The post Salah Kaprah Transformasi Digital di Era Tanpa Sekat appeared first on yogasdesign.
]]>
Keberadaan istilah transformasi digital menjadi lebih mengemuka bersamaan dengan meningkatnya pemahaman tentang bagaimana teknologi dapat mendisrupsi model bisnis tradisional, lalu menghasilkan metode-metode baru dalam berinteraksi, bekerja, dan berinovasi. Di era kemajuan teknologi yang cepat, transformasi digital sangat penting bagi bisnis. Ketika beradaptasi dengan era digital ini, maka akan menghadapi tantangan yang membutuhkan navigasi efektif.
Brian Solis, analis dan antropolog digital independen yang diakui secara global, mendefinisikannya sebagai realokasi teknologi dan model bisnis untuk menciptakan nilai baru, pengalaman, dan kompetisi di dunia yang didominasi oleh teknologi digital.
Sedangkan David L. Rogers dari Columbia Business School mendefinisikan transformasi digital sebagai kemampuan organisasi untuk mengubah strateginya dalam menghadapi perubahan yang diakibatkan oleh teknologi digital.
Forrester, sebuah perusahaan riset pasar global terkemuka memberikan definisi transformasi digital sebagai perubahan bisnis secara mendasar yang melibatkan penerapan teknologi digital untuk meningkatkan performa perusahaan, mengembangkan hubungan dengan pelanggan, serta menciptakan efisiensi operasional.
Menyimak definisi-definisi para ahli tersebut, patut digarisbahwahi bahwa terdapat perubahan-perubahan mendasar dan strategis dalam menjalankan bisnis atau organisasi di saat teknologi digital mendominasi hampir semua kegiatan sehari-hari.

Photo by Kaboompics.com
Tetapi, melihat fakta yang terjadi, harus diakui bahwa masih banyak yang tergagap-gagap dalam menjalankan transformasi ini. Tak hanya di Indonesia, bahkan di banyak belahan dunia pun demikian. Sehingga proses yang digadang-gadang akan menjadi pijakan baru dalam meningkatkan nilai tambah dalam bisnis, justru tak sepenuhnya berjalan sesuai yang diharapkan.
Selain masih belum mumpuninya penguasaan teknologi, terutama pada masyarakat lapisan bawah di negara berkembang, tak bisa diabaikan adanya fakta bahwa, dalam menjalankan bisnis masih banyak dipertahankan pucuk-pucuk pengambil keputusan yang tergolong digital immigrant. Yakni mereka yang lahir dan bertumbuh di era analog, di mana mereka masih menggunakan cara berpikir tradisional, dan hanya berubah secara digital untuk hal-hal sederhana. Seperti menggunakan gawai untuk chatting, belanja online, utak-atik image generator, atau berasyik masyuk dengan media sosial dan mencari hiburan.
Padahal dalam dunia digital dibutuhkan perubahan bisnis yang radikal, tidak hanya dalam hal penerapan teknologi, namun juga dalam cara memutuskan solusi itu sendiri. Pergeseran ini berdampak pada setiap aspek organisasi, tidak hanya mengadopsi teknologi baru tetapi juga membutuhkan manajemen perubahan yang substansial dalam operasi bisnis, serta keterlibatan pelanggan.
Terbilang tidak sedikit, yang berpikir bahwa digitalisasi hanyalah pergeseran platform. Nyatanya banyak hal yang harus berubah, seperti model bisnis, cara bekerja, cara pandang hingga perancangan road map bisnis yang progresif.

Photo by cottonbro studio
Harus disadari, keberadaan transformasi digital membuat dunia makin terbuka, banyak sekali sekat-sekat maupun aturan-aturan yang mau tak mau wajib dilakukan pembaruan. Tak ada lagi istilah “out of the box”, karena gelombang otomasi membentuk cara berpikir “there is no box”. Eksplorasi ide nyaris tanpa batas, bahkan fantasi-fantasi pun berpotensi besar menjadi realitas, memasuki pasar baru, menjangkau pelanggan baru, atau memberikan produk dan layanan dengan cara baru.
Kemampuan beradaptasi terhadap cepatnya perubahan adalah keniscayaan yang tak bisa dihindari. Mempertahankan cara berpikir tradisional justru membuat banyak aspek bisnis tak berkembang. Manusia-manusia di pusaran digitalisasi dituntut terus berinovasi dalam rangka pengembangan bisnis. Belum lagi soal mata rantai, baik di urusan business to business maupun business to consumer, tak boleh terlewat untuk disimplifikasi.
Masih banyak yang membangun produk digital, tapi justru tidak membuat lebih sederhana penyelesaian masalah. Contohnya saat mengembangkan aplikasi mobile, kemudahan bagi pengguna untuk mengoperasikannya sering kali terabaikan. Aplikasi hanya dibuat untuk mengabsahkan adanya digitalisasi, tapi urusan memudahkan atau membuat semua menjadi lebih sederhana, gagal diimplementasikan dengan tepat. Biasanya produk digital berkarakter seperti ini akan lekas ditinggal para penggunanya, atau dibiarkan mati pengembangnya karena seringkali dibuat hanya untuk menghabiskan anggaran suatu instansi, tak jelas tujuannya apa.
Cara pandang yang tidak tepat juga terjadi di area investasi. Transformasi digital bukan berarti otomatis terjadi penurunan biaya investasi, walaupun ada beberapa sektor yang bisa saja mengalaminya. Tapi investasi di bidang teknologi digital juga memiliki variabel-variabel biaya yang tidak sederhana. Dari urusan infrastruktur, kemanan data, hingga penggunaan software dan tentu saja human resources. Adapun soal pengurangan biaya, justru diproyeksikan transformasi digital ini akan membantu organisasi mengurangi biaya dengan mengotomatiskan proses, meningkatkan efisiensi, dan merampingkan operasi.
Urusan kultur perusahaan atau organisasi dan instansi juga patut jadi perhatian. Di mana gaya birokratis yang cenderung berlapis-lapis membuat banyak urusan menyangkut penyelesaian masalah makin rumit. Padahal penyederhanaan sistem di segala lini sudah tak bisa dihindarkan jika ingin menjalankan transformasi digital.

Photo by Thirdman
Termasuk di dalamnya menyangkut leadership, yang mana penyerapan sumber ide dari bawah atau atas sudah tak jadi isu yang relevan. Yang jelas, transformasi digital memerlukan komitmen dari tingkat manajemen puncak. Jika tidak ada dukungan atau visi yang jelas dari pimpinan, proses transformasi bisa terhambat.
Departemen-departemen dalam satu organisasi tak bisa lagi bekerja terpisah mementingkan achievment masing-masing. Bekerja secara terintegrasi dan berkolaborasi harus jadi perilaku baru. Seiring dengan wajibnya tenaga kerja memiliki keterampilan yang cukup di bidang teknologi digital seperti algoritma, analitik data, SEO, UI/UX, keamanan siber, AI, atau manajemen cloud, dsb. Bukan sekadar pandai berkomentar dan memencet tombol “like” di media sosial, lalu berubah menjadi individu yang toxic dengan perilaku yang obsesif terhadap viralitas. (*)
The post Salah Kaprah Transformasi Digital di Era Tanpa Sekat appeared first on yogasdesign.
]]>The post Produksi Konten Digital Jangan Jalan di Tempat appeared first on yogasdesign.
]]>
Tentu bagi yang berpikiran progresif, hal ini adalah kabar menggembirakan. Dan sebaliknya bagi mereka yang tejebak dalam patron konservatif, hal ini menjadi kabar yang membuat gamang. Bahkan tak sedikit yang mengalami post power syndrome. Di mana kejayaan masa lalu dalam industri kreatif perlahan sudah tak digubris publik.
Cara berbisnis juga tak lepas dari dinamika ini. Bukan sekadar itu, tapi perkembangan teknologi mendorong bermunculannya disiplin ilmu baru yang berdampak pada kehadiran profesi-profesi baru dan redefenisi beberapa profesi. Kebutuhan tenaga kerja makin variatif. Seperti content creator, social media strategist, digital marketing specialist, hingga UI-UX designer.
Bisa jadi ini berkaitan dengan apa yang terungkap dalam Future of Jobs Report 2018 dari World Economic Forum 2018. Dalam Laporan ini diungkapkan bahwa masyarakat digital akan membawa inovasi, dan teknologi baru, termasuk otomatisasi dan algoritma, menciptakan pekerjaan baru berkualitas tinggi dan sangat meningkatkan kualitas pekerjaan dan produktivitas pekerjaan manusia yang ada.
Business Model Mix
Melakukan produksi konten digital yang hasilnya diminati publik pada dasarnya juga bukan hal yang mudah. Hukum ini berlaku untuk semua proses penghasilan konten dari masa ke masa, tidak mudah. Ya, membaca selera dan keinginan audiens yang menjadi pasar memang selalu jadi pekerjaan rumah yang takkan pernah selesai.
Setiap zaman punya cara sendiri untuk berkembang, setiap era memiliki kecenderungan selera yang tak sama dengan era-era sebelumnya. Tapi kejelian insan penghasil konten dalam membaca keinginan audiens punya prinsip dasar kerja yang relatif seragam, berpikir kreatif di alam kreatif.

Photo by Yogas Design from Pexels
Yang juga menjadi perhatian krusial adalah bagaimana produk-produk konten digital dapat menelurkan business model yang adaptif terhadap laju perubahan dalam industri kreatif itu sendiri. Bahkan, tantangan terbukanya adalah bagaimana menciptakan business model mix yang menyokong terbentuknya ekosistem dari konten-konten yang dibuahkan.
Prof. Josep Valor, profesor teknologi informasi di IESE Business School yang berpusat di Spanyol mengingatkan, “Beberapa cara berbisnis dapat dicampurkan. Faktor teknologi yang berkembang tetap harus disatukan dengan faktor-faktor kunci dari karakter bisnis yang dijalankan. Seberapapun canggihnya teknologi digital yang dijalankan, jika pengetahuan dasar tentang bisnis yang dijalankan tidak dipahami, justru akan membuahkan kegagalan.”(*)
Digital Content Ecosystem
Istilah Digital Content Ecosystem mungkin belum akrab di telinga publik. Tapi ide ini menjadi menggeliat bersamaan dengan melebarnya peluang yang dihasilkan pada produksi konten digital. Untuk menguraikannya, bisa dimulai dengan memilih cara berbisnis yang tepat agar menjadi pondasi bagaimana produk utama yang dijalankan menjadi penghasil benefit.
Misalnya satu perusahaan mempunyai potensi konten digital berupa video production, maka tentukan bagaimana audiens dapat menikmati hasilnya dan dari mana perusahaan meraih keuntungan darinya. Apakah melalui sistem premium subscribe berbayar, digital download, atau sesederhana mengandalkan programatic ads di saluran media sharing seperti Youtube.
Setelah menentukan metode dalam menjalankan bisnis dari produk utama, lalu pikirkan bagaimana konten-konten yang diproduksi dapat di-generate untuk menjadi beberapa sub-konten. Proyeksikan apakah ada peluang setiap sub-konten punya saluran bisnisnya sendiri? atau justru sama dengan konten utama? Mungkinkah memberlakukan bauran cara berbisnis yang kemudian menghasilkan satu business model baru?

Photo by yogasdesign
Contohnya, saat melakukan produksi web series, coba perkirakan apakah dari jalannya produksi dapat menghasilakan konten lain, seperti: behind the scenes, vlog, testimoni, podcast, funny moment, dan lain sebagainya. Lantas dari situ bisa ditentukan pula mana yang bisa dinikmati lewat saluran masing-masing.
Misalnya untuk untuk produk konten utama dapat dikmati dengan cara digital download. Kemudian behind the scenes akan dimuat pada kanal premium subscriber. Lalu podcast berupa interview atau obrolan bisa diunggah ke Spotify dan mengambil keuntungan dari Spotify Ads. Serta untuk vlog dimuat dalam Youtube dan menuai benefit dari adsense , dan seterusnya dengan kemungkinan-kemungkinan konten serta sub-konten yang lain.
Jadi untuk satu produksi konten saja, seorang produser dapat mulai memilah-milah segala potensi dan peluang untuk menghasilkan lebih banyak keuntungan. Selanjutnya semuanya menjadi sistem yang dipermanenkan, yang berhubungan dan terintegrasi saling memberi hasil dan akhirnya membentuk ekosistem.
Sesederhana itukah? Pastinya tidak. Akan banyak sektor-sektor yang terdampak. Seperti soal legalitas menyangkut talent, hingga permasalahan rentang waktu pra produksi hingga post produksi dan tentu saja human resources serta peralatan produksi. Tapi, jika tidak mulai dicoba dari bentuk sederhana atau bahkan dengan metode lain, maka akan banyak kapasitas dan kesempatan yang hanya menjadi fosil tak tersentuh.
Kevin Benedict, seorang Senior Analyst for Digital Transformation and Mobility, pernah mengutarakan, bahwa transformasi digital bukanlah platform teknologi. Ini juga bukan solusi baru. Ini adalah cara baru melakukan bisnis.
Jadi, mulailah menyelami bisnis di era digital dengan metode baru, paradigma baru dan cara berpikir baru.(*)
——
Featured photo: Background illustration by seekpng.com, Right hand illustration by pikpng.com, Left hand illustration by freeiconspng.com
The post Produksi Konten Digital Jangan Jalan di Tempat appeared first on yogasdesign.
]]>The post Saat Timor Leste Menggali Ilmu Media Relations di Indonesia appeared first on yogasdesign.
]]>Hubungan masyarakat atau Public Relations adalah sebuah fungsi manajemen yang terencana dan berkelanjutan, organisasi induk dan lembaga swasta atau publik yang bertujuan untuk mendapatkan pengertian, simpati, dan dukungan dari pihak – pihak terkait atau yang memiliki hubungan dengan penelitian opini publik di antara mereka

Photo by rawpixel on Unsplash
Hubungan masyarakat (Humas) atau Public Relations (PR) juga merupakan bentuk seni berkomunikasi dengan publik untuk membangun saling pengertian, menghindari kesalahpahaman dan mispersepsi, sekaligus membangun citra positif lembaga.
Sebagai sebuah profesi, seorang Humas banyak memikul tanggung jawab dalam memberikan informasi, mendidik, meyakinkan, meraih simpati, dan membangkitkan ketertarikan masyarakat akan sesuatu atau membuat masyarakat mengerti dan menerima sebuah situasi.
Adapun pekerjaan-pekerjaan yang biasa dikerjakan humas, antara lain:
Sedangkan tanggung jawab fungsional Humas itu sendiri adalah:
Khusus untuk urusan relasi dengan media (media relations) banyak praktisi yang mengategorikannya sebagai bagian dari relasi eksternal. Tapi beberapa praktisi kehumasan ada juga yang menganggap hubungan dengan media merupakan bidang tersendiri di luar humas.
Hal ini bukanlah sesuatu yang perlu menjadi perdebatan. Toh, esensinya media relations adalah bagaimana seorang humas yang menjadi wakil sebuah lembaga untuk berhubungan dengan media ataupun wartawan, harus juga mengetahui bagaimana pola hubungan yang ideal.
Untuk itulah, dalam rangka pengembangan peran dan fungsi humas dalam lembaga pemerintahan di Timor Leste, khuusnya dalam lingkungan kementrian keuangan negera tersebut, penulis ditunjuk menjadi salah satu nara sumber untuk memaparkan seluk beluk “Media Relations”. Adapun acara tersebut bertajuk “Media Strategy for Communication” yang diselengarakan Ministry of Planning and Finance Democratic Republic of Timor-Leste, diadakan di Jakarta, 12-17 November 2018.
Negara yang pada 2018 berpopulasi sekitar 1,3 juta jiwa tersebut memandang perlu menggali lebih banyak soal ilmu kehumasan di Indonesia. Maklum saja usia kemerdekaannya yang masih seumur jagung memang menuntut mereka harus banyak belajar kepada negara-negara tetangga. Terutama dengan Indonesia yang secara historis punya kedekatan emosional.
Faktanya, seperti diungkapkan para staf Ministry of Planning and Finance Democratic Republic of Timor-Leste, jumlah media di negara ini belum banyak. Terhitung yang bisa diperhitungkan eksistensinya ada lima media. Itupun termasuk semua kategori media. Televisi, cetak, online dan radio. Kegiatan kehumasan secara umum juga belum terstruktur. Walaupun beberapa bentuk kegiatannya sudah sering dilakukan. Pers juga masih sangat pasif terhadap pemuatan berita menyangkut kepemerintahan. Regulasi media online dan internet sementara ini belum direalisasi.
Lalu apa saja yang dipaparkan dalam event tersebut, Anda yang berminat membacanya dapat mengunduh modul berjudul “Media Relations: Harmonisasi Humas dan Media Massa”, di tautan ini: DOWNLOAD
The post Saat Timor Leste Menggali Ilmu Media Relations di Indonesia appeared first on yogasdesign.
]]>The post Viral Marketing dan Content Spreading, Mana Lebih Menguntungkan? appeared first on yogasdesign.
]]>
https://pikwizard.com
Kemajemukan konten media yang tersebar di dunia maya mau tak mau membuat praktisi komunikasi maupun pemasaran harus menemukan formula baru lagi. Dengan mengambil inspirasi dari keberadaan viral marketing, metode penyebaran pesan juga bisa di proses turunan tujuan komunikasinya. Salah satu yang mengemuka adalah dengan “cukup” membenamkan tujuan tersebar luas tanpa terbebani misi untuk viral. Atau degan kata lain disapa dengan istilah content spreading.
Seperti apa persisnya? Intinya adalah membuat konten atau muatan materi yang dimiliki satu institusi ataupun brand seluas mungkin terlihat oleh publik yang sudah ditentukan segmennya. Content spreading tidak memfokuskan pada tujuan “link click” maupun dibagi-bagikan ulangnya konten oleh publik. Konten yang termuat memang tak sekadar tautan berita ataupun segala jenis media seperti foto dan video, tapi juga bermacam brand maupun corporate activity, seperti penyelenggaraan event, CSR activity, creative content, dll. Relatif tidak ada perbedaan dengan muatan konten pada aktifitas viral marketing.
Membuat publik sasaran aware dengan keberadaan brand adalah default objective yang menjadi dasar dilakukannya content spreading. Dari situ bisa disisipkan juga beberapa tujuan komunikasi yang ingin disampaikan. Seperti memperlihatkan eksistensi kepada rekanan bisnis seperti calon sponsor atau bahkan calon investor.
Nampaknya memang metode content spreading ini menjadi lebih tepat guna dibanding viral marketing dalam tujuan pemasaran yang berbeda. Viral marketing lebih menitikberatkan pada tujuan web visitor dan aktifitas membagikan ulang konten yang diproduksi, termasuk juga biasanya berujung pada percepatan angka-angka pada media analytic data, dan kemudian juga sedikit banyak berpengaruh pada pengakuan publik terhadap brand maupun produk.
Dalam content spreading aktifitas yang dilakukan seperti tidak mempedulikan tujuan “link click” ataupun menggantungkan harapan kepada publik untuk membagikan ulang . Yang dilakukan adalah mengusahakan agar publik yang berkepentingan ataupun punya korelasi dengan brand terjangkau dalam aktifitas penyebaran pesan. Apakah nantinya sekadar melihat dalam timeline media sosial sambil lewat, atau beraktifitas lebih dalam dengan melalukan investigasi terhadap eksistensi brand tersebut. Dari sini jelas bahwa formula ini lebih cocok untuk aktifitas branding, atau yang banyak didefiniskan sebagai proses membenamkan brand pada benak dan hati konsumen melalui berbagai cara yang memberikan dampak bagi kehidupan konsumen tersebut. Lalu biasanya dilanjutkan dengan menjalankan program positioning.
Memang, content spreading ini akan lebih banyak upaya melakukan sendiri aktifitas penyebarannya. Utamanya dengan menggunakan social media ads dengan memilah-milah audiens yang dituju secara spesifik. Selain itu saluran komunikasi dengan chat engine yang sudah menyediakan fitur group chat ataupun channel, bisa membantu perluasan sebaran konten. Dari jenis kelamin, usia, personal interest, geografi, dan tentunya pekerjaan. Dalam viral marketing, selain juga mengandalkan social media booster, upaya yang paling banyak meguras tenaga adalah kreatifitas dan perencanaan konten yang terbebani dengan misi viral. Keharusan untuk memenuhi standard konten berpotensi viral pun belum tentu punya hasil yang signifikan.
Dari paparan sederhana ini, secara umum dapat diasumsikan bahwa viral marketing lebih mengadopsi prinsip hard selling, sedangkan content spreading pada prinsip soft selling. Jadi, tak usah kecewa lagi bagi yang gagal dalam merancang viral content, karena masih banyak varian-varian ataupun formula baru dalam rangka membesarkan brand maupun nama korporasi tanpa harus “mengemis” dalam lingakaran dunia viral.
The post Viral Marketing dan Content Spreading, Mana Lebih Menguntungkan? appeared first on yogasdesign.
]]>The post Platform Digital Tak Sekadar untuk Berpindah Ruang appeared first on yogasdesign.
]]>
Photo by Domenico Loia on Unsplash
Paradigma lama yang mengaitkan media dengan iklan sudah tak relevan. Dapat dipastikan, kue iklan sudah termakan oleh pemain-pemain lama yang sudah besar lebih awal di media per-digitalan. Ada perubahan-perubahan cara berbisnis yang besar. Maka tak heran, bagi mereka yang memanfaatkan platform digital tanpa merubah cara pandang menjalankan bisnis media akhirnya hanya jalan di tempat.
Apalagi dengan anggapan bahwa dengan memanfaatkan platform digital maka investasi semakin kecil. Asumsi ini justru akan menyesatkan saat media tersebut dijalankan. Bagaikan menjelajahi hutan baru dengan cara yang dilakukan di hutan lama yang telah ditinggalkan. Maka, berpikirlah dengan cara digital. Lebih luas, lebih cepat, dan tentunya inovatif.
Di samping itu, nampaknya digitalisasi juga berdampak pada urusan personal. Utamanya bagi para profesional yang sedang melakukan positioning. Kalau dahulu disibukkan dengan beredarnya kartu nama untuk menyosialisasikan eksistensi, plus tentengan portfolio yang sering membuat tulang lebih cepat terkena osteoporosis.
Saat ini, jangankan potfolio, bahkan untuk membawa-bawa laptop berisi kumpulan bukti kerja juga sudah mulai terlihat “so yesterday”. Nah, personal website dengan kemampuannya menjangkau publik tak terkendala jarak dan waktu, adalah “senapan” utama bagi mereka yang masih ingin bertempur di era tanpa dinding ini.
Juga perlu diingat dalam memanfaatkan platform digital, hadirnya pola pandang mobile first yang merupakan implementasi dari pengembangan life in hand. Bahwa hampir semua aktifitas keseharian bisa dikatakan terkendali hanya dengan menggerakkan jari-jari pada perangkat yg menempel di tangan. Di era booming-nya laptop, menyusul gelombang besar internet, publik menjadi dimanja oleh kemampuan perangkat serba bisa berbasis komputasi. Kemudian hadir pula penyempurnaan pada perangkat yg lebih compact. Handphone yg membelah batasan-batasan komunikasi menjelma menjadi mini assistant.
Kehadiran smart gadget tak terelakkan. Perangkat dengan multifungsi itupun terus berkembang melangkahi produk-produk teknologi digital lainnya. Kehadiran Blackberry bagaikan petir bagi handphone standar yang sudah lama akrab di publik. Lalu kedatangan komputer tablet iPad di 2010 juga banyak merubah kebiasaan-kebiasaan orang sehari-hari. Dari bekerja, berkomunikasi hingga menghibur diri.
Tapi apa daya, teknologi berkembang sangat cepat dan tak terduga. Dua perangkat yg mencengangkan dunia itu, Blackberry dan iPad, tak sampai berumur 10 tahun menjadi idola. Pengembangan software, bahasa web dan layar menjadikan smartphone yang berkategori big screen melibasnya tanpa ampun. Dengan fitur-fitur yg mendukung gaya hidup multitasking menjadikannya idola pengganti yang lebih dicintai, hingga mencapai titik dimana hal pertama yg dilihat saat bangun tidur adalah perangkat mobile. Dan tentunya untuk urusan mendapatkan informasi, sudah tentu memanfaatkan platform digital dengan perangkat yang ada di tanganlah menjadi andalan.**
The post Platform Digital Tak Sekadar untuk Berpindah Ruang appeared first on yogasdesign.
]]>The post Penggunaan Konten Kreatif di Jagad Internet appeared first on yogasdesign.
]]>
unsplash.com/luis-llerena
Ini sah-sah saja jika semua dilakukan sesuai dengan koridornya. Penghargaan terhadap karya kreatif orang lain haruslah menjadi dasar penggunaan materi-materi kreatif itu. Dengan sekali googling dengan menggunakan kata kunci yang diinginkan dalam rangka penggunaan konten kreatif, bisa terlihat tersedianya materi-materi tersebut. Berupa piksel atau foto, vector, audiovisual atau multi media.
Tapi permasalahann yang ada dalam penggunaan konten kreatif, masih ada atau bahkan banyak yang lalai memperhatikan segi lisensi dari materi-materi yang tersedia. Apalagi bagi mereka yang minim dalam anggaran untuk melakukan transaksi pembelian konten kreatif. Dengan menganggap bahwa keberadaan materi yang bertebaran di internet sebagai milik bersama adalah langkah yang tidak tepat.
Memang, materi-materi kreatif itu bergentayangan di belantara internet. Tapi bukan asal berada, mereka juga punya pemilik dan mempunyai kategori lisensi sendiri-sendiri. Ada yang bebas digunakan tanpa ijin ataupun menyertakan credit title, ada yang boleh digunakan dan dimodifikasi tapi menyertakan credit title, ada pula yang tidak boleh dihunakan tanpa seijin dari empunya.
Lalu bagaimana kita tahu mengenai kategori yang terkandung dalam materi-materi itu dalam penggunaan konten kreatif? Untuk yang paling mudah, saat melalukan pencarian materi lewat “Google Image” misalnya, ada fitur “tools” disana. Kliklah fitur itu maka akan keluar sub fitur “Usage Rights”. Dari sub fitur, pilihlah kategori-kategori yang teresedia:

Kategori yang ada pada fitur “tools” di Google search tersebut hanyalah penyerdahanaan dari search engine. Secara spesifik para pengguna materi juga harus mempelajari detail dari lisensi yang ada. Kalau kita membuka situs-situs penyedia konten kreatif sepert flickr.com, freepik.com, freeimages.com, pexels.com, capitaldvstudio.com, audiomicro.com, freewebsitetemplates.com atau dryicons.com misalnya, jangan lupa untuk menyimak term & conditions atau disclaimer dari penggunaan konten tersebut.
Ada dari beberapa situs yang langsung menyantumkan aturan penggunaan konten kreatif, ada pula yang status lisensinya tercantum per-materi yang ada dalam situs tersebut. Dalam situs wikipedia.com bisa dipastikan jika ada materi foto misalnya, selalu memberi keterangan tentang status lisensi, sumber foto, dan juga pengunggahnya.
Dari kebanyakan situs-situs penyedia konten kreatif, memang bisa dikatakan memberikan panduan dengan menggunakan standar “Creative Commons”. Apa itu “Creative Commons”? Dalam situs resminya, diterangkan:
“Lisensi hak cipta Creative Commons dan alat-alatnya membentuk keseimbangan dalam pengaturan tradisional yang ada pada hukum hak cipta. Alat kami memberikan setiap orang, dari pencipta individu sampai dengan perusahaan dan lembaga besar, cara sederhana standar untuk memberikan izin hak cipta atas ciptaan kreatif mereka. Kombinasi dari alat-alat dan pengguna kami adalah kumpulan komunitas digital yang luas dan berkembang, kolam konten yang dapat disalin, didistribusikan, digubah, dan dibuat ciptaan turunannya, dan semua dalam batas-batas hukum hak cipta.”
Apa saja kategori-kategori lisensi yang dikeluarkan “Creative Commons”?
Public Domain
CC0
![]()
CC0 memungkinkan ilmuwan, pendidik, artis dan lainnya pencipta dan pemilik konten yang dilindungi hak cipta untuk melepaskan kepentingan mereka dalam pekerjaan mereka dan dengan demikian menempatkannya dalam domain publik, sehingga orang lain dapat dengan bebas menggunakannya, mengolahnya kembali untuk tujuan apapun tanpa batasan undang-undang hak cipta.
Atribusi
CC BY
![]()
Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan, bahkan untuk kepentingan komersial, selama mereka mencantumkan kredit kepada Anda atas ciptaan asli. Lisensi ini adalah lisensi yang paling bebas. Direkomendasikan untuk penyebarluasan secara maksimal dan penggunaan materi berlisensi.
Atribusi-BerbagiSerupa
CC BY-SA
![]()
Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bahkan untuk kepentingan komersial, selama mereka mencantumkan kredit kepada Anda dan melisensikan ciptaan turunan di bawah syarat yang serupa. Lisensi ini seringkali disamakan dengan lisensi “copyleft” pada perangkat lunak bebas dan terbuka. Seluruh ciptaan turunan dari ciptaan Anda akan memiliki lisensi yang sama, sehingga setiap ciptaan turunan dapat digunakan untuk kepentingan komersial. Lisensi ini digunakan oleh Wikipedia, dan direkomendasikan untuk materi-materi yang berasal dari penghimpunan materi Wikipedia dan proyek dengan lisensi serupa.
Atribusi-NonKomersial
CC BY-NC
![]()
Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, dan walau mereka harus mencantumkan kredit kepada Anda dan tidak dapat memperoleh keuntungan komersial, mereka tidak harus melisensikan ciptaan turunan dengan syarat yang sama dengan ciptaan asli.
Atribusi-TanpaTurunan
CC BY-ND
![]()
Lisensi ini mengizinkan penyebarluasan ulang, baik untuk kepentingan komersial maupun nonkomersial, selama bentuk ciptaan tidak diubah dan utuh, dengan pemberian kredit kepada Anda.
Atribusi-NonKomersial-BerbagiSerupa
CC BY-NC-SA
![]()
Lisensi ini mengizinkan setiap orang untuk menggubah, memperbaiki, dan membuat ciptaan turunan bukan untuk kepentingan komersial, selama mereka mencantumkan kredit kepada Anda dan melisensikan ciptaan turunan dengan syarat yang serupa dengan ciptaan asli.
Atribusi-NonKomersial-TanpaTurunan
CC BY-NC-ND
![]()
Lisensi ini adalah lisensi yang paling ketat dari enam lisensi utama, hanya mengizinkan orang lain untuk mengunduh ciptaan Anda dan membaginya dengan orang lain selama mereka mencantumkan kredit kepada Anda, tetapi mereka tidak dapat mengubahnya dengan cara apapun atau menggunakannya untuk kepentingan komersial.
Untuk lebih detail lagi bisa mengunjungi situs resmi creativecommons.org
Dengan mengetahui kategori-kategori lisensi yang umum dan banyak dipakai itu, kita bisa menghindar dari penyalahgunaan konten kreatif ataupun materi milik orang lain, dan pastinya berkekuatan hukum sehingga tidak membuka peluang terjadinya tuntutan dari pemilik aslinya. Dan tentu saja bagi pengunggah konten, dengan mendaftarkan atau menggunakan kategori lisensi yang diambil, ini berarti bersedia bertanggung jawab atas status lisensi tersebut.**
The post Penggunaan Konten Kreatif di Jagad Internet appeared first on yogasdesign.
]]>The post SENDAL’91, Mengemas Charity Event dalam Kegiatan Reuni appeared first on yogasdesign.
]]>
Hal ini juga berlaku ketika banyak brand atau perusahaan-perusahaan yang gemar menjadikan lembaga-lembaga sosial nirlaba sebagai partner dalam menjalankan program marketing maupun public relations. Tentunya sasarannya adalah kegiatan-kegiatan charity ataupun bakti sosial yang menyertakan beberapa unit kegiatan dengan benang merah sama.
Salah satu contoh adalah kegiatan atau event yang dilakukan oleh komuitas SENDAL’91, sebuah komunitas berbasis alamamater kampus. Adalah almamater Kampus Tercinta IISIP Jakarta angkatan tahun 1991 yang menjadi motor komunitas tersebut. Dalam merayakan reuni perak yang diberi tajuk SENDAL’91 Silver Reunion, hampir semua rangkaian kegiatannya yang dimulai pada 25 November dan dipuncaki pada 26 November 2016 ini adalah bakti sosial. Kunjungan serta donasi ke Wisma Tunaganda Palsigunung, Cimanggis, Jawa Barat, lalu bersih-bersih kampus sebagai bentuk kepedulian terhadap lingkungan, donasi alat-alat kebersihan dan penanaman pohon di lingkungan kampus yang berada di kawasan Lenteng Agung, Jakarta Selatan. Kemudian pemeriksaan kesehatan gratis, donor darah, serta donasi atau santunan anak Yatim-Piatu.
Rangkaian kegiatan itu ternyata menjadi USP (Unique Selling Point) tersendiri bagi penyelenggara untuk menghimpun dukungan para donatur sesama almamater dan dari lembaga-lembaga terkait. Selain penjualan kaos yang keuntungannya dijadikan sumber donasi dan pembiayaan kegiatan, dari Unilever didapatkan puluhan paket berisi perawatan tubuh untuk didonasikan kepada Wisma Tunaganda. Lalu Dinas Kebersihan DKI Jakarta yang antusias menyumbangkan ratusan peralatan kebersihan seperti sapu, pengki hingga gerobak mini.
Belum lagi dari IMS (Islamic Medical Services) yang berinisiatif menyediakan jasa pemeriksaan kesehatan gratis bagi warga sekitar kampus dan mahasiswa. Begitupula dengan PMI (Palang Merah Indonesia) juga ikut serta dalam event ini dengan membuka stand donor darah. Tak kalah antusias adalah Dinas Pertanian Pemprov DKI Jakarta yang menyumbangkan benih-benih pohon buah unggulan. Tak ketinggalan dari KALCare yang memberikan puluhan lembar cuma-cuma voucher pemeriksaan kesehatan gratis, serta PT. Singa Mas yang menyumbangkan produk minuman ringan untuk dikonsumsi pada event tersebut.
[Best_Wordpress_Gallery id=”20″ gal_title=”SENDAL91 SIlver Reunion”]
Event SENDAL’91 Silver Reunion yang lekat dengan kegaiatan bakti sosial ini terbukti sukses dalam penyelenggaraannya. Antusiasme almamater yang datang tak hanya berlaku pada angkatan yang terkait, tapi juga angakatan-angkatan lain yang hadir dengan membawa semangat berbagi untuk mengikuti rangkaian kegiatan sosial yang ada. Acara puncak pun yang dilakukan sederhana dengan melakukan potong 25 tumpeng bersama rektor dan jajaran staff IISIP Jakarta, dilanjutkan dengan makan bersama dan ramah tamah serta hiburan musik unplugged. Hampir setiap sudut venue yang digunakan untuk acara tersebut diisi oleh mereka yang melepas kerinduan.
Kebahagiaan yang luar biasa terasa dan terlihat adalah di saat event sedang berjalan dan sesudah selesai, mereka yang hadir di acara itu terus mem-posting dan membagikan foto-foto beserta ungkapan kebahagiaannya di media sosial, bahkan hingga mencapai lima hari berturut-turut. Perilaku bermedia sosial ini seakan menjadi “hidden partner” bagi penyelengara untuk melakukan publikasi kegiatan reuni berformat bakti sosial dan amal ini.
Lalu apa kunci dari suksesnya penyelenggaraan charity event seperti SENDAL’91 Silver Reunion hingga mendapat dukungan banyak pihak?
Dari kunci-kunci di atas, maka diharapkan kepercayaan para alamamater yang juga ikut berdonasi dan pihak-pihak lain di luar almamater yang telah memberi kepercayaan kepada penyelenggara, dapat dengan jelas mendapatkan hasil nyata. Baik dalam rangka amal kegiatan sosial maupun membangun citra baik di masayarakat.Dan tentunya ikatan persahabatan di lingkungan sesama almamater yang semakin erat.*
The post SENDAL’91, Mengemas Charity Event dalam Kegiatan Reuni appeared first on yogasdesign.
]]>The post Proses Produksi Media: Memangkas Mata Rantai appeared first on yogasdesign.
]]>
pexels.com
Efek perubahan cepat di dunia digital tak hanya sekadar pergantian perangkat mobile satu ke yang lainnya dengan penyempurnaan produk. Tapi juga banyaknya perubahan di sektor perangkat lunak untuk keperluan proses produksi media. Di jelang akhir tahun 2015 salah satu raja software dunia, Adobe melakukan perubahan mendasar pada salah satu produknya. Perangkat lunak yang menjadi perbincangan para penerbit media bertajuk Digital Publishing Suite yang pada awalnya dikeluarkan untuk melayani tren penggunaan iPad besutan Apple yang mendorong tercetusnya interactive digital media, akhirnya lagi-lagi mendapat sentuhan baru dan menjadi Digital Publishing Solution.
Di tanah air, produk interactive digital media yang tadinya diharapkan booming dan dapat diandalkan sebagai bentuk pergeseran platform, ternyata tak berjalan sesuai yang diharapkan. Walaupun faktanya untuk kepentingan korporasi ternyata masih diminati. Hal inipun juga terjadi dalam skala dunia. Beberapa media cetak yang bergegas merubah platform menjadi interactive digital media tak urung menemui jalan buntu, terutama dari sisi komersil dan akhirnya merambat juga ke wilayah pembaca.
Harus diakui pula bahwa produk media dalam bentuk website masih lebih diminati. Lebih simpel tidak memakan storage gawai, dan dalam segi kecepatan arus informasi juga tak terbantahkan, data analytic yang akurat, dan tentunya juga proses produksi media yang menyangkut konten dan sistem kerjanya yang lebih simpel dan cepat. Apalagi diperkuat dengan keluarnya aplikasi-aplikasi yang sebenarnya difungsikan sebagai shortcut menuju halaman web tanpa harus menggunakan browser.
Perusahaan kelas dunia sekelas Adobe pada kala itu menyadari bahwa proses produksi yang berlaku dalam membuat interactive digital media nyatanya masih berkisar perubahan jenis mesin. Dari mesin cetak ke mesin digital publishing. Dari produk akhir berbentuk cetak menjadi berbentuk digital. Tapi lapisan-lapisan pekerjaannya belum terbilang memangkas banyak tahap. Keluwesan format media dalam melayani perkembangan teknologi layar di berbagai perangkat digital juga menjadi pertimbangan. Hal inilah yang mendorong terjadinya lagi perubahan signifikan pada software yang digunakan dalam produksi digital publishing.
Proses produksi media dengan tahap seringkas mungkin, dapat mendukung kebutuhan user dalam menikmati media di berbagai perangkat dan kemudahan mengakses adalah hal yang menjadi perhatian utama. Beruntunglah keberadaan bahasa web baru HTML5 sudah ikut berkembang sedemikian cepat. Kemampuannya yang memudahkan para web developer membuat web yang dapat beradaptasi dengan berbagai ukuran layar gawai, menjadikan tren responsive web design lebih banyak dan cepat diterima para penikmat media digital.
Di sini user bebas memilih untuk melihat, membaca, menikmati produk digital media di berbagai jenis perangkat. Desktop computer, tablet computer atau smartphone, semua dengan lentur tanpa harus melakukan aktifitas zooming, dapat dinikmati oleh mata dengan mudah dan tentunya shareable ke media-media sosial.

pexels.com
Lalu proses pra produksi yang menyertakan para tenaga kreatif seperti penulis, desainer, ataupun fotografer dan lainnya juga menjadi lebih ringkas. Lapisan-lapisan pekerjaan yang terkesan bertele-tele hingga membutuhkan waktu yang tak sedikit sudah tak diminati. Jika semua proses produksi media seperti digital publishing harus melalui tahapan yang nyaris sama dengan produksi media konvensional, maka kini banyak yang dipangkas.
Ada berita, ada info, ada foto siap tayang, upload, internal review hanya lewat browser, lalu publish langsung untuk kebutuhan user di berbagai penggunaan gawai melalui browser ataupu aplikasi. Ya, seringkas itu. Tidak lagi melewati proses layout yang memakan waktu dan dilakukan terpisah untuk setiap jenis perangkat yang dituju, lalu menguploadnya ke server atau cloud, kemudaian dilakukan local review dengan terlebih dahulu mendownload aplikasi khusus, dan setelah itu barulah diterbitakan dengan terlebih dahulu mengakses publishing engine yang terhubung ke server atau cloud, kemudian user harus mendownload aplikasinya sebelum mendownload media per terbit.
Dari uraian di atas, secara prinsip akhirnya memang produk media digital, baik berbentuk publishing ataupun web portal , termasuk e-commerce, harus mempunyai kemampuan memotong mata rantai. Baik itu di wilayah proses produksi media maupun pengiriman konten, penyampaian info kepada publik calon pembaca atau pengguna. Banyaknya lapisan-lapisan proses yang bisa dihilangkan akan semakin mempercepat konten media digital untuk dapat dinikmati publik.
Tengoklah yang juga dilakukan perusahaan yang masyhur sebagai penyedia template desain web, WordPress. Kini template yang disediakan sudah berkategori responsive web design, lalu untuk CMS (Content Management System) yang dikenal dengan nama Dashboard, juga sudah mobile freindly. Hanya dengan menggunakan smartphone proses produksi media berbentuk website sudah bisa dilakukan.
Atau kalau kita bicara e-commerce yang dipraktikkan situs-situs online shopping. Prinsip kerjanya dapat diserap untuk kebutuhan bidang komersil dari penerbit media. Semua transaksi gaya konvensional yang terkesan birokratis dan bertumpuk selayaknya dipangkas dengan kemudahan-kemudahan yang disajikan platform digital. Tidak bergantung pada lokasi, kemudahan memesan tanpa tawar menawar, memilih tanpa harus mengunjungi toko, pengiriman yang cepat, adalah hal-hal mendasar yang bisa jadi acuan.
Jadi, pikirkanlah bagaimana cara memotong mata rantai di saat ingin membenamkan diri pada industri media digital. It is not so easy. But this should be done.**
The post Proses Produksi Media: Memangkas Mata Rantai appeared first on yogasdesign.
]]>The post Generasi Digital, Sambut Kehadirannya, Bukan Dihindari appeared first on yogasdesign.
]]>
pixabay.com
Datangnya generasi digital mau tak mau mengubah banyak cara dalam menjalani keseharian, termasuk berbisnis tentunya. Kebiasaan-kebiasaan di masyarakat pada masa lalu banyak yang ditinggalkan. Salah satu yang terlihat adalah kebiasaan maupun cara-cara menerima, mendapatkan, menyimak, membaca dan menikmati informasi.
Media-media informasi konservatif (begitu kata mereka yang sudah melek digital), seperti koran, majalah, buku bahkan hingga radio dan tivi sudah tergeser oleh gawai yang simpel digenggam dan multi fungsi ataupun berbentuk desktop PC atau laptop dengan segala kelebihannya. Tentu kesemuanya menjadi mutlak terhubung dengan internet sebagai produk dasar dari meroketnya platform digital media. Soal internet, bayangkan saja, menjelang akhir 2016 dalam skala dunia tercatat 3 milyar lebih pengguna internet, 1 milyar lebih website yang terbangun dan dalam skala Indonesia tercatat 53 ribu lebih pengguna internet (sumber: internetlivestats.com).
Ya, digital media yang begitu akrab dengan internet menjadi primadona baru bagi generasi digital. TIdak hanya mereka yang tergolong sebagai digital native (generasi yang menikmati keberadaan media digital tanpa mengalami kebutuhan terhadap media konvensional), tapi juga para digital immigrant (mereka yang pernah berkebutuhan terhadap media konvensional dan sekarang beralih ke media digital).
Keunggulan media-media digital, termasuk media sosial yang datang sebagai pemain baru di industri media, memang terasa dalam menjalankan hampir semua sisi keseharian. Dari kebutuhan berita, tutorial masak-memasak, pengkajian ilmu agama, live tv, radio streaming, komunikasi suara dan antar muka, hingga transportasi. Kesemuanya walaupun keberadaan desktop PC ataupun laptop masih banyak dipakai dalam bekerja, bisa dikatakan hanya butuh gawai yang akrab digenggam tangan, tersambung internet, lalu berselancar melalui browser maupun menanamkan aplikasi-aplikasi yang sudah sangat beragam melayani segala kebutuhan.
Perilaku masayakat modern saat ini sudah sangat berubah. Ketergantungan terhadap perangkat-perangkat digital begitu tinggi. Aktivitas yang luar biasa sibuk dan lebih banyak bergerak ketimbang berleha-leha di kantor ataupun rumah, membuat mereka sangat terbantu dengan keberadaan perangkat media digital. Dimana saja, kapan saja, dengan sambungan internet yang kini terus berkembang teknologinya, kebutuhan aktivitas sehari-hari dapat mudah dan cepat terpenuhi.
Seorang direktur marketing senior di sebuah perusahan media pernah komplain kepada staff-nya karena tugas membuat paket penjualan iklan dianggap terlalu melayani generasi digital. “Saya masih kok suka baca majalah cetak dan lihat tivi di rumah. Jadi harusnya kalian tidak usah sok-sokan lebih banyak merekomendasi media digital segala,” tegasnya. Lalu apa jawab staff-nya? “Loh, kita memang membuat program pemasaran ini dengan melihat kecenderungan kebiasaan-kebiasaan di khalayak umum yang sudah berubah. Kalau kita kembali lagi ke masa yang sedang dan sudah ditingalkan, lalu lama-lama kita pun akan ikut ditinggalkan, Kita tidak selayaknya memendang selera maupun kebiasaan pasar dari sisi diri kita sendiri.” jelas staff itu.
Tengoklah perilaku para remaja usia pendidikan yang sudah fasih menghasilkan uang hanya dengan menjadi “Youtuber” atau “Instagramer”. Berbagai bakat dan potensi dengan mudah terpublikasi massal. Atau lihat pula betapa raja media sosial Facebook mengeluarkan program “Facebook for business” yang berhasil mendorong pertumbuhan UMKM (Usaha Mikro Kecil Menengah) dengan kemudahan dan fleksibelitas Ads Manager-nya.
Banyak perusahaan-perusahaan dengan gaya konvensional akhirnya tergopoh-gopoh menjangkau target omset yang diharapkan. Ketidaktepatan menyasar pasar yang sedang berkembang dan melesetnya cara-cara berbisnis yang sudah usang adalah bumerang yang akan menjadi badai bagi keberlangsungan hidup perusahaan. Generasi yang sekarang sedang datang dan yang akan datang adalah mereka yang hadir dalam kondisi semua sudah mulai didigitalisasi. Jalur-jalur dan metode untuk mendapatkan atau mencari informasi menjadi bersifat persoanal. Lalu mengapa justru masih banyak yang bertahan pada kejayaan gaya masa lalu?
Contoh yang dilakukan Instagram, yang tiba-tiba mengganti logonya yang lebih kaya warna, kontras, dan berani meninggalkan logo lama bergaya retro. Walaupun sempat banyak yang komplain tapi terbukti justru peminat yang membuka akun instagram malah semakin meningkat, bahkan mulai dari pelajar tingkat sekolah dasar. Ini karena Instagram sudah memikirkan generasi digital yang sedang datang dan akan datang, lalu menganggap pelayanan terhadap digital immigrant sudah selesai, karena masa depan bisnis digital ini ada di pundak para digital native.
Tentu masih ingat, raja handphone dunia, Nokia dan penguasa mesin chat massal, Blackberry, yang akhirnya tumbang ditelan arus deras perubahan tren digital. Sebab apa? Salah satu yang utama adalah karena ekspetasi generasi digital yang tak berhasil mereka penuhi.**
The post Generasi Digital, Sambut Kehadirannya, Bukan Dihindari appeared first on yogasdesign.
]]>The post Viral Marketing dan Efektifitas Penyebaran Pesan appeared first on yogasdesign.
]]>
pixabay.com
Istilah viral marketing ini bisa dikatakan dipopulerkan oleh Tim Draper dan Steve Jurvetson dari perusahaan venture capital, Draper Fisher Jurvetson di tahun 1997 untuk menjelaskan kesuksesan marketing Hotmail sebagai email provider. Viral marketing juga dikenal dengan beberapa istilah seperti marketing buzz atau viral advertising. Pada prinsipnya viral marketing adalah teknik pemasaran dengan menggunakan social network untuk menyampaikan pesan kepada target audience. Adapun proses dari viral marketing ini diungkapkan beberapa ahli marketing sebagai proses yang mirip dengan penyebaran virus.
Maka dapatlah diuraikan juga bahwa viral marketing sebenarnya adalah adopsi dari sistem pemasaran jaringan. Dimana sistem ini menggunakan kekuatan duplikasi. Kegiatan dalam viral marketing banyak ditujukan untuk membuat marketing (pemasaran) dapat menyebar dalam waktu singkat tanpa harus menggunakan usaha promosi pemasaran yang tergolong besar-besaran.
Lalu apa saja faktor penting dari viral marketing? Beberapa ahli pemasaran menguraikannya sebagai berikut:
Kemudian, untuk melakukan viral marketing, bagaimana harus memulai? Simak beberapa hal ini:
The post Viral Marketing dan Efektifitas Penyebaran Pesan appeared first on yogasdesign.
]]>