departemen dalam satu organisasi tak bisa lagi bekerja terpisah mementingkan achievment masing-masing. Bekerja secara terintegrasi dan berkolaborasi harus jadi perilaku baru. Seiring dengan wajibnya tenaga kerja memiliki keterampilan yang cukup di bidang teknologi digital seperti algoritma, analitik data, SEO, UI/UX, keamanan siber, AI, atau manajemen cloud, dsb. Bukan sekadar pandai berkomentar dan memencet tombol “like” di media sosial, lalu berubah menjadi individu yang toxic dengan perilaku yang obsesif terhadap viralitas. (*)
The post Salah Kaprah Transformasi Digital di Era Tanpa Sekat appeared first on yogasdesign.
]]>The post Manusia Modern dalam Penjara Baru Bernama Algoritma appeared first on yogasdesign.
]]>
Perhatikan juga dengan cermat sewaktu menggunakan media sosial dan melihat banyak posting-an dari akun yang tidak diikuti, termasuk iklan yang secara materi sesuai dengan hal-hal yang Anda minati? Ya, algoritma melakukan ini untuk membuat Anda lebih intens dan dalam saat mengakses berbagai jenis konten di banyak platform.
Lalu apa sih, sebenarnya pengertian algoritma? Pada dasarnya algoritma merupakan serangkaian instruksi atau langkah-langkah yang dirancang dan direncanakan secara matang sehingga terurut dan terorganisir dengan baik untuk menyelesaikan suatu masalah atau mencapai tujuan tertentu.
Algoritma bisa digunakan dalam berbagai bidang, termasuk ilmu komputer, matematika, dan teknik, untuk menyelesaikan tugas-tugas yang rumit melalui metode yang sistematis dan efisien.
Berkenaan dengan pengertian algoritma, Donald Ervin Knuth, seorang ilmuwan komputer dan matematika Amerika, yang juga profesor emeritus di Universitas Stanford, menguraikan bahwa algortima memiliki beberapa karakteristik utama, yakni:
DOMINASI ALGORITMA
Harus diakui, bahwa teknologi semakin hari semakin mengambil alih peran penting dalam kehidupan manusia. Dan algoritma yang jadi salah satu inti dari teknologi modern seperti kecerdasan buatan, search engine, dan machine learning, terasa sekali makin mendominasi atau memengaruhi cara kita hidup, berpikir, dan berinteraksi.
Sesederhana sesorang memberikan akses untuk membaca aktivitasnya pada gadget, maka tersusunlah algoritma yang melakukan profiling dari preferensi personal, dan mengeluarkan rekomendasi konten maupun iklan yang pastinya akan mempengaruhi banyak hal. Dari soal cara berpikir, persepsi, opini, hingga tindakan-tindakan berbasis daring seperti belanja, vote, subscribe, bertransaksi, dll.

Photo by camilo jimenez on Unsplash
Beberapa hal yang patut jadi perhatian dari fenomena mendominasinya algoritma dalam hidup manusia, antara lain:
Dari urian di atas, termasuk tentang pengertian algoritma, nampak sekali bahwa algoritma mempunyai pengaruh signifikan pada pengendalian dan perubahan perilaku manusia, dan itu berjalan dengan melalui beberapa cara:
Mengapa algoritma begitu digdaya mempengaruhi ketergantungan manusia modern? Sepertinya ada beberapa faktor penting yang berkontribusi terhadap ketergantungan ini antara lain:
DAMPAK ALGORITMA
Meskipun ketergantungan pada algoritma memiliki banyak manfaat, seperti efisiensi, kemudahan akses informasi, dan personalisasi layanan, penting untuk mempertimbangkan tantangan dan risikonya juga. Oleh karena itu, perlu juga diketahui sisi positif dan negatif dari perkembangan teknologi berbasis algoritma ini.
Dampak Positif:
Dampak Negatif:
Perlu digarisbawahi saat kita mempelajari pengertian algoritma, bahwa dampak algoritma pada kehidupan manusia tidak selalu hitam putih. Algoritma dapat memiliki dampak positif dan negatif tergantung pada bagaimana mereka dirancang, digunakan, dan diawasi. Jadi, apakah Anda ingin terbantu atau terpenjara oleh keberadaan algoritma? Semua tergantung bagaimana menggunakannya. (*)
The post Manusia Modern dalam Penjara Baru Bernama Algoritma appeared first on yogasdesign.
]]>The post Desain UI/UX Memastikan Produk Diminati Pengguna appeared first on yogasdesign.
]]>
Photo by Amélie Mourichon on Unsplash
UI adalah bagian dari UX, salah satu perbedaan yang menonjol terletak pada tujuan desain. Desain UI/UX memiliki fokusnya masing-masing. UI bertujuan memperindah tampilan visual produk. Sedangkan UX didesain untuk memberikan pengalaman yang menyenangkan bagi pengguna.
Desain UI berfokus pada komponen seperti warna, gambar, animasi video, pilihan font, tombol, dan gambar interaktif lainnya. Sedangakan desain UX mencakup komponen seperti fungsionalitas, struktur desain, navigasi.
Desain UI harus membuat pengguna dengan mudah dan cepat menemukan fitur atau fasilitas yang diinginkan berdasarkan pandangan visual. Sedangkan desain UX harus menyajikan pengalaman eksplorasi fitur-fitur dalam satu platform yang usefull, diinginkan dan lengkap dengan cara semudah mungkin.
Desainer UX menangani gambaran besar suatu produk, seperti membuat sitemap dan alur perjalanan pengguna berdasarkan cara mereka berinteraksi dengan bermacam hal. Perlu diingat bahwa faktor UX ini termasuk yang dapat menentukan apakah aplikasi akan sukses atau tidak. Di sinilah bicara tentang kegunaan, pemecahan masalah, dan nilai estetika.
Desainer UI mengelola interaksi antara manusia dan komputer, masuk ke detail setiap halaman, tombol, tata letak, dan gambar untuk membuat produk ramah pengguna dan menarik secara visual.
CAKUPAN PEKERJAAN DESAIN UI/UX
Desain UX
Lingkup kerja desainer UX secara umum adalah:

Photo by Fabian Wiktor
Desain UI
Desainer UI memiliki tanggung jawab untuk mempertahankan pekerjaan yang telah diselesaikan oleh desainer UX. Secara lebih rinci, tanggung jawab desainer UI meliputi:
URUTAN KERJA DESAIN UI/UX
Pengerjaan desain UI/UX memiliki beberapa tahapan pengerjaan yang runtut, yaitu antara lain:
1. Riset UX
Penelitian terhadap preferensi pengguna terhadap tampilan suatu platform, baik itu berbentuk web atau aplikasi, pada tahap pengembangan tak bisa diabaikan. Sebab, seorang pengembang harus memahami kebutuhan pengguna atau target pasarnya.
Meskipun sebuah ide produk menarik dan bermanfaat bagi banyak orang, namun jika desain dan tampilannya tak sesuai dengan kebutuhan pengguna, maka produk tersebut tidak akan menarik bagi pengguna dan berisiko cepat ditinggalkan. Oleh karena itu, seorang desainer UI/UX harus mencapai keseimbangan antara ide dan tampilan akhir produk agar menarik bagi pengguna.
2. Information Architecture
Langkah berikutnya dalam desain UI/UX adalah membuat information architecture, yang merupakan hasil dari penelitian sebelumnya.
Contohnya, jika ingin membuat aplikasi pemesanan penginapan, maka aplikasi tersebut akan memerlukan fitur untuk pendaftaran pengguna, pengaturan lokasi, inforamsi fasilitas, ketersediaan kamar, informasi harga, profil pengguna untuk verifikasi data, hingga pembayaran, dan lain sebagainya.
Setiap informasi tersebut juga akan dijelaskan secara lebih rinci tentang unsur-unsur yang terdapat di dalamnya. Dengan demikian, langkah selanjutnya dapat dilakukan dengan lebih mudah, karena informasi yang jelas telah tersedia sesuai dengan kebutuhan pengguna.
3. Wireframe
Desainer UX adalah yang bertanggung jawab dalam pembuatan kerangka aplikasi (wireframe). Tugasnya adalah menata arsitektur informasi yang telah disusun sebelumnya. Dalam membuat wireframe, biasanya desainer UX menggunakan tools atau software khusus yang direkomendasikan.
4. Alur UX
Pembuatan wireframe dan pengaturan alur UX atau juga dikenal dengan istilah UX Flows, bisa dilakukan bersamaan karena keduanya saling berhubungan untuk memastikan pengalaman pengguna yang sesuai dengan kebutuhan.
Sebagai contoh, penempatan wireframe untuk bagian registrasi dalam sebuah aplikasi harus ditempatkan di awal agar tidak menimbulkan kebingungan. Oleh karena itu, alur UX disesuaikan sehingga penempatan kerangka awal aplikasi menjadi tepat dan sesuai.
5. Prototipe Desain
Biasanya pada tahap ini sudah dikerjakan oleh desainer UI. Walau begitu, kolaborasi antara desainer UX dan desainer UI sangat penting agar saling mengerti ide pengembangan apa yang harus diwujudkan supaya sesuai dengan kebutuhan pengguna.
6. Sistem Desain
Pada tahapan ini, desainer UI akan berkolaborasi dengan frontend developer untuk mewujudkan desain yang menarik. Desain berbagai jenis ikon, thumbnail, arrow dll. yang dibutuhkan akan disesuaikan dengan pilihan warna agar memberikan pengalaman penggunaan yang menarik.
7. Desain UI
Desain UI akan sepenuhnya dilakukan oleh desainer berdasarkan hasil riset UX dan tahap-tahap yang sebelumnya dilakukan. Desain akan diperiksa ulang oleh desainer UX untuk memastikan kesesuaian dengan hasil riset dan kebutuhan aplikasi.
8. Pengembangan
Pada tahap ini, tugas desainer UI/UX bisa dikatakan sementara selesai. Selanjutnya, produk akan dikerjakan oleh pengembang web atau pengembang aplikasi yang ditangani para programmer untuk pengembangan sistem, mulai dari frontend developer hingga backend developer.
9. Uji Coba
Setelah programmer menyelesaikan pengembangan, lalu saatnya dilakukan UAT (user acceptance testing) sebagai langkah pengujian produk. Biasanya, tim lengkap akan melakukannya untuk memberikan umpan balik apakah masih ada kesalahan atau tidak.
10. Release
Setelah hasil uji coba melalu proses finalisasi, maka saatnya mempublikasikan ke publik sesuai sasaran pengguna yang dituju atau sesuai target market yang sudah disepakati.
SOFTWARE
Beberapa tools ataupun software yang sering digunakan desainer UI/UX, antara lain:
Adobe XD
Perangkat lunak ini sangat penting untuk desainer UI UX. Adobe XD menawarkan beberapa keunggulan, seperti fitur prototyping tool yang dapat mempermudah alur kerja suatu proyek. Selain itu, manfaat lain dari Adobe XD dapat membantu membuat kerangka kerja yang memudahkan pekerjaan.
Balsamiq
Tools ini dapat membantu desainer bekerja lebih cepat karena dapat memfasilitasi wireframe. Salah satu keunggulan Balsamiq adalah dapat menguji banyak model.

Photo by Balázs Kétyi on Unsplash
Figma
Figma adalah alat desain dan prototipe berbasis cloud untuk proyek digital. Keunggulan aplikasi ini adalah pengguna dapat lebih mudah berkolaborasi dengan seluruh anggota tim di mana saja dan kapan saja.
Sketch
Sketch adalah salah satu program paling populer karena membuat prototyping menjadi mudah, terutama untuk pengguna komputer berbasis OS Macintosh. Ini memiliki fitur utama seperti plugin yang kuat dan antarmuka intuitif yang dapat mempermudah desainer. (*)
The post Desain UI/UX Memastikan Produk Diminati Pengguna appeared first on yogasdesign.
]]>The post Strategi Personal Branding, Mulai dari Mana? appeared first on yogasdesign.
]]>
Personal branding inilah yang digadang-gadang akan membentuk persepsi seorang individu di mata publik. Ini juga tentang bagaimana membangun reputasi, menciptakan citra diri untuk dunia luar dan memasarkan diri sebagai individu.
Menukil dari situs personalbrand.com, personal branding didefinisikan sebagai upaya sadar dan disengaja untuk menciptakan dan mempengaruhi persepsi publik tentang individu dengan memposisikan mereka sebagai otoritas dalam industri mereka, meningkatkan kredibilitas mereka, dan membedakan diri dari kompetisi, untuk akhirnya memajukan karir mereka, meningkatkan lingkaran pengaruh mereka, dan memiliki dampak yang lebih besar.
Memperlakukan diri Anda sebagai merek (brand) bisa mengenai apa saja. Dari urusan nama, nada suara, reputasi, manifesto, simbol yang digunakan, dan banyak lagi. Hal-hal tersebut akan menjadi pembeda diri Anda di tengah publik.
Mulai dari Mana?
Menjadi diri sendiri: Salah satu elemen terpenting dari personal branding, adalah “Menjadi diri sendiri”. Anda tidak harus mengikuti keramaian. Apa yang pasti dapat dilakukan, itulah diri Anda. Jangan berfantasi menjadi seorang ahli suatu bidang baru, hanya karena merasa punya sedikit pengetahuan dasar bidang itu.
Fokus pada kekuatan dan nilai: Persis seperti saat memasarkan bisnis, pemasaran diri Anda sendiri dimulai dengan pemahaman tentang potensi pribadi sendiri. Pikirkan tentang apa yang membuat Anda berbeda dengan jutaan orang lain di dunia yang luas ini.
Menjadi pemilik otoritas: Setelah mengetahui kekuatan dan nilai diri, maka sempurnakanlah kekuatan itu. Terus belajar mengenai perkembangan-perkembangan yang terjadi, tumbuh, dan serap sehingga Anda dapat berbagi pengetahuan dengan orang lain. Tunjukkan kapabilitas Anda dalam satu bidang yang memang dikuasai melalui video, posting blog, atau media sosial.
Menetapkan prioritas: Pahami betul bahwa tujuan branding adalah untuk menggerakkan Anda menuju tujuan yang ditetapkan. Anda harus memikirkan tujuan dan ambisi yang ingin dicapai. Menetapkan prioritas akan menjadi panduan segala tindakan dan keputusan saat membangun merek.
Membangun platform: Anda tidak dapat mempromosikan merek pribadi tanpa platform. Keberadaan media sosial sebenarnya sudah sangat mendukung, tapi Anda mungkin memerlukan situs web yang mencakup nama , akun media sosial, dan solusi lain yang digunakan untuk memasarkan diri.

Photo by Anete Lūsiņa on Unsplash
Menentukan strategi konten: Saat Anda mensosialisasikan diri dengan platform yang tersedia, seperti blog, media sosial, maupun yang lainnya, apa tujuan Anda memproduksi konten? Apakah memonetisasi platform itu secara langsung, atau pltaform itu menjadi media untuk mengarahkan persepsi publik tentang Anda? Segera tentukan agar strategi konten yang dijalankan searah dengan tujuan itu.
Membangun reputasi: Reputasi adalah pandangan orang lain tentang diri kita. pandangan ini dibentuk dari proses berkesinambungan, tercemin dari tindakan nyata yang konsisten. Tentukan bidang yang akan Anda bangun reputasinya dalam diri sendiri. Mulailah menunjukkan potensi atau bahkan prestasi dalam bidang itu kepada publik.
Kesalahan membangun personal brand
Tak jarang, mereka yang membangun personal brand terjebak dalam kesalahan-kesalahan tak perlu. Hal ini justru membuat dirinya stagnant atau terlihat maju namun semu dan akhirnya terbenam.

Photo by Cookie the Pom on Unsplash
Apa saja kesalahan-kesalahan yang banyak dilakukan para profesional dalam menjalankan strategi personal branding? Berikut beberapa poin penting yang diringkas dari berbagai sumber dan literatur.
Dari poin-poin yang telah diuraikan, mungkin ada satu-dua hal yang pernah Anda lakukan. Jangan tunda untuk memperbaikinya. Ingatlah, brand adalah apa yang membuat Anda sebagai pribadi menjadi unik, dan memastikan bahwa diri Anda akan selalu berharga, tidak peduli berapa banyak perusahaan atau individu lain yang mencoba mencontoh ide Anda.**
The post Strategi Personal Branding, Mulai dari Mana? appeared first on yogasdesign.
]]>The post Algoritma Youtube Jangan Hanya Dipelajari, Tapi Disiasati appeared first on yogasdesign.
]]>
Photo by Leon Bublitz on Unsplash
Bagaikan seleksi alam, tak sedikit pula yang bertumbangan karena urung mencapai hasil yang diimpikan. Banyak pasal, selain faktor kreasi dan kualitas konten, serbuan public figure yang juga berbondong-bondong menyerbu platform ini sedikit banyak juga jadi penyebab. Walaupun banyak juga di antara mereka yang sudah lebih dulu mengembangkan sejak lama.
Booming para public figure membuat channel Youtube jelas terlihat saat masuk masa pandemi, yang mengikis eksistensi mereka. Tak ayal nama dan wajah yang sudah familiar di publik menjadi makanan gurih Youtube, yang juga memberlakukan algoritma dalam mesin pencarinya. Dan semua sah-sah saja, toh, Youtube sendiri tidak memberikan batasan seputar itu.
Dengan network dan kekuatan finansial yang lebih stabil ketimbang content creator pendatang baru yang amatir, perekrutan tenaga-tenaga ahli dengan mudah didapatkan para pesohor ini. Dari sektor penguasaan produksi audio visual hingga soal membaca arah algoritma Youtube yang jadi sektor krusial dalam membuat channel.
Ya, faktor algoritma Youtube inilah salah satu yang banyak terabaikan oleh mereka yang terlanjur tergiur proyeksi penghasilan. Padahal layaknya sebuah produk teknologi, di belakang kecanggihan-kecanggihan yang terlihat masih ada unsur kecanggihan lain yang tak kasat mata. Dan itu harus dipelajari cara bekerjanya, lalu disiasati pastinya.
Seperti Apa Algoritma Youtube Bekerja?
Inti dari algoritma YouTube adalah merekomendasikan hal yang berbeda kepada orang yang berbeda. Secara ringkas, YouTube menggunakan tiga kategori utama untuk mempersonalisasi rekomendasi bagi pengguna, yaitu
Biasanya hasil dari kerja algoritma ini, bagi pengguna, terditeksi pada video yang tampil beranda YouTube, peringkat hasil untuk setiap pencarian, dan video yang disarankan untuk untuk dilihat. Hal-hal ini membuat para content creator juga harus memperhatikan beberapa faktor penting yang akan mempengaruhi rekomendasi tersebut, di antaranya yaitu engagement metrics dan metadata.



Terdiri dari apa saja engangement metrics?
Lalu, untuk mendorong keberhasilan video yang diunggah agar berhasil melayani algoritma Youtube, metadata juga punya peran yang tak kalah bernilai yaitu: keyword (kata kunci), title (judul), deskripsi, tags, dan penamaan file.
Pentingnya SEO untuk Youtube
Di luar urusan kualitas konten, penguasaan Search Engine Optimization (SEO) sangat dibutuhkan dalam konteks membantu mendorong algoritma Youtube agar merekomendasikan video kepada pengguna. Beberapa elemen penting dalam SEO untuk Youtube yang patut dicermati a.l.:
KEYWORD: Tentukan keyword utama dan pendamping yang ditargetkan, lalu cantumkan pada: judul, deskripsi, tags, penamaan file video, teks pada thumbnail, penamaan file thumbnail.
Nah, untuk menentukan keyword dapat menggunakan beberapa opsi sumber, a.l yang sering digunakan:
JUDUL: Cantumkan keyword utama yang sudah jadi target pada penulisan judul, lalu tambahkan keyword pendamping jika perlu atau dibutuhkan. Dan perlu jadi catatan, walaupun seorang content creator dapat menggunakan 100 karakter, panjang optimal adalah 70 karakter (termasuk spasi), karena apa pun yang lebih dari itu akan dipersingkat.
Contoh:
Keyword Utama: Manfaat Lari Pagi ; Keyword Pendamping: Usia 50 Tahun
Judul: 10 Manfaat Lari Pagi bagi Kesehatan Tubuh di Usia 50 Tahun
Keyword Utama: Tutorial Gitar Elektrik
Judul: Tutorial Gitar Elektrik ini Bikin Kamu Jago Main Musik Jazz
Keyword Utama: Burger Terenak
Judul: Burger Terenak di Jaksel Makannya Bikin Ngos-ngosan!
DESKRIPSI: Pada deskripsi usahakan penggunaan keyword yang ditargetkan lebih banyak daripada kata-kata lain dan selalu usahakan berada di paragraf pertama, kalimat pertama. Beberapa detail lain yang dapat disertakan untuk membantu mendapatkan peringkat lebih tinggi seperti: tautan ke media sosial, tautan afiliasi kerjasama, sumber-sumber lain, tautan ke video lain yang berkaitan.
Contoh:
Keyword Utama: Manfaat Lari Pagi ; Keyword Pendamping: Usia 50 Tahun
Judul: 10 Manfaat Lari Pagi bagi Kesehatan Tubuh di Usia 50 Tahun
Deskripsi: Mengenai manfaat lari pagi, riset yang diterbitkan dalam Frontiers in Physiology mengatakan, rutin berolahraga lari setelah usia 50 tahun tetap bisa mendapatkan tubuh ideal dan peforma atletik yang serupa dengan mereka yang mulai berlari di usia muda. Dalam riset manfaat lari pagi ini, peneliti menganalisis 150 pelari di atas usia 50 tahun.
TAGS: Tag adalah cara lain untuk memberikan konteks pada video yang dapat membantu menentukan peringkat di penelusuran. Pada Tags, cantumkan keyword yang dituju, lalu dampingi dengan tag lain yang berhubungan.
Contoh:
Keyword Utama: Manfaat Lari Pagi ; Keyword Pendamping: Usia 50 Tahun
Judul: 10 Manfaat Lari Pagi bagi Kesehatan Tubuh di Usia 50 Tahun
Tags: manfaat lari pagi, usia 50 tahun, olahraga, easy run, runner, pelari, usia senja, kebugaran tubuh, kesehatan tubuh
PENAMAAN FILE VIDEO: Penamaan file video yang akan diunggah idealnya dicantumkan juga keyword yang ditargetkan, lalu gunakan tanda hubung (-) antar kata. Karena mesin pencari seperti Google yang juga merupakan pemilik Youtube, memahami kalimat dengan tanda hubung dash (-) sebagai satu kalimat dengan kata yang terpisah.
Contoh:
Keyword Utama: Manfaat Lari Pagi ; Keyword Pendamping: Usia 50 Tahun
Judul: 10 Manfaat Lari Pagi bagi Kesehatan Tubuh di Usia 50 Tahun
Penamaan file video: manfaat-lari-pagi-usia-50-tahun.mp4
THUMBNAIL: Thumbnail dirancang untuk meningktakan CTR (rasio kemungkinan pengguna mengklik video). Youtube juga menggunakan keunggulan mesin Google untuk membaca thumbnail dengan memanfaatkan teknologi AI (Artificial Intelegent) dengan mengembangkan Google Vision dan Google Video intelligence.
Dalam membuat thumbnail disarankan:
Contoh:
Keyword Utama: Manfaat Lari Pagi ; Keyword Pendamping: Usia 50 Tahun
Judul: 10 Manfaat Lari Pagi bagi Kesehatan Tubuh di Usia 50 Tahun
Penamaan file thumbnail: manfaat-lari-pagi-usia-50-tahun.jpg
![]()
Keyword Utama: Tutorial Gitar Elektrik
Judul: Tutorial Gitar Elektrik ini Bikin Kamu Jago Main Musik Jazz
Penamaan file thumbnail: Tutorial-Gitar-Elektrik-Main-Musi-Jazz.jpg
![]()
CARDS: YouTube Cards adalah fitur interaktif yang mendorong pemirsa untuk melakukan salah satu dari lima tindakan:

END SCREEN: YouTube End Screen adalah informasi yang mirip dengan Cards, hanya muncul saat video selesai, dalam 5-20 detik terakhir. Kita dapat memilih untuk menempatkan video, atau playlist tertentu.

Walaupun hal-hal yang telah terurai tidak bisa dijadikan jaminan mutlak, tapi setidak-tidaknya dari banyaknya paparan para ahli di platform audio visual ini dapat kita ambil intisarinya. Dan pastinya hal yang tak boleh dilupakan adalah kualitas konten yang Youtube friendly. Karena saat pengguna sudah masuk untuk menonton konten yang telah diunggah, kesan pertama terhadap konten akan menentukan. Apakah akan tetap menonton sampai selesai, atau justru dengan sangat cepat memutuskan untuk tak meneruskan.
Begitulah beberapa uraian menyangkut algoritma dan SEO untuk Youtube. Eksistensinya tak henti-henti mengalami perubahan. Algoritmanya pun sudah beberapa kali mengalami pengembangan. Jadi tetaplah mencermati apa yang sedang dan akan terjadi, karena perubahan tak akan pernah berhenti. (*)
The post Algoritma Youtube Jangan Hanya Dipelajari, Tapi Disiasati appeared first on yogasdesign.
]]>The post Belajar SEO Jalur Alternatif, Melayani Logika Mesin Pencari appeared first on yogasdesign.
]]>
Photo by xframe.io
Sebenarnya untuk hal-hal mendasar dalam menjalankan dan belajar SEO standar, banyak sekali literatur yang tersedia di dunia maya. Bahan bacaan yang melimpah ruah di perpustakaan bernama search engine rasanya sudah lebih dari cukup untuk mempraktikan optimasi situs web agar menjadi search engine friendly.
Beberapa pakar maupun mentor nomor wahid kelas dunia pun, seperti Neil Patel, Susan Dolan, atau Aimee Beck dan lainnya, kerap kali menulis dan membuka workshop atau memberikan tutorial-tutorial yang sangat mumpuni.
Pasalnya, banyak sekali seluk beluk belajar SEO yang lebih dalam juga bersinggungan dengan web programming, dengan bahasa pemrograman yang hanya dipahami mereka-mereka yang memang akrab dengan bahasa program komputer itu. Di area inilah, SEO standar yang guidence-nya sudah banyak bertebaran terasa kurang menggigit.
Untuk beberepa situs web yang dibangun dan dikembangkan dengan memanfaatkan open source web builder seperti WordPress, Wix, Squarspace, Grapesjs dll., biasanya mengandalkan plugin yang tersedia, baik itu bersifat free maupun premium. Tapi, selayaknya mesin yang sudah terprogram, ia juga bekerja dengan S.O.P berdasarkan checklist permanen, terutama di zona content writing, yang akan ada pembaharuan pada waktu-waktu tertentu.
Lalu bagaimana dengan mereka yang tergolong awam, dan sudah cukup menguras energi saat belajar menguasai ilmu SEO standar? Apakah harus pasrah dengan keterbatasan pengetahuan bahasa programming? Apakah harus puas dengan pekerjaan instan, text book dan autopilot yang dijalankan plugin-plugin pada web builder? Harusnya sih, tidak.
Yang akan diutarakan di sini bukanlah bahan bacaan yang secara sistematis tersusun rapi layaknya tutorial resmi dari para pakar. Atau bahkan bisa jadi, apa yang akan diungkapkan di sini juga tidak pernah “direstui” sebagai acuan yang teruji validitasnya secara ilmu pengetahuan web developing. Bahkan, sebenarnya yang akan terungkap bukan hal baru dan asing bagi mereka yang sudah kapalan di dunia optimasi mesin pencari.
Sah-sah saja jika ada yang mengatakan bahwa selalu diperlukan jalan alternatif untuk menggali setiap ilmu pengetahuan. Begitu pula dengan persoalan belajar SEO ini, jalan alternatif juga tersedia bagi mereka yang tak cepat menyerah mengeksplorasi hal-hal baru. Lalu harus mulai dari mana? Wait a minute, take a deep breath first.
Belajar Logika Mesin Pencari
Pertama, perlu diingat bahwa belajar SEO jalan alternatif ini bukan hal yang berdiri sendiri. Justru jalan ini untuk mendukung prosedur standar sesuai yang dianjurkan para ahli. Jalan mempelajari optimasi yang akan dipaparkan di sini untuk memperkuat dan sifatnya lebih kepada cara berimprovisasi. Maka selalu bekerjasamalah dengan web progamer dalam mengaplikasikannya.
Untuk memulai belajar SEO, maka paling minim adalah menjalankan langkah SEO baku. Jika ada hal-hal kecil yang menyangkut bahasa programming, dan terasa sulit diaplikasikan, mintalah web programmer Anda untuk bantu mengeksekusinya. Is it clear? Ok, let we start!
Setup Metadata
Sebuah situs web bisa kita ibaratkan sebagai sebuah bangunan. Maka ia akan ada pondasinya, akan ada interiornya, akan ada isinya, ada alamatnya dan pastinya dapat dipercantik rupanya. Pondasi bangunan memegang peranan sangat penting. Apakah situs web dibuat dengan membangun dari nol, atau menggunakan template yang sudah ada dan banyak tersedia di marketplace.. Masing-masing punya nilai plus dan minus.
Dari keduanya, pastinya punya konstruksi standar yang sudah jadi acuan default para web developer. Hal yang jadi perhatian untuk menjalankan SEO adalah, sebuah situs web yang sudah terbangun dipastikan akan memuat metadata.
Metadata pada situs web biasanya terdiri dari judul halaman dan deskripsi meta untuk setiap halaman. Ini memberi mesin pencari informasi penting tentang konten dan tujuan setiap halaman di situs web. Hal ini akan sangat membantu mesin pencari menentukan apakah situs web Anda cukup relevan untuk ditampilkan dalam hasil pencarian.
Nah, metadata inilah yang sejak awal sudah kita setup keyword-nya. Pilihlah keyword (kata kunci) dengan memperhitungkan kemungkinan terdekat dari kata-kata generik yang lekat dengan kategori konten situs web. Semisal situs web berisi konten kuliner, jangan serta merta mengisi metadata pada judul halaman (page title) hanya dengan nama brand Anda, kecuali memang nama brand tersebut sudah merupakan kata yang umum di telinga publik.
Contoh, nama web: kulinera.id, maka buatlah page title dengan memasukkan keyword generik yang terdekat. Misalnya, “Panduan Kuliner Terkini”. Maka akan muncul di page title bar pada browser: Kulinera – Panduan Kuliner Terkini. Pada kasus ini, web publisher memilih keyword: “Panduan Kuliner Terkini” sebagai kata generik paling relevan mendampingi nama brand.
Lalu beranjaklah menuju meta description, yang memaparkan lebih jauh situs web itu sendiri. Perlu diingat, rekomendasi jumlah karater adalah maksimal 155 karakter. Misalnya, jika kita mengambil contoh yang sama. Meta description Kulinera.id menjadi: Panduan kuliner terkini dipersembahkan Kulinera sebagai panduan bagi penggemar wisata kuliner dan pencari aneka resep masakan.
Pemilihan keyword bisa punya dasar apapun, termasuk jika brand yang termuat dalam situs web sudah berkategori superbrand, di mana publik sudah sangat aware dengan nama brand tersebut. Untuk kasus seperti ini, penentuan keyword harus jeli, produk atau jasa apa yang paling banyak dicari berkaitan dengan brand yang dimaksud.
Setelah setup mendasar ini terlaksana, hal penting yang mutlak tak boleh diabaikan adalah mendaftarkan situs web Anda ke webmaster tools mesin pencari. Google punya Search Console, Bing punya Bing Webmaster Tools, Yandex punya Yandex Webmaster, Duckduckgo punya Duckduckgo Newbang, begitu pula mesin pencari lainnya. Hal ini agar situs web Anda terindeks dan tercium keberadaannya oleh mesin-mesin pencari tersebut.
Ketahuilah bahwa yang menjadi prioritas utama mesin pencari saat pertama kali membaca situs web adalah URL (tautan alamat web dan konten), page title, meta description dan meta tags. Jadi layanilah prioritas utama tersebut dengan baik.
Content URL
Persoalan metadata juga menjadi atensi utama pada konten yang akan disubmit ke dalam situs web. Tapi ada yang juga tak kalah krusial, yaitu URL dari konten. Maka dalam ilmu Basic SEO Writing, seringkali direkomendasikan untuk membuat judul artikel yang mengandung keyword terpilih dan berada diposisi depan judul, agar kata kunci tersebut juga termuat dalam URL.
Contoh, satu artikel memilih keyword “liburan ke yogyakarta”, maka pilihan judul yang dapat dibuat sesuai rekomendasi adalah seperti ini: Liburan ke Yogyakarta dengan Kereta Saat Ini Nyaman Sekali. Maka setidak-tidaknya URL akan terlihat seperti ini: domainanda.com/artikel/liburan-ke-yogyakarta-dengan-kereta-saat-ini-nyaman-sekali.
Andaikan dalam menulis Anda merasa terkibiri kreativitas karena perkara URL, maka mintalah kepada web programer membuat fitur customize URL agar bisa menyematkan judul artikel berbeda dengan penamaan URL. Judul artikel ditulis berdasarkan kreativitas copywriting, URL ditulis berdasarkan kebutuhan mesin pencari.
Dan bagi Anda yang menggunakan open source web builder, gunakanlah plugin SEO seperti Yoast SEO, Rank Math, The SEO Framework dan lainnya. Di dalamnya banyak sekali menu-menu pendukung yang membuat SEO situs web Anda bergerak signifikan, termasuk adanya keberadaan fitur customize URL, atau ada yang menyebutnya URL slug.
Keyword Dalam Konten
Untuk mencari panduan SEO writing yang baik sudah semudah mengetukkan jari ke smartphone. Dari soal penyematan keyword di kalimat pertama paragraf pertama, pengulangan keyword 1% dari jumlah kata dalam artikel, minimal 300 kata dalam penulisan, riset kata kunci lewat google trend, hingga orisinilitas konten yang lebih disukai mesin pencari.
Persoalannya, beberapa penulis merasa panduan penulisan tersebut mengebiri kreativitas. Sering kali hal ini memicu perdebatan antara SEO Manager dengan content writer. Lalu sisi mana yang harus jadi prioritas? Pengorbanan penulis yang meredam egonya dalam urusan judul haruskah terulang dalam body text? Tapi bukankah memang harus ada kompromi dan adaptasi dalam menjalankan cara-cara baru menyiarkan informasi. termasuk yang berkaitan dengan SEO friendly article?
So, read this carefully. Setelah menyentuh hal-hal prioritas yang dibaca, seperti telah disinggung sebelumnya, mesin pencari akan mulai merayap ke step selanjutnya. Beberapa mesin pencari menggunakan beberapa kata pertama yang mereka temukan di pengkodean halaman situs web sebagai deskripsi di bawah daftar Anda di hasil mesin pencari.
Maka alasan mengapa penyantuman keyword, selain di judul, sangat penting berada di kalimat pertama di alinea awal, nampaknya tidak bisa ditawar. Hal ini utamanya bagi para publisher situs web pemula yang baru merintis. Di mana keberadaan brand maupun web address belum diakrabi publik. Hal ini dimaksudkan agar situs web Anda mendapatkan celah dalam perebutan menarik pengunjung lewat mesin pencari.
Satu trik yang bisa jadi solusi adalah, dengan mengulang penulisan judul yang mengandung keyword untuk dimasukkan dalam kalimat pertama. Maka otomatis terpenuhi sudah persyaratan keyword harus ada di kalimat pertama di alinea awal.
Contoh, coba kita gunakan keyword “produksi konten digital”. Judul: Produksi Konten Digital Dalam Babak Baru. Nah, jika penulis merasa terganggu dengan keharusan menyantumkan keyword tersebut pada kalimat pertama, maka buatlah format isi artikel dengan penulisan seperti ini:
Konten Digital Dalam Babak Baru – Setiap zaman punya cara sendiri untuk berkembang, setiap era memiliki kecenderungan selera yang tak sama dengan era-era sebelumnya. Tapi kejelian insan penghasil konten dalam membaca keinginan audiens punya prinsip dasar kerja yang relatif seragam, berpikir kreatif di alam kreatif.
It’s so easy, isn’t it? Dan untuk konsistensi, jadikanlah format tersebut sebagai standar penulisan artikel di situs web Anda. Setidak-tidaknya untuk sementara waktu, sebelum akhirnya sosialisai situs web Anda menyentuh hasil yang mencerahkan di mata publik.
Mengoptimalkan Peran Gambar
Gambar, baik berupa foto maupun ilustrasi adalah penarik yang punya peran besar dalam pengelolaan situs web. Tapi mohon diingat, mesin pencari sangat senang dengan gambar berkategori fast loading. Maka gunakanlah software image compressing yang menargetkan pada penyediaan gambar web. Untuk yang belum terbiasa dengan software berbasis fotografi, banyak sekali image resizer berbasis cloud dengan fitur yang sederhana.
Lalu adakah peran lain yang bisa dilakukan gambar dalam kerangka men-support jalannya SEO? Pasti ada. Apalagi para mesin pencari juga menyediakan halaman khusus pencari gambar berdasarkan keyword yang kita tulis.
Saat Anda menyiapkan gambar, terutama yang berformat pixel seperti jpg, png, bmp, webp atau gif, pastikan dimensinya sudah web friendly. Lalu berikan penamaan khusus pada setiap gambar dengan menyematkan brand dan keyword, ditambah beberapa unsur kata dari judul atau pengkodean seperti angka atau abjad. Lalu, pada penamaan berikanlah simbol strip (-) sebagai pemisah kata.
Contoh, dengan pilihan keyword “hybrid content strategy”, artikel diberi judul: Hybrid Content Strategy Mulai Jadi Pilihan Utama. Penamaan gambar yang akan dimuat menjadi: hybrid-content-strategy-artikel-tekno-namabrand.jpg. Atau jika nama brand menjadi prioritas utama untuk tampil di mesin pencari gambar, menjadi seperti ini: namabrand-hybrid-content-strategy-artikel-tekno.jpg.
Tata letak gambar juga harus dicermati. Tempatkanlah gambar selalu setelah paragraf pertama, jangan sebagai awal sebelum masuk paragraf pertama. Kecuali ia bersifat featured image yang secara konstruksi memang sudah dirancang punya space terpisah, seperti yang banyak dilakukan beberapa template dari open source web builder. Pastikan juga, paragraf-paragraf yang mengapit gambar juga memuat keyword terpilih.
Dari semua paparan ini, ada hal penting yang patut diperhatikan oleh web publisher. Bahwa konten yang disubmit ke dalam situs web idealnya merujuk pada pedoman penilai kualitas konten yang dikeluarkan oleh Google dalam konsep E-A-T:
Lalu jangan lengah, bahwa semua cara yang sudah dilakukan tidak ada artinya jika saja tak ada dorongan dari pemilik situs web untuk ikut mensosialisasikannya. Baik itu situs web secara umum, maupun spesifik kepada konten-konten yang termuat di dalamnya. Kejarlah web traffic bukan hanya dalam pengisian konten, tapi juga arus publik yang beduyun-duyun mengakses situs web Anda. Gunakanlah media sosial sebagai garda teredepan untuk mewujudkannya.
Masih banyak yang belum bisa dituangkan dalam tulisan ini. Apalagi dalam dunia digital semuanya dapat berubah dalam waktu yang tak terkira. Seluk beluk SEO memang bukan hal sederhana, maka teruslah mencari referensi-referensi terpercaya yang banyak sekali sumbernya. Perkembangan teknologi yang terjadi hari ini, bisa jadi besok, minggu depan, bulan depan, atau tahun depan dan seterusnya, sudah terlihat usang. (*)
Featured image: photo by Hilmaputri, digital imaging by Yogasdesign
The post Belajar SEO Jalur Alternatif, Melayani Logika Mesin Pencari appeared first on yogasdesign.
]]>The post Produksi Konten Digital Jangan Jalan di Tempat appeared first on yogasdesign.
]]>
Tentu bagi yang berpikiran progresif, hal ini adalah kabar menggembirakan. Dan sebaliknya bagi mereka yang tejebak dalam patron konservatif, hal ini menjadi kabar yang membuat gamang. Bahkan tak sedikit yang mengalami post power syndrome. Di mana kejayaan masa lalu dalam industri kreatif perlahan sudah tak digubris publik.
Cara berbisnis juga tak lepas dari dinamika ini. Bukan sekadar itu, tapi perkembangan teknologi mendorong bermunculannya disiplin ilmu baru yang berdampak pada kehadiran profesi-profesi baru dan redefenisi beberapa profesi. Kebutuhan tenaga kerja makin variatif. Seperti content creator, social media strategist, digital marketing specialist, hingga UI-UX designer.
Bisa jadi ini berkaitan dengan apa yang terungkap dalam Future of Jobs Report 2018 dari World Economic Forum 2018. Dalam Laporan ini diungkapkan bahwa masyarakat digital akan membawa inovasi, dan teknologi baru, termasuk otomatisasi dan algoritma, menciptakan pekerjaan baru berkualitas tinggi dan sangat meningkatkan kualitas pekerjaan dan produktivitas pekerjaan manusia yang ada.
Business Model Mix
Melakukan produksi konten digital yang hasilnya diminati publik pada dasarnya juga bukan hal yang mudah. Hukum ini berlaku untuk semua proses penghasilan konten dari masa ke masa, tidak mudah. Ya, membaca selera dan keinginan audiens yang menjadi pasar memang selalu jadi pekerjaan rumah yang takkan pernah selesai.
Setiap zaman punya cara sendiri untuk berkembang, setiap era memiliki kecenderungan selera yang tak sama dengan era-era sebelumnya. Tapi kejelian insan penghasil konten dalam membaca keinginan audiens punya prinsip dasar kerja yang relatif seragam, berpikir kreatif di alam kreatif.

Photo by Yogas Design from Pexels
Yang juga menjadi perhatian krusial adalah bagaimana produk-produk konten digital dapat menelurkan business model yang adaptif terhadap laju perubahan dalam industri kreatif itu sendiri. Bahkan, tantangan terbukanya adalah bagaimana menciptakan business model mix yang menyokong terbentuknya ekosistem dari konten-konten yang dibuahkan.
Prof. Josep Valor, profesor teknologi informasi di IESE Business School yang berpusat di Spanyol mengingatkan, “Beberapa cara berbisnis dapat dicampurkan. Faktor teknologi yang berkembang tetap harus disatukan dengan faktor-faktor kunci dari karakter bisnis yang dijalankan. Seberapapun canggihnya teknologi digital yang dijalankan, jika pengetahuan dasar tentang bisnis yang dijalankan tidak dipahami, justru akan membuahkan kegagalan.”(*)
Digital Content Ecosystem
Istilah Digital Content Ecosystem mungkin belum akrab di telinga publik. Tapi ide ini menjadi menggeliat bersamaan dengan melebarnya peluang yang dihasilkan pada produksi konten digital. Untuk menguraikannya, bisa dimulai dengan memilih cara berbisnis yang tepat agar menjadi pondasi bagaimana produk utama yang dijalankan menjadi penghasil benefit.
Misalnya satu perusahaan mempunyai potensi konten digital berupa video production, maka tentukan bagaimana audiens dapat menikmati hasilnya dan dari mana perusahaan meraih keuntungan darinya. Apakah melalui sistem premium subscribe berbayar, digital download, atau sesederhana mengandalkan programatic ads di saluran media sharing seperti Youtube.
Setelah menentukan metode dalam menjalankan bisnis dari produk utama, lalu pikirkan bagaimana konten-konten yang diproduksi dapat di-generate untuk menjadi beberapa sub-konten. Proyeksikan apakah ada peluang setiap sub-konten punya saluran bisnisnya sendiri? atau justru sama dengan konten utama? Mungkinkah memberlakukan bauran cara berbisnis yang kemudian menghasilkan satu business model baru?

Photo by yogasdesign
Contohnya, saat melakukan produksi web series, coba perkirakan apakah dari jalannya produksi dapat menghasilakan konten lain, seperti: behind the scenes, vlog, testimoni, podcast, funny moment, dan lain sebagainya. Lantas dari situ bisa ditentukan pula mana yang bisa dinikmati lewat saluran masing-masing.
Misalnya untuk untuk produk konten utama dapat dikmati dengan cara digital download. Kemudian behind the scenes akan dimuat pada kanal premium subscriber. Lalu podcast berupa interview atau obrolan bisa diunggah ke Spotify dan mengambil keuntungan dari Spotify Ads. Serta untuk vlog dimuat dalam Youtube dan menuai benefit dari adsense , dan seterusnya dengan kemungkinan-kemungkinan konten serta sub-konten yang lain.
Jadi untuk satu produksi konten saja, seorang produser dapat mulai memilah-milah segala potensi dan peluang untuk menghasilkan lebih banyak keuntungan. Selanjutnya semuanya menjadi sistem yang dipermanenkan, yang berhubungan dan terintegrasi saling memberi hasil dan akhirnya membentuk ekosistem.
Sesederhana itukah? Pastinya tidak. Akan banyak sektor-sektor yang terdampak. Seperti soal legalitas menyangkut talent, hingga permasalahan rentang waktu pra produksi hingga post produksi dan tentu saja human resources serta peralatan produksi. Tapi, jika tidak mulai dicoba dari bentuk sederhana atau bahkan dengan metode lain, maka akan banyak kapasitas dan kesempatan yang hanya menjadi fosil tak tersentuh.
Kevin Benedict, seorang Senior Analyst for Digital Transformation and Mobility, pernah mengutarakan, bahwa transformasi digital bukanlah platform teknologi. Ini juga bukan solusi baru. Ini adalah cara baru melakukan bisnis.
Jadi, mulailah menyelami bisnis di era digital dengan metode baru, paradigma baru dan cara berpikir baru.(*)
——
Featured photo: Background illustration by seekpng.com, Right hand illustration by pikpng.com, Left hand illustration by freeiconspng.com
The post Produksi Konten Digital Jangan Jalan di Tempat appeared first on yogasdesign.
]]>The post Jenis Perilaku Konsumen yang Bertindak Sebagai Produsen appeared first on yogasdesign.
]]>
Photo by Anete Lusina from Pexels
Konsep prosumer ini tak sekadar berfokus pada consumer (pelanggan), tapi juga ikut melibatkan pelanggan ke dalam proses produksi. Strategi dan keputusan operasional yang biasanya di putuskan sendiri, saat ini ikut melibatkan pelanggan. Kemudian jenis perilaku konsumen dengan konsep ini terus berkembang mengikuti zaman. Don Tapscott di tahun 1995, melalui bukunya “The Digital Economy: Promise and Peril in the Age of Networked Intelligence” menyertakan istilah prosumer dalam salah satu ciri dari kondisi dunia yang berada di era ekonomi digital.
Dalam bukunya itu, Don Tapscott menguraikan bahwa di dalam ekonomi digital batasan antara konsumen dan produsen yang selama ini terlihat jelas menjadi kabur. Hampir semua konsumen teknologi informasi dapat dengan mudah menjadi produsen yang siap menawarkan produk dan jasanya kepada masyarakat dan komunitas bisnis.
Adalah fakta bahwa kemudahan-kemudahan yang disediakan teknologi informasi dan digital tak sekadar menjadikan berbagai aktivitas sehari-hari menjadi lebih mudah. Tapi juga sudah dalam tahap merubah perilaku yang lebih dalam. Kemampuan teknologi melayani keinginan manusia semakin hari semakin beragam. Termasuk tentunya dalam berkreativitas.
Contoh sederhana dari jenis perilaku konsumen dengan konsep prosumer bisa kita temukan misalnya pada bidang clothing. Di mana konsumen dengan hanya mengakses satu situs produsen t-shirt, ia bisa mengkustomasi keinginannya sendiri. Dari jenis dan warna kaos, gambar, hingga pengiriman dan pastinya pembayaran.
Atau contoh lain, saat seseorang belanja aplikasi instant graphic design di application store untuk kebutuhan promosi usaha kecilnya, lalu justru mempelajari cara kerja aplikasi dengan detail. Sehingga ia pun berani menawarkan jasa desain konten media sosial kepada publik dengan menggunakan aplikasi tersebut.
Lahirnya Content Creator
Seiring waktu berjalan, zaman terus berubah, paltform baru digital bertumbuhan. Dari video streaming, audio streaming, media sosial, hingga marketplace berkembang dengan agresif. Hiruk pikuknya menelurkan satu profesi yang jadi idola baru, content creator. Ya, profesi ini memang hanya salah satu yang mendapat keuntungan lebih dari kemudahan-kemudahan yang ditawarkan teknologi informasi dan digital.

Photo by YogasDesign
Ilustrasi ini juga bisa jadi sedikit gambaran kemudahan terjadinya jenis perilaku konsumen dengan konsep prosumer. Seorang desainer grafis membutuhkan personal website untuk sosialisasi jasanya. Ia menghubungi web developer, lalu dibangulah website tersebut. Berdasarkan penggalian info dari beberapa kalangan, ia akhirnya mengetahui bahwa saat ini sudah ada marketplace yang menyediakan banyak web template dengan harga bersahabat, bahkan berstatus free to use. Dan ia mulai mencoba melakukan improvisasi pengembangan pada website yang awalnya sudah dibangun oleh web developer.
Lebih lanjut ia makin agresif mengakses web template marketpalce sambil mencari tutorial yang melimpah di video streaming maupun konten website. Dikit demi sedikit mulai menguasai, hingga ia pelajari soal pembelian hosting dan domain. Personal website yang sudah dimilikinya menjadi kelinci percobaan. Dan selanjutnya hanya hitungan bulan, ia sudah piawai menjual jasa web development untuk pemula. Saat ia terus fokus, dalam hitungan tahun sudah menjadi web management consultant.
Begitu pula yang terjadi di zona content creator. Dari sekadar penikmat atau pengguna jasa, lalu tertarik dan merasa punya passion dan bakat kreatif. Dengan energi belajar yang tinggi, sebagai pengguna jasa ia tak lagi hanya menunggu hasil. Tapi mulai membenamkan diri dalam proses produksi. Kreasi-kreasi baru ikut dibenamkan berdasarkan pengetahuan yang sudah digalinya. Selanjutnya, dengan modal yang dia usahakan untuk sekadar mewujudkan pengadaan perangkat kelas pemula, jadilah ia seorang yang mulai berani berprofesi sebagai content creator.
Semudah itu? Tentu tidak. Agar konsisten menjalankan profesinya, akan butuh ilmu-ilmu lain yang berkaitan, walau hanya sekitar permukaan. Seperti manajemen usaha, manajemen produksi, pengetahuan software dan hardware yang terbarukan, digital and social media marketing, multimedia editing dan seabrek ilmu-ilmu generasi baru yang ada.
Penulis jadi teringat saat masa keemasan ikan Louhan di Indonesia pada 2004. Dari yang yang sekedar penikmat atau mereka yang percaya adanya keberuntungan memelihara ikan ini, akhirnya berduyun-duyun menjadi peternak. Pengembangbiakan yang mudah dipelajari merubah perilaku para pembeli ikan Louhan untuk kesenangan pribadi menjadi penjual bibit hingga ikan yang sudah siap pajang.
Lalu menemukan titik jenuh di 2005 dan harga jual ikan yang tergolong istimewa ini jatuh dalam titik terendah. Hanya mereka-mereka yang fokus menjual ikan hias ditambah beberapa mantan penikmat yang jadi penjual dengan bekal hasrat tingginya, yang tetap bertahan.
Pelajaran yang dapat diambil adalah, menjadi instan karena kemudahan pengetahuan tidak lantas membuat kita berhenti belajar dan merasa tak ada lagi perubahan yang berkelanjutan. Juga sebaliknya, bagi para produsen atau profesional yang merasa terancam dengan kedatangan prosumer, justru harusnya bisa lebih andal menghasilkan produk yang ideal dengan segala bekal pengetahuan dan pengalamannya. Bukan hanya bisa mengeluh dengan banyak hal baru yang disodorkan kemajuan teknologi.

Photo by Yogas Design from Pexels
Faktor Pendorong
Konsep prosumer ini memang sudah banyak menghasilkan perubahan perilaku pada konsumen. Adalah penting untuk memahami faktor apa saja yang mendorong perubahan ini? Situs medium.com secara garis besar memaparkan:
The post Jenis Perilaku Konsumen yang Bertindak Sebagai Produsen appeared first on yogasdesign.
]]>The post Bekerja dari Rumah, Bukan Hanya Cara Baru appeared first on yogasdesign.
]]>
Photo by Ravi Kant from Pexels
Tapi, bukan soal sejarah yang hendak dibicarakan. Pokok pembahasan ada pada tren “Bekerja dari Rumah’ yang pelakunya melonjak sejak wabah virus Corona (COVID-19) merebak. Lalu menjadi rekomendasi terdepan bagi para profesional yang terbiasa pergi bekerja ke kantor..
Bahkan metode bekerja ini juga merubah perilaku para pekerja lepas atau freelancer yang sempat memproklamirkan diri dengan istilah baru, mobile worker. Di mana mereka bisa bekerja ke mana saja. Kantor teman, coworking space, restoran dan kafe, atau bahkan di taman bermain sekalipun.
Nampaknya COVID-19 telah memaksa hampir semua bidang pekerjaan untuk merancang ulang kebiasaan beraktivitas. Mengedepankan pemberdayaan bekerja dari rumah adalah yang jadi dasar. Dari soal lobbying, koordinasi antar rekan kerja hingga meeting besar, bisa dikatakan harus dilakukan dari rumah.
Seiring keberadaan teknologi digital yang sudah menjadi pilihan primer hampir seluruh lapisan masyarakat, tak kurang para raksasa digital menyambut kultur kerja baru ini. Catat saja misalnya di ranah aplikasi virtual meeting. Zoom besutan Eric Yuan hingga Google yang mengembangkan G-Meet, Cisco dengan WebX nya, atau Skype yang berkolaborasi dengan Microsoft membenamkan “Meet Now” pada Windows 10.
Tak bisa dimungkiri, masih banyak yang tergagap-gagap mempraktikkan kultur kerja baru ini. Dari soal penguasaan teknologi, kendala jaringan internet, webcam yang di bawah standar, hingga belum bisa membangun chemistry atau kedekatan emosi saat virtual meeting.
Sering kali persoalan tidak lantas tuntas setelah melakukan pertemuan online. Tapi hal ini dipercaya hanya sebagai proses adaptasi yang merupakan bagian dari perubahan cara kerja dan peradaban secara umum.
Lalu selain soal penguasaan teknologi, apa saja yang harus disiapkan dan disikapi dalam membiasakan diri dengan kultur “Bekerja dari Rumah”?
Area Khusus
Area khusus yang di maksud adalah space yang sudah ditentukan untuk bekerja. Di mana akan diletakkan komputer/laptop, printer dan perangkat-perangkat kerja lainnya. Termasuk juga wajib diperhatikan hubungannya dengan sumber daya listrik, dan meminimalisir gangguan.

Photo by Mikey Harris on Unsplash
Area kerja tidak harus besar, prinsipnya adalah bisa duduk dan berhadapan dengan perangkat kerja utama. Gunakankanlah perabot interior portable yang bisa dengan mudah dikemas dan dipindah-pindahkan. Dan pilihlah yang tidak banyak memakan tempat, karena tidak semua rumah tersedia space yang luas.
Soal adanya distorsi ataupun gangguan dari faktor-faktor lain, seperti anak yang masih kecil dan sering ingin nimbrung, suara-suara tak terduga di lingkungan sekitar atau urusan rumah tangga lain, percayalah, waktu yang akan menjawab. Pasti Anda akan dapat mengatur polanya.
Perangkat Utama
Perangkat kerja yang jadi senjata utama seperti komputer, baik itu dalam bentuk laptop, tablet ataupun PC adalah fasilitas yang wajib ada. Apakah itu inventaris pribadi maupun yang sudah disediakan kantor. Lalu keberadaan smartphone pastinya menjadi persyaratan mutlak. Pastikan beberapa software dan aplikasi penting yang berhubungan dengan pekerjaan sudah ter-install.
Jaringan Internet
Ketersediaan jaringan internet adalah infrastruktur mendasar. Tanpa adanya internet, Anda takkan berdaya menyelesaikan pekerjaan di rumah. Coba ditimbang-timbang, apakah akan terus tergantung dengan metode tathering lewat perangkat selular, menggunakan mobile modem atau lebih ideal berlangganan internet untuk kapasitas rumah dan keluarga. Ingat, jika kebutuhan terhadap internet tergolong massive, dengan menggunakan metode tathering justru akan membuat smartphone cepat rusak. Perhitungkan pula efesiensi anggarannya.
Pakaian yang Nyaman
Gunakanlah pakaian yang membuat nyaman bekerja dan tetap merasa sedang dalam pekerjaan. Bukan lantas terlalu santai hanya menggunakan pakaian seadanya seperti kaos singlet dan celana pendek untuk tidur. Bangunlah spirit bekerja walau hanya di rumah dengan membedakan pakaian saat Anda bekerja dengan saat tidak bekerja atau bersantai. Tidak perlu terlalu formal, tetap selalu rileks, tapi pantaskanlah diri untuk siap berhadapan dengan pekerjaan dan dengan orang-orang yang akan berinteraksi secara virtual.
Mengatur Waktu
Salah satu previlage yang dirasakan saat “Bekerja dari Rumah” adalah fleksibilitas. Anda bisa kapan saja menentukan waktu mulai bekerja dan kapan istirahat. Tapi ingat, untuk mendukung produkstivitas yang stabil, perlakukanlah saat di rumah layaknya di kantor. Bekerja dalam waktu yang kurang lebih sama. Tidak kemudian justru mengulur-ulur waktu atau juga berlebihan hanya karena merasa tidak kemana-mana. Setiap individu harus mengatur dan membatasi diri dalam bekerja. Ada saatnya memulai, ada saatnya beristirahat.

Photo by Georgia de Lotz on Unsplash
Fasilitas Tambahan
Pikirkanlah beberapa fasilitas pendukung agar pekerjaan dengan segala lalu lintasnnya dapat dilakukan online. Penggunaan email tak bisa ditawar. Pertimbangkan juga penggunaan fasilitas cloud computing yang berkapasitas memadai untuk mengumpulkan pekerjaan, sehingga dapat diakses oleh pihak-pihak yang berkepentingan.
Penggunaan jasa cloud paket personal yang tak terlalu mahal bisa jadi alternatif jika versi gratis dari yang sudah ada tak cukup. Jangan lupa sediakan external harddisk untuk backup data-data yang penting, agar tidak hanya ada di dalam komputer maupun cloud.
Tak hanya itu, webcam yang mendadak sering digunakan bisa pula disediakan di luar built in camera yang ada. Karena biasanya kualitas kamera yang sudah ada di laptop hanya sekadarnya. Pilihlah webcam yang sudah support HD (720p) atau setidak-tidaknya dengan kepekatan piksel minimal 480p. Tidak usah yang terlalu mahal, yang terpenting gambar yang dihasilkan lebih jelas dari built in camera berkualitas VGA, dan tentu saja mudah digunakan.
Aplikasi Produktivitas
Beberapa perusahaan sudah giat membangun aplikasi pendukung yang akan menyokong produktivitas dan kemudahan bekerja di rumah. Dari aplikasi chat room, remote work management, virtual meeting, video call, web & social media analytic, cloud computing, hingga yang bernuansa hiburan.
Aplikasi-aplikasi ini sebaiknya sudah dibenamkan pada perangkat-perangkat kerja, baik smartphone ataupun komputer. Tak lupa aplikasi-aplikasi untuk keseharian juga ada baiknya dibenamkan seperti, transportasi dan pemesanan makanan online, market place, dan juga termasuk mobile banking.
Tetap Terhubung
Jadwalkan komunikasi rutin dengan tim kerja atau dengan pihak-pihak terkait pekerjaan. Tentunya dengan menggunakan fasilitas virtual meeting maupun video call. Selain tetap dapat membangun chemistry, hal ini bisa membuat Anda tetap merasa ada rekan kerja.

Photo by Chris Montgomery on Unsplash
Susunlah agenda-agenda pembahasan harian atau mingguan agar progress pekerjaan selalu dapat terpantau dan dilaporkan. Dan bagi yang mengandalkan eksekusi di lapangan, pastikan hanya keluar rumah karena sangat diperlukan atau harus. Tapi, jangan akhirnya tergoda untuk terus berada di luar.
Pembatasan Sosial
Media sosial memang diakui sudah bagaikan teman sehari-hari. Hampir tak ada waktu tanpa media sosial. Tapi saat Anda bekerja di rumah, tak akan ada yang dapat mengontrol tindak tanduk dalam beraktivitas di luar urusan kerja.
Ya, kita adalah pengontrol diri kita sendiri. Dengan terlalu banyak melayani aktivitas media sosial yang tak ada relevansinya dengan pekerjaan, bukan tak mungkin akan mengganggu fokus kerja. Atur waktu dengan baik kapan dapat menyimak media sosial, kapan menidurkannya sementara.
Begitupula dengan kebiasaan berjam-jam menyaksikan televisi atau video streaming. Hindari dulu di waktu jam kerja. Lebih afdol bunyikan musik dengan playlist yang sudah diatur sesuai selera. Atau mainkan radio yang saat ini sudah sangat mudah didengar via internet radio. Lalu, agar tak mengganggu orang lain, gunakanlah headset.
Personal Branding
Bagi para freelancer, keterbatasan mobilitas pastinya jadi handycap tersendiri. Kebiasaan wara-wiri ke mana saja untuk melakukan pekerjaan membuat para pekerja lepas harus merancang ulang pola kerja, walau realitanya relatif lebih mudah beradaptasi. Apalagi yang berurusan dengan lobi-lobi dengan klien yang menuntut adanya pendekatan ala lifestyle serta penjelasan seputar kemampuan kerja dan portfolio.
Maka bagi yang belum tergerak, mulailah membangun personal web sebagi bagian dari personal branding. Jelaskan dengan detail tanpa bertele-tele, apa yang bisa Anda kerjakan, siapa Anda, dan tentunya stunning portfolios yang membuat klien yakin dengan kapasitas Anda dan juga tim yang mungkin biasa terlibat.
Saat ini membangun personal web pun bukan hal yang costly. Banyak sekali tools yang berstatus gratis atau juga tak berbiaya mahal. Dari urusan domain, hosting hingga web theme template. Jangan lupa pelajari bagaimana personal web Anda dapat mudah ditemukan pada search engine.
Melakukan Variasi
Dengan rekomendasi menggunakan perabot interior kerja yang portable, hal ini akan menjadi kemudahan untuk mencari variasi. Apalagi saat jenuh dalam bekerja tanpa kehadiran suasana dinamis ala kantoran. Cobalah dalam periode tertentu untuk berpindah area kerja. Tak mesti dalam ruang utama rumah, tapi juga memanfaatkan teras atau bahkan taman, jika kediaman Anda cukup luas.
Bisa pula dicoba memanfaatkan area yang berdampingan dengan pohon-pohon yang jadi peliharaan. Bersatu dengan hijaunya tanaman dan ruang terbuka juga dapat menyehatkan mental. Maklumlah, salah satu tantangan bagi yang belum terbiasa bekerja sendiri di rumah adalah kenjenuhan yang cepat menghampiri.
Rehat
Waktu rehat bukanlah waktu yang menjadi skala sekunder, dia primer adanya. Karena waktu istirahat adalah waktu di mana Anda me-recharge diri sendiri. Utamanya di saat masa pandemi, sekali-kali keluar rumah untuk sekadar melihat dunia luar. Jangan lupa kemanan dan kesehatan tetap dijaga, termasuk menghindari kerumunan.

Olahraga mandiri juga menjadi kegiatan rehat yang sehat. Bersepeda ataupun jogging di tempat-tempat yang tidak ramai menjadi pilihan yang relevan jika masa pandemi masih menghantui.
Lain soal jika tidak dalam keadaan pandemi, berinteraksi offline dengan teman-teman sehobi maupun sekedar nongkrong ringan adalah waktu yang menggembirakan, dan pastinya menjadi mood booster untuk melanjutkan pekerjaan.
Selain yang sudah diuraikan, banyak hal yang masih dapat dilakukan untuk kenyamanan bekerja di rumah. Pada prinsipnya, mulailah biasakan budaya baru dalam bekerja, sambutlah peradaban baru dengan cara menyenangkan, sekaligus bersiaplah metode kerja ini menjadi standar permanen. (*)
The post Bekerja dari Rumah, Bukan Hanya Cara Baru appeared first on yogasdesign.
]]>